Aku Punya Papa

Aku Punya Papa
Tidak Ada Pilihan Lain


__ADS_3

Setelah mengantarkan Keluarga Angga pulang, Angga dan Zara ke rumah pak Arto untuk datang menghadiri undangan. Kedatangan Zara dan Angga menjadi perhatian khusus bagi semua orang yang ada disana. Terlebih semua yang ada disana sudah tau jika Zara sudah di nikahi dokter kota itu. Situasi di tempat itu tidak seramai tadi pagi, karena tamu undangan juga sudah pulang setelah menyantap makan siang.


Zara dan Angga menemui kelurga pak Arto yang berada di dalam rumah. Ada juga pengantin baru yang tengah berbahagia.


"Selamat menempuh hidup baru ya mba Rini" ucap Zara


"Terima kasih dokter Zara, terima kasih sudah datang ke sini. Ini suaminya Dokter Zara ya?" tanya Rini


"Iya mba,, ini Angga suami Zara" jawab Zara


"Oh tadi keluarganya langsung pulang ya?" tanya pak Arto


"Iya pak, karena pakde saya mau berangkat ke Bekasi sore nanti" Jawab Angga


"Ohh gitu,," jawab pak Arto


Tidak lama mereka disana, terlihat Rangga sudah sangat mengantuk, lalu Angga pamit pada keluarga pak Arto untuk pulang. Saat Pulang Rangga minta papa Angga menggendongnya karena dia begitu takut dengan kuda lumping.


"Kalian mau pulang?" tanya pak Bagas pada Zara yang baru keluar dari belakang


"Iya pak, Rangga kayaknya ngantuk" jawab Zara


"Ya sudah, kalian istirahat juga. Bapak dan ibu ada disini. Sore nanti keluarga pakde dan bulek mu akan datang" ucap Pak Bagas


"Iya. Kami pulang dulu pak" ucap Zara


"Iya" Jawab pak Bagas


Lalu Zara dan Angga pulang kerumah, sedang pak Bagas bersama ibu Zara masih berada dirumah pak Arto untuk membantu beres beres. Sampainya di rumah, ternyata Rangga sudah tidur dan Angga akan menidurkannya di kamar mereka.


"Sudah pulang?" tanya Satria yang saat itu duduk di ruang tamu bersama pak Anwar


"Iya kak,," jawab Zara, ruangan tamu dirumah pak Bagas pun sudah kembali seperti semula.


"Rangga tidur?" tanya Satria saat melihat Rangga yang berada di gendongan papanya

__ADS_1


"Sepertinya iya kak, aku mendengar dengkuran halusnya " jawab Angga


"Kami kedalam dulu ya" ucap Zara pada sang kakak


"Iya" jawab Satria


Lalu Zara bersama Angga membawa Rangga ke dalam kamar mereka. Sampainya di kamar Angga menidurkan Rangga dengan sangat hati hati, sedangkan Zara menghidupkan kipas angin di kamarnya.


"Kok pintunya di kunci?" Tanya Zara saat melihat angga mengunci pintu kamar mereka


"Gak papa, biar gak ada yang ganggu" jawab Angga menyeringai lalu menghampiri istrinya


"Jangan macem macem, masih siang ini! didepan juga ada kak Satria dan pak Anwar!" ucap Zara sudah memberi peringatan pada Angga lebih dulu.


"Memangnya kamu tidak mau melanjutkan yang tadi?" Angga sudah menarik pinggang Zara dan merapatkan tubuh mereka


"Kak,,,, disini tidak ada peredam suara, diluar para pria itu masih singel, jangan meracuni pikiran mereka" ucap Zara


Angga tersenyum dan membelai lembut wajah istrinya


"Zara gemuk ya kak?" pertanyaan itu membuat Angga melepaskan pelukannya dan menatap istrinya


"Gak kok, siapa bilang kamu gendut? masih tetap cantik seperti saat pertama kali kita bertemu" jawab Angga mengusap pipi istrinya.


"Iya apa? tapi kan Zara tidak selangsing dulu, dulu BB Zara ideal 47KG dengan tinggi 157cm. Sekarang?!" Zara menutup wajahnya karena malu


"57Kg! setelah melahirkan Rangga dulu gak mau turun turun. Dulu malah saat hamil Rangga BB Zara naik 28KG. Rangga lahir 3,8kg dan nge Asi sampai Rangga usia 2 tahun baru dia mau minum susu lain" ucap Zara


"Apa semua wanita itu selalu memikirkan berat badan?" tanya Angga


"Iya kebanyakan begitu, yang gemuk ingin kurus dan langsing, sedang yang kurus ingin terlihat berisi. Hanya sekian persen yang tidak mempermasalahkan itu. Zara hanya takut cinta kakak akan luntur karena Zara gemuk." ucapnya


"Tidak semudah itu luntur, jika luntur harusnya sudah sejak lama. Buktinya kakak menikahi mu, berarti cinta itu tetap masih ada" jawab Angga


"Bukan karena Rangga?" tanya Zara

__ADS_1


"Bukan,, karena aku,, mencintaimu,,"


Angga terkaget saat Zara lebih dulu menciumnya. Wanita itu begitu gemas dengan bibir yang sejak tadi bergerak, menjawab setiap pertanyaan yang dia lontarkan. Angga menyambut baik dan mencari tempat sandaran untuk semakin memperdalam.


Sementara itu di tempat lain,,,


Mobil Bryan sudah sampai di rumah sakit yang tak jauh dari perbatasan desa itu dan kota. Namun sampai di tempat itu, dokter mengatakan, jika mereka tidak bisa menangani pasien lebih lanjut karena alat medis mereka masih sangat terbatas.


"Saya menyarankan pasien dibawa saja ke rumah sakit Medika Pusat pak,, disana alat kedokteran sangat lengkap. Saya dulu juga bekerja disana, namun saya harus pindah dinas ke rumah sakit ini. Kalau mau saya akan buatkan surat rujukan agar pasien bisa di tangani lebih lanjut dirumah sakit itu. Bagaimana?" Tanya Dokter


Bryan teringat jika rumah sakit yang di sebutkan dokter wanita itu adalah rumah sakit keluarga Angga. Dia sangat enggan membawa papanya kesana tapi,


"Iya dok, tolong buatkan surat rujukan sekarang. Kami akan bawa kesana" ucap Ibu Sumitri


"Tapi ma?!" ucap Bryan


"Kenapa tapi? kamu gak denger kata dokter tadi jika rumah sakit itu memiliki alat medis lengkap. Apa kamu tidak ingin papamu sembuh?! kenapa? apa karena biaya rumah sakitnya mahal? itu tidak ada masalahnya Bryan, yang penting papamu sembuh!" ucap Ibu Sumitri memarahi Bryan,


Bryan tidak ingin berdebat lagi, dia hanya diam meski dia tau jika rumah sakit itu milik mertua Zara. Kemudian Dokter membuat surat rujukan untuk pak Danang agar ditangani lebih lanjut di rumah Sakit Medika Pusat.


Tidak ada pilihan lain, Bryan membawa papanya kerumah sakit milik mertua Zara itu.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Wahhhh gimana ini selanjutnyaaaa kalau pak Danang sadar ? 🤣


__ADS_2