Aku Punya Papa

Aku Punya Papa
Benar Benar Tidak Adil !


__ADS_3

Zara duduk sendiri di kursi tunggu, menunggu Angga selesai memeriksa kondisi pak Danang. Karena Angga sepertinya sedang marah, Zara menghubungi dokter Zia untuk menggantikan tugasnya di ruang IGD. Zara akan membujuk Angga agar pria itu tidak marah lagi, padahal Zara merasa tidak tau apa apa soal kedatangan Bima, dekat pun tidak.


Tak lama pintu terbuka dan Dokter Angga bersama beberapa dokter keluar dari ruangan itu.


"Terus perhatikan perkembangan kondisi pasien" ucap dokter Angga


"Baik dokter" jawab dokter yg lain


Mereka melihat Zara yang baru saja berdiri dari tempat duduknya, para dokter menyapa Zara, setelah itu pamit pergi dan meninggalkan dokter Zara dan dokter Angga di depan ruangan itu


"Kak,,,"


"Ini jam kerja dokter Zara, kenapa dokter ada di sini?" ucap Angga dengan wajah datar


Zara terdiam saat mendengar Angga bicara formal padanya


"Dokter salah paham, saya ingin menjelaskan,,"


"Tidak perlu di jelaskan, lebih baik anda kembali ke ruang kerja anda" ucap Angga berlalu pergi, Zara di buat melongo dengan sikap Angga barusan


"Aku di acuhkan?! bener bener gak adil! ini bukan salah ku,,, kenapa dia marah padaku?!" ucap Zara melihat kepergian suaminya. Zara tidak terima, dia pun berjalan cepat menyusul Angga.


Saat Angga baru masuk kedalam ruangannya, dengan cepat Zara ikut masuk kedalam dan membuat Angga terkejut.


"Dokter Zara?!" Ucap Angga saat melihat istrinya ikut masuk kedalam


"Suster, tolong keluar sebentar, saya ada perlu dengan dokter Angga" ucap Zara pada suster yang berada di ruangan Angga


"Baik Dokter" Dengan cepat suster itu keluar dan menutup kembali pintu ruangan itu


"Mau apa? sudah saya bilang kan, ini jam kerja,,," Angga terdiam saat mulutnya sudah di bungkam cepat oleh istrinya. Zara banyak belajar, saat menghadapi suaminya yang sedang kesal. Tidak kasar terasa sangat lembut dan menghanyutkan. Cukup lama keduanya saling berbagi rasa, saat tangan Angga mulai bergerak nakal, Zara langsung melepaskannya.


"Apa?! jam kerja apa?! mau kerja apa?! mana bisa kerja kalau kakak ngambek kayak gini ?!" sahut Zara saat sudah melepaskan pertautan mereka


Angga membuang wajah ke samping, kekesalannya sudah runtuh, tapi gengsi juga jika dia harus menyerah sekarang


"Siapa yang ngambek!" cetus Angga


"Siapa yang ngambek?! gak sadar situ ngambek?! ngambek apa coba?! cemburu?!.Cemburu sama Bima? Oh ya Ampun,,,, Zara saja sama sekali tidak ingat, dia hanya pasien Zara kak!! lagian kakak lihat sendiri kan, Zara menolak hadiah dari dia!" ucap Zara menggebu gebu


"Itu karena ada aku! andai gak ada! pasti kamu terima bunga itu kan?! iya kan?!" ucap Angga


"Jangan berandai andai!! lihat nyatanya saja!! ada ataupun gak ada kakak, Zara tidak akan menerima hadiah dari lelaki lain, Zara,,,!" jawab Zara belum selesai


Angga tak bicara lagi, tubuh tegap itu langsung menubruk istrinya yang belum selesai bicara. Angga juga tidak tahu, kenapa akhir akhir ini dirinya sangat sensitif, dia cepat sekali kesal, cemburu berlebihan dan jadi posesif pada istrinya . Zara juga baru baru ini menyadari perubahan pada suaminya, dia pun tidak diam, tangannya terulur membalas pelukan suaminya dan mengusap punggung kekar itu untuk memberikan ketenangan pada pemiliknya.


"Kenapa sih akhir akhir ini kakak tuh cepet banget marah?" ucap Zara dengan lembut


"Ntahlah, yang jelas,, aku sayang kamu" jawab dokter tampan itu. Tidak ada yang bicara lagi, keduanya hanya saling memeluk melepaskan rasa sesak di dalam dadaa.


...


Sementara itu, Rizal sudah sampai di depan ruangan dokter magang. Sebelum masuk Rizal menarik nafas dalam dan menghembuskan nya kasar. Lalu pemuda itu membuka pintu ruangan itu dan dia melihat didalam ada Liora yang sedang menemani Rangga bermain.

__ADS_1


"Yey, Tehnya datang" Rangga bersorak saat melihat Rizal datang membawakan teh hangat untuknya.


