
Mobil Angga melewati hamparan luas sawah sawah petani yang sudah di tanami padi. Sepertinya sudah selesai musim tanam, terlihat barisan itu begitu rapi dan tinggal menunggu padi semakin tumbuh subur, menguning dan panen. Melihat suasana pedesaan yang di kelilingi hamparan sawah, membuat sejuk mata yang memandang.
"Sejuk banget ya lihatnya,,," ucap Angga
"Iya, apalagi kalau padi sudah tubuh dan berkembang biar banyak. Dulu waktu kecil Zara sering main di jalan jalan setapak pemisah satu sawah dengan sawah lainnya bersama teman teman" ucap Zara
"Waktu kecil pasti seneng main lumpur ya?!" tanya Angga
"Hehe iya, dan bapak selalu marah kalau Zara main lumpur. Dulu,, Sawah dan ladang bapak lumayan banyak, tapi,,, sebagian Bapak menjualnya untuk membiayai Zara kuliah, Kakak yang mau jadi anggota DPRD dan setengahnya di berikan pada keluarga Bryan untuk membayar semua biaya yang sudah di keluarkan mereka membantu kuliah Zara dulu. Itu kenapa bapak begitu marah pada Zara kak, selain karena kesalahan besar yang Zara lakukan, bapak sudah habis habisan mengeluarkan banyak biaya tapi Zara malah mengecewakan bapak. Zara sangat takut bapak belum bisa memaafkan Zara" Ucap Zara terdengar menyedihkan
Angga menggenggam erat tangan Zara dan menguatkan wanita itu
"Jangan terus menyalahkan dirimu sendiri,, aku yakin bapak dan Ibu pasti memberi maaf" ucap Angga dan Zara mengangguk.
"Non, ini kemana lagi yah? apa masih jauh?" tanya Pak Anwar
"Masih lurus saja pak, nanti ada persimpangan belok kanan. 100 meter dari persimpangan itu ada rumah cat putih pagar hitam" ucap Zara
"Baik" jawab Pak Anwar
Mobil terus berjalan mengikuti arahan dari Zara, hingga beberapa menit kemudian, dari kejauhan terlihat sebuah rumah cukup besar dengan pagar hitam
"Itu rumahnya pak" ucap Zara
Sepertinya tetangga keluarga Zara sedang ada hajatan. Tepat di sebelah rumah Zara terdapat banyak orang yang sedang berkumpul. Karena Pagar rumah tidak di tutup, pak Anwar langsung saja memasuki pekarangan rumah putih itu dan memarkirkan mobil tuannya.
"Ada hajatan di rumah pak Arto, apa bapak dan ibu disana?" ucap Zara
Rangga terbangun saat mobil berhenti,
__ADS_1
"Sayang,, sudah bangun?" ucap Angga
"Kita cudah campai ya pa?" tanya Rangga
"Iya,, ini rumah kakek dan nenek Rangga" sahut Zara
Di rumah pak Arto,,,,,,
Wong ko ngene kok dibanding - banding ke, Saing - saing ke yo mesti kalah
Semua orang yang ada di halaman depan rumah pak Arto yang sedang dangdutan tampak kaget saat melihat sebuah mobil mewah berwarna putih tiba tiba berhenti di pekarangan rumah pak Bagas. Mereka menerka nerka mobil siapa yang berhenti di rumah keluarga itu
"Mobil sapa yak? apik tenan?!"
"Gak ngerti? apa Zara pulang?!"
"Apa iya? katanya Bryan calonnya orang miskin? masak punya mobil?"
Semua orang tengah riuh membicarakan mobil putih yang parkir di depan rumah pak Bagas. Pemiliknya pun tak kunjung keluar. Berita heboh itu pun langsung sampai di telinga pak Bagas yang saat itu tengah membantu pak Arto dan Ibu nya Zara yang sedang membantu ibu ibu masak di belakang.
"Bu, itu di depan rumah ibu ada mobil parkir. Apa Zara pulang?" ucap seorang tetangga
"Zara?!"
Ibu Zara begitu kaget, lalu berdiri dan berlari keluar dari dapur belakang rumah pak Arto. Jantungnya berdetak begitu cepat, rasa rindunya akan meluap luap. Ibu Zara begitu rindu dan ingin sekali bertemu dengan putrinya yang sejak 5 tahun tidak pernah dia temui. "Zara,,, Ibu rindu nak,,," batin Ibunya Zara
"Ibu mau kemana?!"
Deg!
__ADS_1
Langkah ibu Zara berhenti saat mendengar suara pak Bagas yang begitu jelas di indera pendengarannya. Ibu Zara menoleh, jelas terlihat tatapan Pak Bagas mengintimidasi ibunya Zara. Namun sepertinya ibunya Zara tidak peduli lagi dengan tatapan itu dan juga warga sekitar yang melihat mereka
"Bertemu putri ku!"
Ibu Zara terus melangkahkan kakinya menuju ke rumahnya. Dia sangat berharap yang datang itu Zara. Semenjak perginya Zara, Ibu sering sakit sakitan, dia terus kepikiran bagaimana putrinya hidup. Meski dia juga kecewa tapi hati seorang ibu tidak bisa di bohongi. Dia sudah memaafkan anak itu, bahkan dia selalu berharap Zara pulang setiap hari lebaran. Tapi harapannya selalu sia sia, Zara tidak pernah pulang karena begitu takut pada bapaknya.
Seiring langkah ibu Zara semakin dekat ke mobil putih yang sedang parkir di depan rumah, pintu mobil Alphard putih itu juga bergerak ke samping dan memberi akses keluar bagi pemilik kendaraan yang akan keluar.
.
.
.
Cilukbaaaaaaaaaa
.
.
.
.
Tahan nafas dulu yah,,🤣
Besok di lanjutin lagi, Aku lagi malming sama ayang embeb dan anak anak, jadi segini aja untuk malem ini 😘
Happy weekend gaesss
__ADS_1
Lopeyouuuuuuuu😘