
Mobil Angga sudah memasuki parkiran mess rumah sakit. Kemudian ketiganya turun lalu Angga mengambil barang barang belanjaan mereka di dalam mobil dan akan membawanya ke mess Zara
"Biar aku bantu kak" Ucap Zara membawa sebagian belanjaan mereka dan Angga hanya tersenyum. Sebenarnya tanpa di bantu pun Angga sanggup membawanya. Kemudian mereka bertiga berjalan menuju mess Zara dengan Rangga yang sudah berlari lebih dulu
"Apa mess ini selalu sepi begini?" tanya Angga
"Iya,, mungkin karena hanya ada beberapa dokter saja yang tinggal" jawab Zara. Lalu Zara mengambil kunci dan membuka pintu messnya. Setelah itu ketiganya masuk kedalam.
"Taruh dimana?" tanya Angga
"Di belakang saja kak, nanti biar aku yang menyusunnya" jawab Zara
"Baiklah" Setelah Angga dan Zara meletakkan barang belanjaan mereka, Keduanya kembali berjalan ke ruang tamu.
"Kakak yakin akan mengatakannya sekarang?" tanya Zara
"Iya, kenapa? kamu masih ragu?" tanya Angga
"Tidak, aku hanya bertanya" jawab Zara
"Lebih cepat lebih baik, jangan sampai Rangga tau dari orang lain" ucap Angga
"Iya" Jawab Zara
Sampai mereka di ruang tamu, Rangga saat itu sedang menonton TV. Lalu Zara dan Angga duduk bersama di samping Rangga.
"Filmnya bagus ya " ucap Angga memulai pembicaraan
"Iya om, Langga cuka cama filmnya. Itu meleka lagi mencali kelang " jawab Rangga
"Rangga,, Mama dan Om Dokter ingin bicara penting sama Rangga. TV nya kita matikan dulu ya nak, nanti setelah selesai bicara, Rangga boleh nonton lagi" ucap Zara
"Iya" Rangga mengangguk patuh, lalu Menekan tombol OFF pada remote TV nya.
Suasana langsung sunyi, Angga dan Zara saling pandang sebentar. Lalu Zara menarik nafas dalam dan mengeluarkannya pelan
"Rangga,,"
"Iya ma"
"Sebenarnya,, Om Angga itu,, adalah,, papa nya Rangga,," ucapan Zara terjeda karena ingin melihat respon putranya
"Papa?!" Rangga terlihat terkejut
__ADS_1
"Iya Rangga,, Om adalah papa kamu" Sambung Angga
Rangga menatap Angga dengan tatapan yang sangat sulit diartikan. Rangga seperti sedang berfikir, dia diam dan terus menatap Angga saat itu.
"Jika Om papanya langga, kenapa balu muncul cekalang? kemana caja celama ini,,? kenapa tidak mencali Langga dan mama? kenapa om bialkan mama bekelja cendili? apa om tidak cuka pada langga? apa kalena langga anak nakal, jadi om tidak cuka pada Langga?" anak kecil itu sudah berkaca kaca, dia sedang mengungkapkan kesedihannya pada kedua orang tuanya. Mereka tidak menyangka jika pemikiran Rangga sejauh itu.
"Om tidak menginginkan langga ya?" tanya Rangga lagi saat belum mendapat jawaban dari Angga.
"Langga beltanya pada mama, dimana papa, tapi mama tidak pelnah jawab. Mama menangic cendili, iya kan ma?!" ucap Rangga menatap sang mama Saat
Zara sudah tertunduk dengan deraian air mata. Dia tidak menyangka jika respon Rangga seperti itu. Sedang Angga yang dihujani pertanyaan kini tidak bisa menjawab apa apa. Angga sedang mengajak otaknya untuk berfikir keras agar Rangga mengerti dan tidak salah faham, namun tidak mudah untuk menjelaskan pada anak anak
" Rangga,,, papa sayang pada Rangga. Papa menginginkan Rangga, andai papa tau sejak lama, jika mama tidak bersama Om Bryan lagi, papa pasti mencari kalian sayang. Papa pikir mama sudah bahagia tapi papa baru mengetahui jika selama ini mama dan kamu hidup menderita. Maafkan papa sayang,,,maafkan papa. papa sayang Rangga dan mama,, " Angga tak mampu menahan perasaannya yang campur aduk. Sungguh dia sangat menyesal karena tidak mencari tau soal Zara sejak dulu. Namun Saat Angga ingin menyentuh tangan Rangga, anak itu menarik tangannya dan membuat Angga terkejut karena penolakan putra nya.
