
"Apa ?! bapak mau apa? pukul saya?! pukul! silahkan pukul jika itu membuat bapak Sadar atas kesalahan bapak!" ucapan Angga memprovokasi pak Bagas untuk memukulnya. Bahkan Angga sudah menyiapkan wajah tampannya itu untuk kembali mendapat bogeman dari orang tua Zara
"Hentikan!" ibu teriak melihat kedua pria itu bersitegang
"Sebelum bapak memukul saya, saya sudah kenyang dengan pukulan papa saya! Bahkan saya harus di rawat berhari hari karena saya yang bodoh ini sudah menelantarkan Anak dan calon istri saya sendiri ! Anda tidak bisa memaafkan kami? anda tidak bisa menerima kami? tidak masalah! karena keluarga saya bisa menerima kami dengan tangan terbuka! Silahkan pukul pak Bagas YANG TERHORMAT!" Ucap Angga masih saja memancing pak Bagas yang tak kunjung memukulnya.
Beberapa saat pak Bagas diam, kemudian mendorong Angga hingga mundur beberapa langkah kebelakang. Pelukan Zara pada kaki bapaknya pun ikut terlepas, Lalu pak Bagas berlalu pergi masuk kedalam. Dengan cepat Angga membantu Zara untuk berdiri.
"Kenapa kakak bicara seperti itu?" Tangis Zara kian pecah saat menatap Angga,
"Apa lagi yang harus di lakukan? bapak mu tidak mau sadar, Jadi harus di sadarkan!" Jawab Angga menenangkan Zara.
"Tapi gak gitu caranya kak, gimana kalau bapak tambah marah?" Zara terus saja menangis meski sedang memarahi Angga.
Angga meraih kepala wanita itu dan memeluknya begitu erat.
"Aku yakin bapakmu akan berfikir setelah ini" batin Angga
"Aku akan membawa mu pergi dari sini" ucap Angga
"Jangan Ngga! kalian jangan pergi" Ucap Satria melunak. Satria bisa melihat besarnya cinta Angga pada Adiknya. Dia tidak menemukan itu saat Zara bersama Bryan. Satria yakin Angga akan mampun membahagiakan adiknya.
"Iya,, kalian jangan pergi, ibu mohon" Ucap Ibu Zara mendekati Angga yang tengah memeluk Zara
Kemudian Angga melepaskan pelukannya dan menatap Satria juga ibu Zara
"Kenapa ibu menahan kami?" tanya Angga dengan tatapan serius
"Tetaplah disini untuk beberapa hari, ibu yakin bapaknya Zara akan melunak hatinya. Ibu tidak menjamin itu tapi hati ibu berkata seperti itu. Ibu mohon,," ucap Ibu Zara dengan tatapan memohon
Angga dan Zara saling menatap, Zara mengangguk kecil dan seperti meminta Angga untuk mengiyakan.
"Baik, Kami akan tinggal beberapa hari disini, tapi jika pak Bagas tidak juga memberikan maaf pada kami, maka jangan halangi kami untuk pergi bu" ucap Angga
"Iya, Ibu akan bicara pada bapak kalian. Sekarang ajak Rangga istirahat. Kalian pasti lelah setelah perjalanan jauh" ucap Ibu yang kemudian berlalu menyusul pak Bagas ke kamar mereka.
"Kamu gak mungkin kan tidur di kamar Zara juga? kalian belum menikah, lebih baik kamu tidur di kamar tamu. Kamar itu bersih, ibu selalu membersihkannya" ucap Satria
"Iya kak, terima kasih" jawab Angga
"Kak Sat akan kembali ke kantor lurah, sore nanti baru pulang. Kalau ada apa apa segera hubungi kakak Ra. Nomer kak Sat masih yang lama" ucap Satria pada adiknya
"Iya,,," Jawab Zara
Kemudian Satria keluar dari rumah, dia akan kembali ke kantor lurah. Lalu Angga mengajak Zara untuk menemui putra mereka. Dilihatnya Rangga tengah bermain playpad edukasi anak ditemani pak Anwar.
