
Keluarga Zara puas berkeliling melihat sawah mereka. Ternyata benar posisi satu hektar sawah pak Bagas sangat pas untuk di buat sebuah gudang penggilingan Sawah seperti yang mereka bahas kemarin.
"Nah jadi nanti gudangnya menghadap ke jalan, pembuangan kulit padi bisa di belakang, sisa tanah masih sangat luas jadi tidak akan mengganggu lahan tani warga lain" ucap Pak Bagas
"Iya bapak benar, ini posisinya sudah pas, Jadi saat sudah panen, mereka bisa langsung membawa pagi mereka ke gudang ini" ucap Angga
"Di jemur dulu, baru bisa di giling. Kalau tidak dijemur nanti berasnya patah patah. " jawab pak Bagas
"Jadi kak Angga mau buka penggilingan padi disini?" tanya Zara
"Insyaa Allah, selain itu juga, disini akan menerima jual beli beras, bibit padi unggul, alat pertanian dan juga pupuk" jawab Angga
"Apa kita akan tinggal dicini pa?" tanya Rangga
"Tidak sayang, kita akan tetap tinggal di kota. Karena papa juga harus membantu opa mengurus rumah sakit. Jadi nanti yang akan mengurus disini bapak dan kak Satria. Kita akan carikan pegawai laki laki untuk bantu bantu di sini" jawab Angga
"Oh gitu, apa bapak gak keberatan?" tanya Zara pada bapaknya
"Tidak, bapak malah senang jika banyak kegiatan" jawab bapak
"Ya sudah kalau bapak memang mau, ya gak papa" jawab Zara
"Untuk pembangunannya nanti setelah semuanya siap, Angga akan sampaikan pada bapak" ucap Angga
"Iya" Jawab pak Bagas.
Kemudian, mereka akan kembali ke mobil setelah melihat sawah yang akan di jadikan gudang penggilingan padi.
"Papa,, langga tapek, endong" bocah tampan itu memegangi lututnya seolah dia benar benar lelah berjalan.
Angga tersenyum lalu dia berjongkok di depan putranya
"Ayo naik ke punggung papa" ucap Angga
"Yeyyy!" Rangga bersorak gembira lalu dengan cepat melompat ke punggung papanya. Setelah berpegangan Angga mulai berdiri dan menopang Rangga dangan tangannya
__ADS_1
"Pegangan yahhh" ucap Zara yang berdiri di belakang Angga dan Rangga
"Iya ma!" Jawab Rangga
Kemudian mereka berjalan kembali menyusuri jalan setapak menuju ke mobil mereka. Rencananya sore nanti Angga dan Zara akan kembali ke kota. Tugas mereka sebagai dokter sudah menanti, meski masih ingin tinggal di desa itu, namun mereka harus tetap kembali ketika tugas sudah memanggil.
Di Rumah Sakit Medika Pusat,,,
Di ruangan kelas 1 yang berisi 3 bed pasien itu kini terisi 2 orang, pertama pak Danang dan kedua Bryan yang tadi sempat pingsan saat mengetahui kenyataan bahwa sawah pak Bagas sudah di beli oleh suami Zara. Baru sadar beberapa menit, Bryan kembali seperti di buat sesak saat membaca pesan yang dikirimkan temannya. Dia menyampaikan jika rencananya Angga akan menjadi saingan gudang penggilingan padi orang tuanya.
"Dia benar benar ingin kita bangkrut pa!" ucap Bryan lirih, dadanya terasa sangat sesak sekali
"Sudah lah, berhenti mengganggu mereka. Bapak sudah tidak ingin berurusan dengan mereka" ucap pak Danang
"Tidak bisa begitu pa! mereka sudah buat kita seperti ini!" Nafas Bryan tersengal sengal dengan selang oksigen di hidungnya.
"Iya pa, mereka sudah buat kita malu, sekarang mereka akan membuat kita bangkrut? memang mereka siapa? mau bersaing dengan kita?! kita sudah lebih lama membangun gilingan padi, pelanggan kita juga sudah banyak! mama Rasa kita tidak perlu takut, Bry,!" ucap ibu Sumitri
"Mama ada benarnya juga" ucap Bryan
Dokter masuk bersama suster untuk memeriksa kondisi pasien,
"Bagaimana kondisinya sekarang pak? apa yang bapak rasakan?" tanya Dokter pada pak Danang
"Dada saya masih terasa sesak dok, sakit" jawab pak Danang apa adanya.
"Setengah jam lagi, bapak akan di bawa ke ruangan dokter spesialis jantung untuk melakukan pemeriksaan. Bapak tidak perlu cemas, dan tetap berfikir positif agar kinerja jantung bapak tidak terganggu" ucap Dokter
"Iya" Jawab pak Danang
Kemudian Dokter beralih untuk memeriksa kondisi Bryan.
"Apa yang di rasa sekarang pak?" tanya Dokter
"Nafas saya terasa sesak" jawab Bryan
__ADS_1
"Coba bapak tenang, tekan emosi bapak,, maka udara akan kembali lancar masuk kedalam tubuh anda. Anda tidak ada riwayat penyakit jantung kan?" tanya Dokter
"Tidak ada, hanya papa saya saja" jawab Bryan
"Baik, kalau bapak mau memastikan jantung anda baik baik saja, nanti bisa ikut periksa bersama papa anda. Kalau begitu saya permisi" ucap Dokter pada pasiennya.
Setengah jam berlalu, dua orang Suster masuk kedalam ruangan pak Danang, mereka akan membawa pak Danang ke dokter spesialis jantung untuk memeriksa kondisi jantungnya. Bryan juga akan ikut, dia juga akan memeriksakan kondisi jantungnya sesuai anjuran dokter pria tadi. Setelah mereka di pindahkan ke kursi roda, suster membawa mereka ke ruangan dokter spesialis jantung.
"Saya ikut ya sus" ucap ibu Sumitri
"Iya bu, silahkan" jawab suster
Lalu, Mereka bersama sama keluar dari ruang inap kelas 1 itu.
Sampai di depan ruang Dokter spesialis Jantung.
Ceklek!
"Silahkan masuk" Suster didalam ruangan dokter mempersilahkan pak danang yang di bawa suster untuk masuk kedalam bersama Ibu Sumitri. Sedangkan Bryan menunggu di depan bersama suster.
"Selamat pagi dokter" Sapa Ibu Sumitri
"Pagi"
Suara barito itu terdengar seperti tidak asing. Dokter awalnya berdiri mengambil kertas, kemudian duduk kembali di kursinya dan melihat pasien yang dibawa suster ke ruangannya.
Deg!
.
.
.
.
__ADS_1
Liat siapa? 🧐