Aku Punya Papa

Aku Punya Papa
Pernah Muda


__ADS_3

"Kenapa kak Zara bertanya seperti itu?" tanya Liora


Zara tersenyum kecil saat Liora bertanya seperti itu.


"Benar kalian mau tau kenapa?" tanya Zara dan keduanya mengangguk


"Karena kakak pernah muda seperti kalian, dan kakak tau apa dan bagaimana perasaan kalian saat ini. Ya,, itu sama seperti dulu saat kakak menyukai kak Angga! tapi dia sangat jaim ! ayolah mengaku saja pada kakak!" ucap Zara


Baik Liora maupun Rizal jadi salah tingkah. Keduanya bingung harus bagaimana menghadapi kakak ipar yang sedikit rada rada,,,,,


"Jika kalian jujur pada kakak, kakak akan membantu kalian menghadapi papanya Rangga dan,,,, oma juga Opanya Rangga!" kekeh Zara melihat kedua anak muda di depannya itu tampak kaget.


"Kalian pikir akan mudah mendapatkan restu mereka. Berhubung kakak baik hati dan tidak sombong, tapi dengan catatan kalian jujur yah,,, kakak akan membantu kalian" ucap ibu hamil itu dengan begitu mudahnya. Karena dia tau Ibu Marissa juga menyukai Rizal, sempat beberapa kali Ibu Marissa membahas Rizal bersama Zara.


"Ayo jawab!" Ibu Marissa terlihat geram sendiri melihat Liora dan Rizal belum juga menjawab.


"Ck! Apa susahnya sih mengaku!" ucap pak Dermawan juga ikut kesal.


Bukan tanpa alasan mereka tidak langsung keluar, karena mereka ingin melihat kesungguhan Rizal, tentu mereka ingin yang terbaik untuk Liora.


"Um,, sebenarnya,,"


"Sebenarnya apa?!" Suara Angga sudah memenuhi ruangan besar itu dan mereka langsung menoleh ke arah pintu sudah ada Angga dan juga Rangga.


Tatapan Angga terlihat sangat serius, lalu keduanya masuk dan menghampiri orang orang yang sudah duduk di ruang tamu


"Mah, ini mie ayamnya. Katanya dedek bayi mau ma" ucap Rangga pada ibunya


"Ah iya sayang,, dedek bayi pengen makan mie ayam, ayo ikut mama ke belakang" ucap Zara


Lalu Zara mengajak Rangga untuk masuk kedalam. Angga sudah duduk dan kini berhadapan dengan Liora dan Rizal yang berwajah tegang. Lebih tegang daripada menghadapi Zara yang cengengesan.


Saat Zara dan Rangga sampai di perbatasan ruang tamu dan ruang kelaurga, keduanya kaget saat melihat ada pak Dermawan dan Ibu Marissa yang bersembunyi di balik dinding


"Astagfirullah! mama! papa!" ucap Zara setengah berbisik


"Sssstttt,,,! diammm" Ibu Marissa mengkode Zara agar diam

__ADS_1


"Oma dan Opa cedang apa dicini?! main petak umpet ya?!" tanya Rangga dengan suara nyaring. Tentu saja hal itu membuat yang lainnya menoleh ke arah suara Rangga.


"Kacau deh!" batin Ibu Marissa


"Ah ini,, ada cicak! kita mau nangkep cicak! iya kan Opa?" ucap Ibu Marissa menjawab dengan wajah tak enak


"Iya oma, kayaknya cicaknya masuk ke lemari deh,,," jawab Pak Dermawan


Zara terkekeh geli saat Rangga memergoki Oma dan Opanya yang ketahuan menguping.


"Sudah sudah, Rangga jangan banyak bicara, ayo temani mama makan" ucap Zara tidak mau Rangga membuat keributan di saat kondisi sedang menegangkan.


"Iya ma" jawab Rangga


"Zara, sisakan mie ayamnya buat mama ya" ucap Ibu Marissa


"Iya ma, kayaknya papanya Rangga beli banyak" Zara menunjukkan plastik yang dia bawa


"Oke! mama dan papa ke depan dulu" ucap Ibu Marissa


Lalu Ibu Marissa dan Pak Dermawan keluar dari tempat persembunyiannya. Sementara Zara membawa bocil itu ke belakang. Terlihat wajah serius dari kedua orang tua Liora saat muncul. Tidak ada senyum apalagi tawa sedikitpun.


Kedua orang tua itu duduk dan menatap Liora dan Rizal yang sedikit menunduk. Sementara Angga masih diam belum membuka suaranya lagi sejak tadi. Hanya tatapannya saja yang tajam seperti elang.


"Mereka berdua sudah membuat keributan di rumah sakit!" Angga membuka suara lebih dulu


"Apa itu benar?!" tanya Ibu Marissa


Liora dan Rizal kompak mengangguk


"Apa masalahnya?!" tanya pak Dermawan seolah tidak tau, padahal sebelumnya Zara sudah menceritakan berdasarkan cerita dari Angga.


Rizal mengangkat wajahnya setelah meyakinkan dirinya akan menghadapi semuanya.


"Saya akan ceritakan semuanya dari awal pak,,, " Ucap Rizal


Kemudian Rizal menceritakan dari awal cerita pertemuannya dengan keluarga Syifa, rencana perjodohan yang gagal hingga berbuntut pertengkaran mereka di rumah sakit.

__ADS_1


"Wanita itu saja yang mencari keributan lebih dulu pa!" sambung Liora


"Itu kan masalah Rizal, tapi kenapa kamu ikut campur?!" tanya Ibu Marissa


Liora terdiam, dia berbicara sendiri di dalam hati "Tidak mungkin aku katakan jika aku mengaku ngaku sebagai pacar kak Rizal! duh gimana ini?!" batin Liora gelisah


"Ma, Apa kita pelu kelual untuk membantu Aunty dan Om Lijal?" Tanya Rangga yang berdiri di dekat tembok pembatas ruang tamu dan ruang tengah


Zara menoleh ke belakang dan ternyata Rangga juga ikut mengintip tipis tipis


"Huss! anak kecil jangan ikut campur!" ucap Zara memperingatkan putranya


"Kembali ke meja makan, habiskan makanan mu sayang" ucap Zara mendorong Rangga agak kembali ke meja makan bersamanya. Baru di tinggal sebentar anak itu sudah menyusul


"Tapi ma,, itu Aunty di malahi Oma dan papa" ucap Rangga


"Ya ampun,,, itu urusan orang dewasa rangga..."


"Tapi mama mau bantu kan?" tanya Rangga menatap mamanya. Bocah tampan itu sudah di dudukan kembali ke kursinya


Zara terdiam dan menghela nafas berat


"Ya, mama akan bantu Aunty dan Om Rizal, tapi Rangga jangan keluar sampai pembicaraan orang dewasa selesai" ucap Zara dan Rangga langsung mengangguk.


"Mama yang telhebat!"


Rangga mengacungkan dua jari jempol tangannya pada sang mama dan Zara tersenyum sambil mengacak acak rambut hitam putranya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Pada bilang kelakuan keluarga Pak Dermawan itu kocak, dari pak Dermawan, Ibu Marissa, Liora dan akhirnya Nurun ke Rangga, di tambah mantunya yang juga 11 12 kayak mereka, cuma Angga yang kalem😌


__ADS_2