"Papa haluc beljanji pada Langga dan mama, papa tidak akan pelgi lagi!" ucap Rangga saat menatap Angga dengan tatapan serius
"Ya, Papa janji, papa tidak akan meninggalkan kamu dan mama lagi. Papa akan menjaga kalian" ucap Angga dengan keseriusan. Mendengar itu Rangga langsung berhambur memeluk Angga dan menangis di pelukan nya
"Papa"
Angga dan Zara begitu haru karena Rangga akhirnya mau menerima Angga sebagai papanya. Meski di awal Rangga seperti memberi penolakan namun ternyata anak itu memberi kejutan luar biasa.
"Terima kasih sayang" ucap Angga saat masih memeluk putranya.
"Apa Langga dibuat dengan cinta?" tanya anak itu dengan polosnya.
Angga dan Zara di buat terkejut atas pertanyaan putranya
"Rangga,,, siapa yang mengajari Rangga tentang cinta cinta begitu hah?" tanya Zara
"Teman langga di penitipan ma . Dia pelnah celita, papa dan mamanya membeli dia banak cinta,," ucap Rangga
"Rangga,, dengar kata papa. Papa dan mama saling mencintai, tentu papa dan mama juga akan memberi Rangga banyak Cinta seperti teman Rangga itu. Ingat Rangga itu di buat papa dan mama dengan penuh cinta" ucap Angga pada putranya.
Rangga langsung tersenyum begitu mendengar ucapan papanya
"Telima Kacih papa,," Rangga kembali memeluk Angga dengan begitu erat, dia merasa diinginkan dalam hidup ini oleh kedua orang tuanya.
"Iya sayang,," ucap Angga. Zara merasa lega setelah Rangga mengetahui semuanya. Sedikit bebannya sudah berkurang, Meski masih banyak beban yang lain didalam pikirannya. Akankah orang tua Angga nanti bisa menerima dirinya dan Rangga?! dan jika saatnya nanti mereka akan menikah, bagaimana keluarga Zara? Bagaimanapun Jika Zara ingin menikah, tentu dia membutuhkan wali nikah dari keluarganya.
"Pa,,,"
"Iya sayang?"
__ADS_1
"Apa papa mau jemput Langga dali tempat penitipan anak? langga pengen di jemput cepelti temen temen langga" ucap Rangga dengan tatapan memohon
"Iya papa mau, mulai besok papa yang akan anterin dan jemput Rangga di penitipan anak. Gimana? Rangga seneng?" tanya Angga
"Ya! Langga ceneneeengg bangeet. Makacih pa" ucap Rangga
"Iya sayang,,, " Jawab Angga
Mereka bertiga terlihat begitu senang karena bisa berkumpul bersama seperti ini.
"Akan kah takdir akan mempersatukan kami dalam ikatan pernikahan? " batin Zara
Kemudian Zara pamit ke belakang untuk menata belanjaan yang sudah mereka beli tadi.
"Apa perlu bantuan?" tanya Angga
"Tidak usah kak, Aku bisa sendiri. Temani Rangga saja" jawab Zara
"Baiklah kalau begitu" jawab Angga
Karena waktu sudah beranjak sore, Rangga ingin mandi. Namun mama Zara sedang sibuk memasak untuk makan malam mereka. Lalu Rangga meminta sang papa untuk memandikannya
"Langga mau mandi pa" ucap Rangga
"Tapi mama masih masak... mau di mandiin papa?" tanya Angga
"Ya mau!" jawab Rangga dengan cepat.
"Baiklah, ayo kita mandi" ucap Angga lalu mengajak Rangga ke kamar.
"Ra, Rangga mau mandi. Aku saja ya yang mandikan" ucap Angga
"Iya kak" sahut Zara yang sedang memasak sayur.
Lalu Angga melepas pakaian Rangga dan bocah itu berlarian masuk ke kamar mandi.
.
.
.
.
__ADS_1
Aku juga mau dimandiin papa Angga, wkwkwkwkwwk𤣠Senin Senin Senin ššššššššš