
"Tunggu! Suara apa itu?!"
Jantung Zara berdetak begitu cepat, dia takut salah dengar. Tapi rasanya, telinganya masih normal dan berfungsi dengan baik. Tapi tadi?!
Zara menatap sang ibu, namun ibu sama sekali tidak menoleh padanya. Padahal saat ini Zara sedang dilanda kebingungan.
"Kenapa berhenti? ayo cepat keluar Ra,," ucap Ibu
Zara tergugu, dia masih begitu bingung namun terus saja di tarik untuk keluar, hingga dia sampai di ruang tamu dan sungguh membuatnya terkejut.
Terlihat di wajah cantik keterkejutan yang luar biasa, sampai membuatnya tidak bisa berkata apa apa. Dia menggerakkan matanya menyapu satu persatu orang yang ada di ruangan tamu. Terakhir berpusat pada Angga yang saat itu sedang berhadapan dengan pak Bagas dan pria paruh baya yang dia ketahui dulu , pria itu yang menikahkan dirinya dan Bryan.
Tubuh Zara tiba tiba gemetar, mencerna apa yang sedang terjadi sekarang. Di sana juga ada keluarga Angga dan ruang tamu itu bukan tertata seperti biasa. Zara limbung namun segera di tahan oleh ibunya.
"Zara?! Angga langsung berdiri dan menghampiri istrinya
"Mama!" begitu juga dengan Rangga yang langsung berdiri dan menghampiri mamanya
"Ra,, kamu gak papa kan?!" Tanya Ibu
"Ra,,, " Angga menyentuh istrinya dan ikut menahannya agar tidak jatuh. lalu mereka mendudukkan Zara dengan perlahan
"Apa ini semua kak?" tanya Zara pada Angga
"Kita sudah menikah, sekarang kita sudah resmi menjadi suami istri, aku suamimu dan kamu istriku . Ini kejutan untukmu" jawab Angga
"Kakak jahat! kenapa tidak katakan ini sebelumnya?! Zara sudah seperti orang linglung, kebingungan sendiri di dandanin ibu kayak gini!" Zara mencibik saat protes pada suaminya
"Namanya juga kejutan, kalau di kasih tau bukan kejutan namanya" jawab Angga
"Dan Zara sangat terkejut" sahut Zara membuat semua orang tertawa
"Ma,, mama cangat cantik cepelti plincec!" puji Rangga
"Dan kamu lagi, dari tadi kamu kemana?! kenapa gak nemuin mama?! pasti kamu sekongkol juga ya sama papa!," Zara mencubit gemas Rangga yang berada di atas pangkuannya
"Hehehe langga cama papa ma,, mama jangan malah" jawab Zara
"Tidak, mama tidak marah" Zara mengusap lembut wajah putranya.
"Ayo cepat selesaikan proses pernikahannya. Kalian berdua harus menandatangani buku nikahnya" cetus pak Bagas.
__ADS_1
"Ayo kita selesaikan sekarang" ajak Angga dan Zara mengangguk
Kemudian Rangga turun dan Angga membantu Zara untuk kembali berdiri.
"Masih kuat berjalan kan?! apa perlu kakak gendong?" tanya Angga sedikit menggoda Zara
"Kakak"
Angga tersenyum lalu menggandeng Zara untuk duduk di depan bapaknya. Setelah keduanya duduk bersama, Angga dan Zara menandatangani buku nikah bergantian. Setelah itu, Angga memasangkan cincin di jari manis Zara bergantian dengan Zara yang memasangkan cincin di jari Angga. Zara merasa sangat bahagia dan tidak menduga kebahagiaan itu dengan cepat menyapanya. Padahal Zara baru ingin mengatakan pada Angga jika tadi pagi bapaknya sudah memberikan restu, malah dia sendiri yang mendapat kejutan.
Kedua orang tua Zara dan Angga duduk berdampingan di kursi yang sudah di sediakan sebelumnya. Kemudian Angga menuntun Zara untuk sungkem, memohon doa restu pada orang tua mereka. Terdengar isak tangis saat proses itu sedang berlangsung, sedang Rangga, anak kecil itu sedang merekam di otaknya apa yang dia lihat dari orang tuanya.
Beberapa menit setelah acara sungkeman selesai, Zara dan Angga duduk di kursi pelaminan ditemani Rangga di tengah tengah mereka berdua. Mereka pun mengabadikan moment indah itu bersama keluarga dengan berfoto bersama.