"Rangga" panggil Zara
"Iya ma,, mama cudah celesai ulucannya?" tanya Rangga
"Iya, ayo kita masuk, istirahat di dalam dulu" ucap Zara
"Iya, Gendong pa" ucap Rangga dengan begitu manja
__ADS_1
"Ayo sini, gendong papa" jawab Angga lalu meraih tangan Rangga dan menggendong nya
"Pak Anwar istirahat saja di kamar tamu, pasti capek 2 jam nyetir mobil" ucap Angga
"Iya pak, istirahat di dalam saja" sambung Zara
"Baik, terima kasih"
Kemudian pak Anwar keluar dari mobil dan ikut masuk kedalam rumah. Zara menunjukkan kamar tamu pada pak Anwar, setelah itu dia mengajak Rangga dan Angga ke kamarnya.
"Pa,, nanti malam kita nginep dicini?" tanya Rangga
"Iya, kita akan menginap di rumah nenek dan kakek. Rangga denger kata papa!" ucap Angga dan Rangga menatap papanya dengan serius
"Kamu harus bisa ambil hati nenek dan kakek, agar kita bisa terus bersama" ucap Angga
"Ya! Langga bica pa!" jawab Rangga
"Anak papa memang pintar!" ucap Angga
"Kalian bicara apa?" tanya Zara yang baru masuk lagi ke dalam kamar dengan membawakan segelas susu untuk Rangga
"Gak ada ma,, nanti malam kita tidul di kamal mama ya ma?" tanya Rangga mendekat pada ibunya dan mengambil susu nya
"Iya" jawab Zara
"Cama papa juga?" tanya Rangga
Zara dan Angga saling menatap
"Iya pa!" jawab Rangga
"Kakak gak papa kan tidur di depan?" tanya Zara
"Gak papa, sebentar lagi juga kita akan bisa tidur bersama di kamar ini" Senyum Angga pada Zara mengandung makna tersendiri.
Sementara itu, di kamar orang tua Zara. Pak Bagas tengah merebahkan dirinya menghadap ke dinding, Sedang ibu Zara memunggungi suaminya, dia tidak akan diam saja kali ini.
"Zara sudah pulang kerumah bersama cucu kita, harusnya bapak senang! Zara pulang untuk meminta maaf pada kita! Apa tidak cukup bertahun tahun dia di hukum? kemana hati nurani bapak?!"
"Bapak lihat, Angga itu pria baik baik, jika dia bukan pria yang baik, dia tidak akan mungkin mau mengakui Rangga dan juga memperjuangkan Zara sampai detik ini. apa bapak tidak bisa melihat besarnya cinta Angga untuk anak kita?! Buang kekecewaan bapak, maafkan Zara bagaimana pun dia tetap putri kita. Ibu yakin dia akan bahagia dengan pilihannya sendiri" Ibu Zara tidak jadi tidur, dia ingin menangis tapi tidak ingin didekat pak Bagas. Kemudian dia memilih keluar dari kamar dan mencari kegiatan lain, membiarkan pak Bagas menyendiri.
Waktu terus bergulir, sejak kejadian tadi pagi pak Bagas tidak juga keluar dari kamar. Semua orang juga membiarkan saja, mau melihat sampai kapan pak Bagas akan seperti itu.
Rangga sudah semakin akrab dengan Satria dan ibu, anak itu sangat pandai mengambil hati keduanya. Sebenarnya dia ingin bertemu kakek, tapi nenek melarangnya sampai pak Bagas menyadari kesalahannya.
Waktu sudah menjelang malam, Angga baru saja keluar dari kamar Zara setelah menidurkan Rangga seperti biasa saat di kota. Namun Angga tidak akan tidur satu kamar dengan Zara, mengingat mereka belum menikah. Saat Angga akan masuk kedalam kamar tamu, Angga melihat pak Bagas sedang duduk sendiri di teras rumah menatap kegelapan. Lalu Angga masuk ke kamar tamu sebentar dia bertemu dengan pak Anwar yang memilih tidur di kasur bawah.
"Tuan sudah akan tidur?" tanya pak Anwar melihat Angga mengambil sesuatu dari dalam tasnya
"Belum. Pak Anwar tidur saja dulu. Aku masih ada urusan" ucap Angga
"Baik tuan, kalau ada apa apa, panggil saya saja tuan" ucap pak Anwar
__ADS_1
"Iya" Kemudian Angga keluar dari kamar tamu dan berjalan menuju teras rumah untuk menghampiri calon mertuanya.
