
"Assalamualaikum"
"Papa,,,,, Mama,,,,,"
Angga dan Zara yang baru saja sampai di rumah keluarga Pak Dermawan langsung di sambut dengan suka cita oleh putra mereka , Rangga. Saat itu Rangga tengah bermain di ruang tamu bersama opanya.
"Wa'alaikumsalam" Jawab pak Dermawan melihat ke arah pintu ada Angga dan Zara . Rangga pun langsung berhambur memeluk mamanya
"Mama rindu sekali sama Rangga,,," ucap Zara saat memeluk erat putranya
"Langga juga lindu mama dan papa" jawab Rangga tak kalah erat membalas pelukan sang mama. Karena baru kali ini dia berpisah dengan mamanya.
"Kok cuma mama yang di peluk? papa kan juga kangen sama Rangga" ucap Angga dengan nada terdengar merajuk.
Rangga melepaskan pelukannya pada sang mama, lalu bocah tampan itu beralih memeluk papanya
"Pa,," ucap Rangga saat masih berada di pelukan papanya
"Iya sayang, ada apa?" tanya Angga, lalu papa muda itu melepas pelukannya dan menatap putranya
"Dimana adik Langga? katanya papa dan mama buatin adik untuk langga?" tanya Rangga dengan wajah polosnya.
Wajah Angga dan Zara tiba tiba pias, sedang pak Dermawan terlihat sedang menahan tawa.
"Ada ada saja pertanyaan Rangga, mana bisa adiknya langsung keluar dalam semalam?" batin pak Dermawan tertawa sendiri di dalam hati
"Adik?" tanya Angga sambil menggaruk kepala
"Kan adiknya baru di buat, belum bisa jadi sekarang, masih harus mengikuti proses yang panjang, baru nanti jadi adiknya Rangga" jawab Zara mencoba memberi pengertian putranya
"Belapa lama ma? Langga tak cabal mau main cama adik langga, adik langga laki laki apa pelempuan?" tanya Rangga lagi
"Kita harus menunggu 9 bulan dulu, baru kita akan tau, adik Rangga laki laki apa perempuan nanti di dalam perut mama" sahut Angga
"Didalam pelut mama?" Rangga beralih melihat perut mamanya yang terlihat rata. Lalu Rangga mendekat dan menempelkan telinganya di depan perut mamanya
"Apa dia bica hidup di dalam cini? apa langga dulu juga pelnah tidul di dalam pelut mama?" tanya Rangga lagi
__ADS_1
"Ya,, dedek bayi bisa hidup di dalam perut mama karena kekuasaan Allah, dulu Rangga juga pernah didalam perut mama selama 9 bulan, setelah itu Rangga lahir ke dunia" Jawab Zara, dengan mengusap kepala putranya. Rangga memiliki rasa keingintahuan yang begitu besar, anak itu sangat cerdas bahkan diusianya yang masih 4 tahun, anak itu sudah pandai berhitung dan membaca dengan lancar.
"Adik, apa kamu ada di dalam?" tanya Rangga pada perut Zara
Semua orang terkekeh melihat apa yang di lakukan Rangga saat itu.
"Anakmu itu begitu pintar, bahkan lebih pintar dari papanya!" ucap pak Dermawan yang bisa menilai saat melihat perkembangan Rangga dan mengingat bagaimana Angga kecil dulu.
Kemudian Angga, Rangga dan Zara berjalan menuju sofa dimana pak Dermawan duduk
"Sepertinya begitu pa, daya tangkapnya sangat tajam, dan rasa ingin tahunya sangat tinggi" jawab Angga
"Iya kamu benar, mama sampai kewalahan saat Rangga bertanya ini dan itu,," sahut mama yang baru saja keluar dari dalam membawa cemilan dan juga minuman untuk Rangga dan pak Dermawan yang tadi tengah bermain
"Apa kamu menyusahkan oma dan opa?" tanya Zara pada Rangga yang tengah duduk di pangkuan papanya
"Langga laca tidak" jawab Rangga
"Tidak,, dia tidak menyusahkan kami, tapi malah menghibur kami karena celotehnya" sambung Ibu Marissa
"Anak papa memang jagoan!" Angga mengusap usap rambut Rangga dengan sayang. Zara sangat bersyukur karena dia dan Rangga dapat di terima dengan sangat baik oleh keluarga itu, meski dia bukan dari kalangan orang berada seperti mereka.
"Kalian pasti belum makan siang kan? Zara, temani suamimu makan siang. Kami sudah makan tadi" ucap Ibu Marissa
Zara menatap Angga dan papa muda itu membalas tatapannya
"Liora kemana ma?" tanya Angga
"Ada di kamar,,," jawab mama
"Oh ya sudah kalau begitu kami makan siang dulu. Rangga mau ikut makan lagi sama papa dan mama?" tanya Angga
"Tidak pa, Langga cudah makan ciang tadi cama Oma, Opa dan aunty" jawab Rangga
"Oke, papa dan mama makan dulu ya" ucap Angga dan Rangga langsung turun dari pangkuan papanya
"Iya,, mama makan yang banak yah,, biar adik Langga gak kelapelan di pelut mama" ucap Rangga
__ADS_1
Zara tersenyum lalu mengangguk
"Iya sayang, mama akan makan yang banyak" jawab Zara
"Oke ma,, Langga mau main lagi" jawab Rangga lalu beralih mendekat pada Opa Dermawan. Kemudian Angga menggandeng Zara dan berjalan bersama menuju meja makan.
Setelah selesai makan siang, Angga dan Zara pamit untuk kembali ke rumah sakit untuk kembali bekerja. Rangga tidak keberatan namun dia meminta kedua orang tuanya nanti pulang kerumah itu lagi dan menginap di sana. Rangga ingin tidur bersama papa dan mamanya. Angga dan Zara pun menyetujuinya. Kemudian Angga dan Zara masuk kedalam mobil dan berangkat kerumah sakit lagi.
"Pap, benarkah besok mau memimpin operasi pak Danang?" tanya Zara saat mereka sudah berada di perjalanan menuju kerumah sakit
"Iya,, kamu tau soal itu?" tanya Angga
"Iya, tadi saat mengikuti dokter Yoga memeriksa pasien, Zara masuk juga keruangan pak Danang" jawab Zara
"Ketemu Bryan?!" tanya Angga
"Ya, dan kami beradu mulut! Zara begitu kesal dengan sikap arogan Bryan! pikirannya sangat picik!" cetus Zara
"Awalnya dia dan ibunya menolak jika pak Danang akan di operasi oleh dokter Angga, Mereka bilang bisa saja dokter Angga mencelakai bahkan bisa dengan sengaja membunuh pak Danang. Kan itu gak masuk akal gitu! mana ada dokter yang dengan sengaja ingin membunuh pasiennya, terlebih itu pemilik rumah sakit. Zara gak habis pikir sama mereka! kalau gak sekalian aja Bryan dioperasi isi kepalanya biar gak terus terusan berfikir kotor!" Zara terus bicara mengeluarkan semua kekesalannya.
Angga menghela nafas berat,
"Bener bener gak habis pikir! " sahut Angga
.
.
.
.
.
Aku juga gak habis pikir sama kelakuan bryana! Tunggu aja, sebentar lagi pasti dia kena batunya! batunya yang guedeeeeeee biar dia kegencet langsung gepeng! Hahahahahhhaa 🤣
Eh eh eh, bentar deh, kayaknya Cover Novel ini di ganti 🧐 apa benar gaes? menurut kalian Cover barunya gimana ? 🤔
__ADS_1