"Rangga, ini tehnya" ucap Rizal meletakkan teh hangat itu di meja


"Makacih, Om" ucap Rangga


"Iya sama sama,, Om keluar dulu ya" ucap Rizal pada Rangga. Pemuda itu sama sekali tidak menatap Liora


"Om, dicini aja temenin Langga main" ucap Rangga


"Ada Aunty Rangga disini,," jawab Rizal


"Aunty banyak keljaan. Langga bocen gak punya temen" ucap Rangga


"Tapi Om juga harus kerja lagi" jawab Rizal


"Nanti Langga bilang cama papa, Om lijal temanin Langga main" ucap Rangga kemudian beranjak dari tempat duduknya


"Aunty tolong telfon papa" ucap Rangga


"Iya" Jawab Liora lalu mengambil ponselnya dan menelfon Angga. Beberapa saat mereka menunggu, panggilan pun tersambung


"Ada apa Liora?"


"Rangga mau bicara kak" ucap Liora lalu memberikan ponselnya pada Rangga


"Hallo pa" ucap Rangga setelah menempelkan benda pipih persegi panjang itu di dekat telinga kirinya


"Apa papa dan mama cudah baikan?" tanya Rangga


"Sudah" Jawab Angga


"Baguc! Oh iya pa, Langga mau main cama Om Lijal. Aunty lagi cibuk, apa boleh pa?" tanya Rangga


"Iya boleh" jawab Angga


"Makacih pa" ucap Rangga lalu memberikan kembali ponsel liora.


"Om dengal cendili kan, papa bilang boleh" ucap Rangga pada Rizal


"Baiklah, kita main di luar saja, Aunty liora akan bekerja, kita tidak boleh mengganggunya" ucap Rizal


"Kita main dicini caja om, diluar banyak olang lewat, meleka liatin langga cepelti melihat boneka. Pipi Langga cakit Om di toel toel" jawab Rangga


Rizal menghela nafas kasar, dia bingung dengan keinginan Rangga.


"Main saja di situ, tidak perlu keluar. Aku tidak merasa terganggu" ucap Liora


Rizal menoleh sedikit pada gadis cantik itu, lalu segera beralih lagi pada Rangga


"Ya sudah kita main di sana saja ya. Rangga mau main apa?" tanya Rizal mengajak Rangga untuk duduk di kursi tak jauh dari meja kerja Liora


"Aku cuka gambal om, Om bica gambal gak?" tanya Rangga

__ADS_1


"Bisa sedikit" Jawab Rizal


"Om Bica gambal Aunty?" tanya Rangga mengambil kertas yang sebelumnya di berikan liora padanya


"Eh!" Sahut Rizal kaget, Liora yang mendengar pertanyaan Rangga juga kaget, Rizal menatap Liora dan gadis itu pun juga jadi menatap Rizal, sedang Rangga sibuk dengan kertas dan pensil di tangannya. Liora tersenyum kikuk, lalu mengalihkan pandangannya pada buku yang dia akan baca, sementara Rizal yang juga merasa kikuk, memilih kembali melihat apa yang di lakukan Rangga


"Om gak bisa gambar Aunty di kertas, Om gak jago melukis" ucap Rizal


"Bicanya gambal dimana om?" tanya Rangga yang tengah menggambar kelinci


Rizal di buat gelagepan lagi dan lagi dengan pertanyaan bocah tampan itu.


"Ya ampun,,, anak ini kenapa jadi memojokkan aku?!" batin Rizal mengelus dadaanya sendiri, tidak mungkin dia menjawab, melukis di hatinya kan?!


"Benar benar anak Dokter Angga ini, bikin aku jantungan!" batin Rizal dengan bingung harus menjawab apa sekarang


"Ehem!" Liora terbatuk saat merasa pertanyaan Rangga ada ada saja.


"Rangga kenapa bertanya begitu pada Om Rizal?" tanya Liora


"Cuma tanya aja" jawab Rangga dengan entengnya


"Kan gak harus gambar Aunty, bisa gambar yang lain" ucap Liora


"Ya kan Langga cuma tanya Aunty,,," Jawab Rangga menatap Liora dengan tersenyum


Liora terdiam,


"Om bisa gambar hewan, hiu, paus, singa, kelinci dan banyak lagi" ucap Rizal mengalihkan perhatian Rangga


"Langga juga bica, Om lihat ini,,, ini kelinci langga. Baguc kan?!" tanya Rangga


Rizal melihat 2 ekor anak kelinci yang dia tulis nama Rangga dan Jasmine. Rizal terkekeh kecil melihat gambar itu


"Bagus,,, ini Rangga, dan ini Jasmine?" tanya Rizal


"Iya,, coba om buat untuk Om dan Aunty" ucap Rangga tersenyum mengejek dan Rizal langsung menghentikan kekehan nya.


.


.


.


.


.


Wkwkwkwkwwk Om Lijal Kicep! 🤣


Comel gak Om kelincinya?


__ADS_1


__ADS_2