Aku Punya Papa

Aku Punya Papa
My Liora


__ADS_3

"Zal, kamu masih bisa bernafas kan?!" tanya pak Dermawan sedikit menahan senyum.


Wajah Rizal terlihat sangat merah karena begitu malu diledek pak Dermawan.


"Ma,,sih pak" jawabnya terbata


"Cuma jantungnya yang gak baik baik saja pa! coba papa periksa!" kekeh Ibu Marissa


"Hehe,,maafkan anak bapak ya, dia sedikit centil!" kekeh pak Dermawan dan Rizal tersenyum kaku.


"Ayo kita pulang" ajak pak Dermawan


"Baik pak" jawab Rizal


Lalu ketiganya pergi meninggalkan bandara, sedang Liora menunggu keberangkatan pesawatnya. Gadis itu jadi senyum senyum sendiri karena begitu berani mencium Rizal didepan keluarga nya.


"Semoga Papa dan mama gak marah!" ucap gadis itu sambil menutup wajahnya karena malu sendiri.


**


Hari demi hari telah berganti, minggu demi minggu sudah terlewati, hubungan Liora dan Rizal masih baik baik saja. Keduanya terus saling berkomunikasi di sela kesibukan masing masing. Karena berada di belahan dunia berbeda, mereka harus belajar saling memahami karena perbedaan waktu diantara kedua Negara. Jangan di tanya, tentu Rindu semakin menggunung, tapi mereka harus bisa menahannya. Setiap aktivitas yang mereka lalui, keduanya menyempatkan diri untuk mengirimkan foto aktifitas mereka. Seperti sekarang Rizal sedang berada di ruangan dokter Faizal.


Rizal juga masih sering bertemu dengan Rangga. Terkadang pemuda itu bertemu di rumah sakit dan sesekali berkunjung ke rumah keluarga pak Dermawan meski Liora tidak ada. Setelah selesai menjadi Asissten dokter Faizal, Rizal di panggil untuk menghadap pada pak Dermawan.


Dan saat ini Rizal sedang berhadapan dengan pak Dermawan di ruang kerjanya. Ntah kenapa dia di panggil, dan tentu ada hal yang sangat penting sampai Pak Dermawan memanggilnya


"Maaf pak, ada apa ya pak? kenapa bapak memanggil saya?" tanya Rizal dengan wajah tegang seperti biasa


"Begini Rizal, Bapak melihat prestasi kamu bisa lulus dengan predikat terbaik itu sangat luar biasa. Bagaimana jika kamu langsung lanjut mengambil spesialis saraf??" ucap pak Dermawan


"Tapi pak,, saya belum ada biaya yang cukup untuk melanjutkan kuliah saya" Jawab Rizal jadi berkecil hati karena keadaannya nyatanya begitu

__ADS_1


"Kamu tidak perlu fikirkan soal biaya. Saya, akan membantu kamu untuk mendapatkan beasiswa penuh untuk mengambil dokter spesialis Saraf" ucap pak Dermawan tanpa menyebutkan dirinya adalah pemegang saham terbesar di kampus kedokteran itu.


"Apa pak?!" Rizal begitu kaget tidak percaya sampai mulutnya setengah menganga


" Kenapa terkejut begitu?" kekeh pak Dermawan


"Saya takut salah dengar pak" jawab Rizal


"Besok temui pak Zulkifli jam 9 di ruangannya" ucap Pak Dermawan


"Ini beneran pak?" tanya Rizal lagi


"Iya, kamu mau apa tidak?!" pak Dermawan sedikit meninggikan suaranya


"Mau pak, mau,, alhamdulillah, terima kasih banyak pak. Saya tidak tau mau berkata apa lagi, saya,, saya sayang bahagia" ucap pemuda itu dengan rasa syukur.


Cukup lama Rizal berbincang bersama pak Dermawan, setelah itu dia kembali bertugas sebagai dokter jaga di rumah sakit Tri medika pusat. Karena Rizal tau pasti Liora saat ini sedang tidur, jadi dia hanya mengirimkan pesan yang dia yakin nanti malam baru mendapat balasan.


'My Liora'


Aku sayang kamu


**


Hari berikutnya,,,


Liora begitu senang karena Rizal mendapatkan beasiswa dan melanjutkan kuliahnya. Namun hatinya juga sedikit gelisah, karena tentu waktu nya akan tergerus, sedikit demi sedikit karena kesibukan Rizal yang semakin banyak. Tapi dia akan tetap memberi semangat meski hatinya sedikit berat.


Hari itu Rizal baru saja menemui pak Zulkifli sesuai perintah pak Dermawan, dan benar dia mendapatkan kesempatan untuk berkuliah lagi mengambil dokter spesialis saraf. Namun ada fakta yang baru dia ketahui, ternyata pak Dermawan adalah pemegang saham terbesar di kampus itu. Pantas saja dengan mudahnya memberikan intruksi pada pihak kampus. Lagi lagi dia bersyukur, karena Tuhan mempertemukan nya dengan orang orang yang baik sehingga mendapatkan ini semua.


..

__ADS_1


Perkuliahan sudah dimulai beberapa minggu ini, Ternyata hal itu lebih menguras tenaga dan pikiran Rizal. Pagi hari dia menjadi Asisten dokter Faisal, setelahnya dia harus kuliah sampai sore dan di lanjutkan dengan dia bertugas menjadi dokter jaga di ruang ICU. Hingga sampai dirumah dia benar benar merasa kelelahan dan langsung tidur. Padahal biasanya setelah pulang kerja, pemuda itu selalu menyempatkan untuk menelfon kekasihnya yang berada di benua lain.


"Sekarang kak Rizal udah jarang nelfon aku,, ngirim pesan juga enggak" ucap Liora yang sejak tadi menatap benda pipih miliknya, menanti pesan dari kekasih yang tak kunjung masuk


"Hey! kok mukanya di tekuk?!"


Liora terkaget saat mendengar suara seseorang yang tak asing di telinganya


"Gak papa Ev,,," jawab Liora yang saat itu sedang berada di kantin.


"Nungguin apa sih? dari tadi lihatin hape terus?!" Eve adalah teman Liora yang sama sama dari Indonesia dan sedang menempuh pendidikan disana seperti Liora


"Gak,,, " Liora memasukkan ponselnya ke dalam tas dan mengambil cemilan lalu memakannya.


"Ly,, kayanya Justin liatin kamu terus!" Eve menangkap tatapan Justin yang tertuju pada Liora


"Biarin, aku gak minat!" jawab Liora cuek tanpa melihat Justin yang duduk tak jauh dari mejanya


"Kenapa? dia itu kan tampan, pinter, kayaknya naksir kamu deh" cetus Eve lagi


"Aku gak minat sama bule. Aku cinta produk lokal! " sahut Liora terdengar ketus


"Hahaha bisa aja kamu!" kekeh Eve sambil memakan cemilan Liora


.


.


.


.

__ADS_1


.


Cintai produk produk indonesia, ya Liora 🇮🇩


__ADS_2