Tanpa permisi Angga duduk di sebelah pak Bagas yang sama sekali tidak menoleh padanya.
"Dulu Bryan dan Zara itu berteman saat di sekolah. Aku dan mas Danang pikir Bryan dan Zara itu cocok jika di pasangkan. Saat itu kami berdua berharap mereka akan bahagia," ucap pak Bagas tanpa menoleh, Angga hanya diam dan ingin mendengar cerita pak Bagas saja
"Ditengah perjalanan kuliah Zara, biaya kuliah Zara terpakai untuk pencalonan Satria, tapi ternyata tidak sesuai harapan sedang biaya sudah banyak di keluarkan. Pak Danang datang bersama Bryan, mereka menawarkan bantuan untuk keperluan Zara kuliah sampai selesai. Karena berfikir mereka pasti bisa untuk hidup bersama, aku menerima tawaran itu tanpa di ketahui Zara. Aku mengira Zara akan bahagia setelah itu, dia akan mendapatkan suami yang baik dan juga mapan, tentu hidupnya nanti akan tentram dan berkecukupan. Tapi ternyata aku salah, nyatanya Zara tidak bahagia, dan aku tidak ada pilihan lain karena aku sudah berjanji pada Mas Danang dan Bryan. Aku sangat kecewa saat tau Zara sudah hamil dengan pria lain dan Aku merasa gagal menjadi seorang ayah! Aku merasa tidak bisa menjaga putriku sendiri dengan baik. Tapi Setelah aku tau kenyataannya hari ini , aku merasa sangat menyesal sudah memaksa Zara untuk menikah dengan Bryan,,. Besok bapak akan meminta maaf pada Zara." ucap Pak Bagas menembus kesunyian malam
"Kamu pria yang baik, bapak titip Zara dan cucuku padamu!" Pak Bagas beralih menatap Angga dengan mata berkaca kaca.
"Bahagiakan mereka, ya,," ucap Pak Bagas menepuk bahu Angga
"Insyaa Allah pak, saya akan menjaga amanah itu dengan baik" jawab Angga
"Terima kasih!" Bapak mengalihkan pandangannya lagi karena air matanya sudah jatuh, dan dia tidak ingin Angga melihatnya.
Didalam rumah, Ibu Zara mendengar semua ucapan kedua pria itu, dia terdiam dan menahan tangisnya yang sudah akan pecah. Dia merasa sangat bahagia karena bapak Zara sudah mau membuka hati untuk memaafkan kesalahan anak anaknya.
"Pak"
Pak Bagas menoleh saat Angga memanggilnya
"Ada apa?" tanya Pak Bagas
"Saya sudah melamar Zara secara pribadi. Dan malam ini saya sendiri akan melamar Zara didepan bapak. Ini sebagai seserahan lamaran dari saya" Ucap Angga menyerahkan tumpukan sertifikat pada pak Bagas
"Apa ini?" tanya pak Bagas kaget
"Silahkan di buka" ucap Angga
Dengan tangan bergetar pak Bagas membuka sertifikat yang paling atas. Dia di buat terkejut saat melihat sertifikat sawah yang 5 tahun lalu diberikan pada pak Danang kini berada di tangannya.
"Ini,,,,"
"Iya, ini sertifikat sertifikat sawah dan ladang yang pernah bapak berikan pada bapaknya Bryan untuk mengembalikan uang yang sudah di keluarkan keluarga Bryan untuk kuliah Zara. Semuanya lengkap, 3 hektar sawah dan 2 hektar ladang saya berikan sebagai seserahan lamaran saya. Dan besok orang tua saya akan kesini, untuk hadir di akad nikah kami" ucap Angga dengan tatapan serius
"Hah?!"
Bukan pak Bagas saja yang di buat terkejut, tapi juga ibu Zara yang sedari tadi menguping juga ikut terkejut!
.
.
.
.
.
Piye pak? piye bu? dapet mantu tajir melintir gitu masih mau disuruh pulang?!
Wes kalau gak mau, sini sawah dan ladangnya untuk aku aja! hahaahahah biar aku jadi kaya mendadak, dan aku gak mau nulis lagi🤣 pensiun langsung aku!
__ADS_1
Jangan minta tambah Up lagi ya, ini 2 bab tak jadikan 1 bab panjangggggg biar puaaaaasss 🤪