
Rangkaian acara resepsi pernikahan sudah selesai, kini semua tamu undangan di persilahkan untuk menikmati hidangan yang sudah di sediakan. Semua tamu berbaris mengantri, begitu juga dengan Bryan dan keluarga yang ikut berbaris mengantri bersama tamu yang lain.
Karena keluarga pak Dermawan sudah makan sebelumnya saat selesai acara akad nikah Angga dan Zara, jadi mereka memilih untuk duduk dan nanti setelah barisan mengular itu sedikit renggang, mereka akan langsung menemui yang punya hajat.
"Papa bawa amplop?" tanya Ibu Marissa
"Gak bawa,, apa minta ke dalam saja?" tanya pak Dermawan
" Aku bawa doublean,,," kakak Pak Dermawan memberikan amplop putih pada adiknya
"Makasih kak" ucap pak Dermawan pada kakaknya
Lalu Pak Dermawan mengeluarkan dompet dan sedikit bersembunyi di cela ibu Marissa untuk mengambil lembaran uang merah didalam dompetnya. Kemudian pak Dermawan mencabut 5 lembar uang merah dan memasukkannya kedalam amplop.
"Oma itu apa?!" tanya Rangga pada omanya
"Itu kuda lumping,," jawab Ibu Marissa
Untuk menghibur para tamu, pak Arto mengadakan hiburan kuda lumping yang populer di desa mereka. Rangga yang baru pertama kali melihatnya cukup penasaran tapi juga sedikit takut melihat dandanan kuda lumping itu menurutnya sangat seram.
"Buat apa kondangan kalau gak makan?! rugi aja keluarin duit tapi gak makan!" bisik ibu Bryan saat menatap keluarga pak Dermawan masih duduk tidak ikut mengantri seperti dirinya. Bahkan mereka sudah duduk dan menikmati makan siang
"Sok kaya bu!" sahut Bryan
"Sombong, makan saja tidak mau, memangnya mereka makan apa? makan berlian?! toh masih sama makan nasi!" cetus pak Danang.
Rangga mulai takut karena banyaknya kuda lumping yang keluar dari tempat persembunyian mereka , Pak Dermawan memutuskan untuk segera mengajak keluarganya naik ke atas pelaminan. Mereka akan segera bertemu dengan keluarga pak Arto.
"Selamat ya pak, atas pernikahan anak anaknya," ucap pak Dermawan
"Terima kasih pak karena bapak dan ibu mau menghadiri undangan kami. Beginilah kondisinya di kampung pak,,," ucap pak Arto
Pak Dermawan tersenyum
"Sudah makan pak? bu?" tanya Istri pak Arto
"Maaf, tadi sebelum kesini kami sudah makan bersama keluarga, jadi masih kenyang" jawab pak Dermawan.
"Kami sekalian mau pamit, ini Rangga kayaknya takut sama kuda lumping,," ucap Ibu Marissa
"Ohh iya bu,,, Wahh anak ganteng takut kuda lumping yahhh? " tanya pak Arto pada Rangga
"Celemmmm,,," jawabnya dengan bersembunyi di belakang omanya.
Kemudian Pak Dermawan bersama anggota keluarganya pun turun dan akan langsung pulang. Pak Bagas yang baru saja keluar dari rumah pak Arto pun mengejar besannya begitu juga dengan Ibu Zara.
"Pak Dermawan,," panggil Pak Bagas
"Iya pak,,,?" tanya Pak Dermawan
"Apa mau langsung pulang ke kota?" tanya pak Bagas
"Rencananya begitu pak" jawab pak Dermawan
__ADS_1
"Ohh iya sudah, itu tadi ada sedikit oleh oleh dari kami, sudah di siapkan ibunya Zara. Mari pak,, kita ke rumah" ucap pak Bagas mengajak besannya untuk pulang kerumah mereka.
"Wah repot- repot sekali ibu" ucap Ibu marissa pada ibu Zara
"Gak repot bu, ini cuma hasil kebun di desa ini. Kalau di kota kan harus beli,," jawab ibu Zara
Belum mereka jauh dari depan rumah pak Arto, Langkah mereka berhenti ketika pak Danang memanggil pak Bagas
"Mas Bagas,,,"
Pak Bagas juga pak Dermawan berbalik melihat ke belakang, mereka melihat Bryan dan keluarganya yang memanggil mereka
"Oh,, mas Danang, ada apa mas?" tanya Pak Bagas
"Ada tamu jauh kok gak di kenalkan pada kami?" ucap pak Danang mendekat pada mereka.
"Oh,, maaf saya gak kepikiran untuk mengenalkan besan saya pada sampean. Tapi karena sudah ketemu disini, jadi saya akan kenalkan. Pak Dermawan dan ibu Marissa, ini perkenalkan namanya pak Danang, dan itu ibu Sumitri, mereka mantan mertuanya Zara dulu, dan itu Bryan mantan suami Zara." ucap pak Bagas, sebetulnya enggan mengenalkan keluarga Bryan tapi terpaksa karena mereka juga ada di acara itu.
