
Zara sudah keluar dari kamar dan bergabung bersama Angga juga Rangga. Kemudian ketiganya sarapan bersama sebelum nanti Angga mengajak Zara dan Rangga bertemu dengan orang tuanya.
"Pa,, kata papa kita akan ketemu oma dan opa ya?" Tanya Rangga
"Iya, setelah ini kita akan bertemu dengan mereka dirumah papa" jawab Angga
"Apa meleka olang yang baik? atau galak?" tanya Rangga dengan polosnya
"Rangga,," Zara memperingatkan Rangga yang berbicara tidak sopan pada papanya. Angga tersenyum kecil
"Mereka orang yang baik. Papa yakin mereka akan sangat menyukai Kamu yang pandai dan menggemaskan ini" ucap Angga dengan mencubit pipi berisi putranya
"Cama mama juga?" tanya Rangga
"Ya, mereka juga akan menyukai mama nanti" jawab Angga dan Rangga tersenyum, tapi Zara sedang ketar ketir
"Kak aku belum menyiapkan sesuatu untuk mereka" ucap Zara
"Sesuatu apa?" tanya Angga
"Ini pertama kalinya aku dan Rangga bertemu dengan keluargamu, harusnya kami membawa sesuatu untuk mereka" jawab Zara
"Oh,, nanti saja kita cari di jalan, buah tangan kan maksudmu?" tanya Angga dan Zara mengangguk
"Iya" jawab wanita itu
"Nanti kita beli sambil jalan pulang. Kita belikan makanan Favorit papa dan mama agar mereka senang" jawab Angga
"Iya kak" jawab Zara
Sebenarnya Zara juga ingin pulang ke desa untuk bertemu dengan orang tuanya. Dia rindu, sangat rindu, bahkan wanita itu ingin sekali pulang dan meminta pengampunan pada kedua orang tuanya. Namun dulu, saat Zara sedang mengurus surat perceraiannya dengan Bryan. Pria lemes itu mengatakan,
"Lihatlah, karena kelakuanmu, sekarang keluarga mu menderita!" Bryan menunjukkan foto bapak dan ibu Zara yang saat itu sedang berada di sawah. Dulu kedua orang tuanya ke sawah hanya mengawasi para buruh di sawah dan ladang mereka, tapi saat itu mereka terlihat sedang menabur benih padi
" Apa kamu masih berani pulang setelah membuat mereka menderita?! bahkan mereka sangat malu karena menanggung aib mu yang sudah tersebar ke seluruh pelosok Desa! Harusnya kau bisa menjaga diri dan menikah denganku! aku jamin hidupmu akan tercukupi!" cetus Bryan
"Kenapa melamun?" tanya Anga dengan menyenggol siku Zara
"Tidak papa kak" Jawab Zara sedikit gelagepan
Angga melihat raut wajah Zara berubah sendu, dia menduga pasti ada sesuatu yang difikirkan wanita itu. Selesai makan, Rangga lebih dulu berlari kedepan, sedangkan Zara membereskan meja makan dan Angga membantunya.
__ADS_1
"Kakak?!" Zara kaget saat Angga memegang tangannya yang akan mengangkat piring kotor
"Katakan, apa yang kamu pikirkan?" tanya Angga menatap wanitanya dengan serius
"Memangnya apa yang aku pikirkan kak?" jawab Zara
"Jangan membohongiku, aku bisa merasakan kamu sedang banyak pikiran. Berbagilah denganku, jangan anggap aku orang lain" ucap Angga
"Zara merindukan bapak dan ibu kak,," jawab Zara dengan meneteskan air mata
Angga bisa merasakan kepedihan yang di rasakan Zara. Angga tau wanita itu pasti sangat ingin bertemu dengan keluarganya.
"Kamu sabar ya, kita selesaikan satu persatu, setelah kita bertemu keluargaku, kita akan menemui keluargamu. Aku akan melamar mu dan kita akan menikah. Seberapa besar rintangan yang akan kita hadapi nanti, Aku akan berjuang untuk mendapatkan. Aku tidak akan pernah melepas mu lagi " ucap Angga dengan tatapan serius. Tanpa terasa Zara meneteskan air mata, dia sungguh bahagia karena Angga akan memperjuangkan hubungan mereka. Zara juga berjanji pada dirinya sendiri, dia juga akan ikut memperjuangkan hubungan mereka, semaksimal yang Zara bisa.
Mobil pak Dermawan sudah sampai di parkiran apartemen Angga. Setelah mobil berhenti, Ibu Marissa bergegas untuk turun dari mobil
"Ayo pa cepet!" ucap ibu Marissa
"Iya ma tunggu, itu lihat ada mobil Angga masih parkir. Berarti anak itu masih di dalam!" jawab papa saat melihat mobil Angga masih parkir tak jauh dari mobil papa berhenti
"Oh iya!" jawab mama
Kemudian Ibu Marissa, Pak Dermawan dan pak Anwar, masuk ke lobby dan berjalan menuju lift, karena akan menggerebek Angga yang sedang bersama wanita. Kedua orang tua itu sepertinya tidak peduli banyaknya orang yang menatap ke arah mereka. Datang ke apartemen elite dengan Penampilan keduanya terlihat sangat berantakan dan tidak berkelas.
"Ada apa?!" tanya ibu Marissa dengan ketus saat tiba tiba langkahnya di hentikan
"Maaf, anda belum mendaftar ke administrasi kami jika ingin bertamu" ucap keamanan
"Oh iya, saya akan ke sana!" jawab Ibu Marissa,
Lalu dengan langkah cepat ibu marissa menghampiri meja administrasi, diikuti oleh pak Dermawan. Pegawai administrasi itu pun menatap aneh pada pasangan suami istri yang tidak muda lagi itu.
"Saya ingin ke unit apartemen No 105 An. Angga Dermawan" ucap Ibu Marissa
Pegawai itu langsung menunduk ketika ibu Marissa mengatakan ingin ke uni apartemen Dokter Angga. Jelas mereka tau itu
"Baik Nyonya, apa anda keluarganya?" tanya pegawai itu
"Saya Marissa mamanya dan ini Dermawan papanya!" jawab nya dengan tidak sabaran
Dokter Angga cukup terkenal di apartemen itu, hingga pegawai itu tidak lagi mengintrogasinya
__ADS_1
"Kami sudah selesai mendata , terima tuan , Nyonya" ucap pegawai itu
"Iya,," Jawab singkat ibu Marissa
Setelah itu Mama marissa dan pak Dermawan akan kembali masuk ke dalam lift diikuti pak Anwar di belakang mereka
"Apa karena penampilan kita begini ma?" tanya papa
"Bisa jadi pa, tapi mama gak peduli" jawab mama
Pak Anwar menahan senyum tapi juga merasa aneh pada kedua majikannya yang terlihat sangat buru buru. Mama Marissa terlihat semakin gelisah karena lift tak kunjung sampai di apartemen Angga
Ting!
Pintu lift terbuka, mama, papa dan pak Anwar keluar dari lift dan berjalan menuju ke unit apartemen Angga.
"Rangga,, ayo kita pergi sayang,,, kita akan bertemu oma dan Opa" ucap Angga dengan sudah siap pergi, begitu juga dengan Zara.
"Baik pa" Jawab Rangga
Kemudian Angga menggandeng tangan mungil Rangga dan ketiganya berjalan menuju pintu keluar apartemennya.
klik!
Deg!
"Ibu Marissa?!"
"Dokter Zara?!"
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jiaaaaaaaa akhirnya ketemu gaesssssssss 😅🤣
Review-nya suka lama, padahal aku gak melanggar aturan 🥴