Bukan keluarga Dermawan kalau tidak bisa menyiapkan segalanya. Meski acara pagi itu hanya akad nikah saja, tapi makanan untuk mereka santap bersama pun sudah di persiapkan sebelumnya dari kota. Semua keluarga pun tengah menikmati santap bersama.
"Apa kamu bahagia?" tanya Angga saat menggenggam tangan Zara pelan
Wanita itu menoleh dan membalas tatapan suaminya
"Sangat bahagia,, padahal Zara baru mau kasih tau kakak jika Bapak memberikan restunya pada kita, tapi ternyata Kakak malah sudah menikahi Zara" Jawab Zara
"Aku juga bahagia" hanya itu ucapan yang keluar dari mulut pria tampan itu.
"Iyaa, kita semua bahagia. Setelah ini, kita bisa tidur bersama. Karena papa sudah menikah sama mama" ucap Angga
"Tidak tidak,,,," jawab Rangga
"Loh kok tidak?" tanya Angga bingung, pasalnya Rangga sangat ingin mereka bertiga tidur bersama
"Kata oma, Langga haluc tidul cendili. Langga cudah becal. Kata oma, Papa dan mama akan buatkan adik untuk Langga. Langga mau 2 ya pa,, ma,," Ucap Rangga dengan begitu polosnya
Angga dan Zara saling menatap sebentar
"Kata oma ya sayang?" tanya Zara beralih menatap sang ibu mertua yang terlihat sedang senyum senyum pada dirinya
"Iya ma" jawab Rangga
"Baiklah, papa dan mama akan berusaha membuat Adik untuk Rangga, jika Rangga ingin sekali punya adik. Kamu berdoa ya sama Allah, supaya segera punya adik" ucap Angga
"Iya pa, langga akan beldoa nanti" jawabnya.
__ADS_1
"Anak pintar" ucap Angga menyentuh kepala putranya. Lalu Rangga beralih mendekati omanya dan melakukan toss bersama. Angga dan Zara tersenyum saja, pasti Ibu Marissa sudah bicara banyak pada anak kecil itu.
"Tuh, Rangga minta adik, mulai malam ini kita akan mulai proses pembuatannya yah" Bisik Angga membuat Zara geli
"Apa sih kak! lagi rame orang bicara gitu!" Zara mencubit tangan Angga ringan, takut ada orang lain mendengar.
Angga terkekeh saat Zara terlihat malu malu, padahal sudah jelas mereka sama sama mau.
"Uhh gak sabar buka puasa!" Bisik Angga lagi dan membuat Zara menatapnya tajam. Bukannya takut, Angga malah tersenyum manis agar istrinya tidak marah lagi.
Sementara Angga dan Zara sedang menikmati kebahagiaannya, keluarga Pak Danang baru saja sampai di depan rumah pak Arto. Mobil pajeroo putihnya pun parkir begitu gagah didepan halaman tetangga pak Arto bersama motor motor para tamu undangan yang lain. Tidak heran, karena memang sedesa itu hanya pak Danang yang memiliki mobil bagus.
Dengan penuh percaya diri mereka turun bersama, Bryan, pak Danang dan ibunya. Mereka sedikit dibuat terkejut saat melihat ke arah rumah pak Bagas, mereka melihat 3 mobil Alphard hitam 1 dan putih 2 terparkir rapi didepan rumah pak Bagas.
"Apa itu mobil besan mas Bagas? " tanya Ibu Bryan
" Ah pasti bukan!" jawab Bryan
"Ya, pasti hanya sewa mobil mewah biar terlihat kaya!" Sambung pak Danang terdengar meremehkan.
"Ah iya yah, bisa jadi cuma sewa,,, kan di kota banyak rental mobil" ucap Ibu Bryan
Kemudian ketiganya menuju ke rumah pak Arto untuk hadir di undangan keluarga itu lebih dulu, sebelum nanti mereka akan menyempatkan diri berkunjung kerumah pak Bagas, ingin melihat besan barunya.
.
.
.
.
.
Sekate kate kalian bilang mobil rentalan !!!! 😡
.
.
.
__ADS_1
.
Kalian bisa Follow IG othor ye untuk lihat jam jadwal updatenya, @uniramadhani.id