Pak Dermawan langsung ingat pada cerita Angga tentang mantan suami Zara
"Ohh salam kenal pak Danang, dan Ibu " ucap pak Dermawan dengan santai menanggapi mantan mertua Zara itu.
"Eh Bryan! mulut kamu itu yah, sembarangan kalau bicara! kamu bilang cucuku dekil! ingusan! mana?! buka mata kamu! Seenaknya menyebar gosip yang gak bener!" Teriak ibu Zara pada Bryan
"Apa?! Kamu ngatain cucu saya Dekil?! Sini kamu!" Ibu Marissa terpancing emosi saat mendengar ucapan besannya
"Ehhhh,,, mau apa sampean hah?! jangan berani beraninya sentuh anak saya!" Ibu Bryan pasang badan di depan putranya
"Minggir Bu Su! Biar saya kasih pelajaran pada anakmu! Dekil darimana?! matanya katarak?! cucuku ganteng begini dibilang dekil?! Bryan tuh yang dekil!" Sarkas Ibu Zara sudah mengamuk akan menghajar Bryan namun Ibu Sumitri terus menghalanginya
"Aarrgghhh!"
Kemudian terjadi kericuhan di depan jalan rumah Pak Bagas. Bapak bapak melerai namun tetap tidak bisa menghentikan ibu Marissa dan Ibunya Zara yang mengamuk. Rangga segera berlari kerumah neneknya untuk memanggil papa dan mamanya
"Akh,,!" Zara merasakan geli dan juga nikmat saat Angga mengusap perutnya Sedang mulutnya tengah asyik bermain di pucuk bigpao miliknya sekarang . Angga berhenti dan pandangannya turun kebawah. Di lihatnya ada bekas goresan di perut Zara, meski tersamar namun tetap bisa terlihat.
"Maaf, Zara tidak bisa melahirkan Rangga dengan normal kak,," Suara wanita itu tertahan saat Angga menyentuh bekas sayatan itu
"Saat itu posisi Bayi Rangga sungsang, sedangkan ketubannya sudah pecah duluan" ucap Zara
"Apapun itu, kamu tetap ibu yang hebat. Terima kasih sudah melahirkan anak ku" dikecupnya bekas sayatan itu dengan begitu dalam.
Tok
Tok
Tok
"Papa,,, tolong paaaa!" teriak Rangga dari luar kamar.
Sontak saja Angga dan Zara kaget, keduanya langsung duduk dan membenahi pakaian mereka yang berantakan
"Iya sayang,,, sebentar!" jawab Angga buru buru mengancingkan kemejanya sedang Zara memakai kembali baju tunik nya. Setelah itu Zara menyahut jilbab seadanya di dalam lemari
__ADS_1
Ceklek,,,
Angga membuka pintu dan melihat wajah Rangga memerah karena berlari membuat nafasnya memburu
"Ada apa sayang?" tanya Angga pada putranya
"Ada, kuda lumping!"
"Eh, oma dan nenek belantem !" ucap Rangga
"Berantem?!" Zara dan Angga kaget bersamaan
"Iya pa, ayo pa lihat pa!" ucap Rangga menarik tangan papanya.
Kemudian Angga dan Zara ikut berlari kedepan bersama Rangga. Saat di depan mereka melihat keributan yang cukup menarik perhatian semua orang yang ada disana. Dengan cepat ketiganya memakai sandal dan berlarian mendekat ke jalan.
"Ada apa ini?!"
Semua orang berhenti dan melihat ke sumber suara.
Deg!
"Tuan Angga?!" Pak Danang langsung mengenali Angga karena dia yang sudah membeli sawah dan ladang pak Bagas.
"Ada apa ini pa?!" tanya Angga pada pak Dermawan
"Papa??" Pak Danang nampak begitu terkejut saat mendengar Angga memanggil 'Papa' pada pak Dermawan
"Mereka berantem karena Bryan menyebar gosip di kampung soal kamu dan Rangga" jawab papa
"Jadi,,, jadi,,, tuan Angga papanya,,, Rangga?! anaknya bapak ini?!" tanya pak Danang terlihat begitu syok
"Iya, ini papa saya, ini bapak mertua saya, ini istri saya dan ini anak saya!" Jawab Angga
Bruukkkkkkkkk
Pak Danang langsung ambruk kejang kejang di tanah.
"Papaaaaaaaa!" Teriak Bryan dan Ibu Sumitri
.
.
.
.
.
Duhhh beneran ambruk kejang kejang gaesssssssssssssssssssssssssss 🥴
keranda mana? eh ambulance deng🤭😅
__ADS_1
Spesial dimalam minggu, terima kasih yang sudah doain akuhhhh😍