
Mobil Pak Dermawan sudah memasuki gerbang rumah besarnya. Rangga yang melihat luasnya halaman rumah itu dibuat menganga, belum lagi besarnya rumah yang berada di tengah tengah halaman luas itu.
"Oma, ini lumah oma?" tanya Rangga saat mobil berhenti di depan rumah
"Iya, ini rumah oma dan opa. Ini rumah kamu juga sayang" jawab Ibu Marissa
"Wow! becal cekali?!" ucap Rangga dengan polos
"Ayo masuk" Pak Dermawan mengajak cucunya untuk turun dan masuk kedalam rumah nya.
"Lumahnya becal cekali opa? tapi napa cepi cekali?" tanya Rangga begitu jujur.
"Iya, dirumah besar ini sangat sepi, papa kan kerja, tante Liora masih di luar negeri melanjutkan kuliahnya. Dan kakek neneknya papa juga sudah tiada. Jadi dirumah ini hanya ada Opa, Oma dan papa saja. Yang sedikit rame di belakang ada banyak orang orang yang bekerja di rumah ini" jawab pak Dermawan
" Makanya Rangga tinggal sama Oma yah disini sama Opa?" tanya ibu Marissa
"Mama?" tanya Rangga
"Iya, mama juga akan tinggal disini nanti setelah menikah dengan papa" jawab Ibu Marissa
"Langga mau tinggal dicini temenin oma" ucap Rangga
"Uhh manisnyaaaa,,, Pa, papa mandi saja dulu, gantian sama mama. Mama mau ajak Rangga ke dapur dulu ambil makanan " ucap mama
"Baiklah kalau begitu, Rangga, Opa ke mandi dulu yah,," ucap pak Dermawan
"Iya Opa" jawab Rangga
Kemudian Pak Dermawan masuk kedalam kamar untuk membersihkan dirinya. Sedangkan Ibu Marissa mengajak Rangga ke dapur mengambil berbagai macam makanan dan membawanya ke ruang keluarga. Rangga terlihat begitu senang karena Ibu Marissa terlihat sangat menyayanginya.
Tangan kecil Rangga terulur mengambil sebuah bingkai berukuran kecil, Dia seperti melihat dirinya sendiri berfoto di sana
"Itu papa mu waktu masih kecil. Mirip kan denganmu?" ucap Ibu Marissa sambil meletakkan makanan di atas meja
"Ini papa, Oma?" tanya Rangga
"Iya, itu papa,,, saat pertama kali Oma melihat kamu, Oma langsung teringat papamu saat masih kecil. Mirip sekali" ucap Ibu Marissa
Rangga melihat foto itu dengan seksama, ternyata dia benar benar mirip dengan papa nya
"Apa nanti kalau Langga becal akan tampan cepelti papa?" tanya Rangga
"Iya dongggg,, Rangga pasti akan tampan seperti papa Rangga" jawab Ibu Marissa.
Obrolan Rangga dan sang Oma terus berlanjut, sampai Opa Dermawan selesai mandi dan bergabung bersama mereka. Kemudian Oma Marissa pamit untuk gantian mandi dan kini Rangga di temani Opanya. Kemudian Pak Dermawan mengambil album foto lama dan membuka lembaran demi lembaran foto di dalamny. Banyak hal yang di ceritakan Opa Dermawan pada Rangga saat itu.
__ADS_1
Di apartemen Angga
Zara sedang berkutat di dapur kecil apartemen Angga untuk memasak makanan makan siang nanti. Sedangkan Angga yang tidak bisa tidur karena memikirkan cara untuk meminta maaf pada Zara pun akhirnya mendapatkan keberanian. Kemudian pria itu keluar dari kamar , dia mencium aroma masakan yang begitu menggugah selera, dia tau pasti saat ini Zara pasti sedang masak di dapur.
Zara sedang sibuk menumis kangkung di campur udang. Dia tidak sadar jika sedang di perhatikan seseorang
"Mau di bantuin gak?" ucap Angga setengah berbisik di dekat telinga Zara
"Kakak! " Zara terjingkat kaget kemudian mematikan kompornya
"Bikin kaget!" cetusnya lagi saat sudah berbalik menatap Angga dengan tajam
"Aku mau minta maaf, Aku janji tidak akan lagi menggodamu" ucap Angga dengan wajah menyesal
Melihat Wajah Angga yang menyedihkan, Zara hanya menghela nafas
"Sudah lah, Zara sudah tidak marah lagi. Duduklah,,," ucap Zara menyuruh Angga untuk duduk
"Kamu masak apa? kapan belanjanya tadi?" tanya Angga saat melihat sudah ada makanan di atas meja
"Tadi bahan makanannya, Zara pesan lewat online. Cuma ada ikan gurame saos padang, sama cah kangkung udang" Jawab Zara sambil memindahkan cah kangkungnya di piring saji
"Istri idaman banget sih kamu, masakan mu enak. Pinter banget manjain lidah dan perut aku" Ucap Angga saat Zara menghidangkan cah kangkungnya
"Muji sih muji, tapi tolong pak, tangannya di kondisikan!" Zara melotot tajam ke arah Angga karena tangan pria itu tengah mengelus pinggangnya sesekali lebih turun dan naik lagi
Fuh!
Zara menghela nafas berat
"Aku akan yakin kan orang tua mu " ucap Angga dan Zara mengangguk
"Sebenarnya,, Zara takut pulang. Takut saja jika bapak dan Ibu belum mau memaafkan Zara, kak" ucap Zara dengan lesu
"Kamu inget kan kata papa?! Semarah marahnya orang tua, dia tidak akan membenci darah dagingnya sendiri. Aku yakin bapak dan ibumu pasti sangat merindukanmu. Dan Aku juga yakin mereka akan sangat senang ketika melihat cucunya yang tampan dan menggemaskan seperti Rangga, seperti papa dan mama yang begitu senang saat mengetahui Rangga itu cucunya" ucap Angga
"Semoga saja begitu kak,,, Zara hanya takut saja mereka belum mau memaafkan Zara" ucap Zara
"Kita harus berjuang lagi untuk mendapatkan restu kedua orang tuamu sebelum kita menikah. Dan apapun akan aku lakukan agar kita bisa bersatu lagi"
**
Waktu sudah menjelang Malam ,,,
Mobil Pak Dermawan sudah kembali sampai di Apartemen Angga. Meski sebenarnya mereka Ingin Rangga menginap di rumahnya, tapi mengingat lagi di apartemen Zara dan Angga menginap disana. Kedua orang tua itu jadi was was, mereka takut Angga dan Zara akan mengulang masa pembuatan Rangga dulu. Untuk memulangkan Zara ke mess juga tidak mungkin mengingat Angga sakit dan butuh perawatan, jadi akhirnya mereka memulangkan Rangga agar mereka tidak bisa berbuat macam macam.
__ADS_1
Sampai di Apartemen Angga, mereka langsung masuk karena papa juga tau password unit apartemen Angga.
Langkah mereka terhenti saat mendengar suara suara aneh di dalam kamar, suara itu sampai keluar karena mereka tidak menutup pintunya.
"Uhhh pelan pelan sayang,,," ringis Angga sedikit keras, saat Zara mengoleskan salep di ujung bibirnya
"Iya maaf,, masih sakit ya?" tanya Zara dengan pelan, tidak tega melihat Angga merasakan kesakitan.
"Iya,, kan bibir ku robek gara gara papa" jawab Angga mengeluh sakit padahal sudah tidak terlalu sakit
"Uhh pelan pelan,,," Angga memegang tangan Zara yang akan kembali mengoleskan salepnya
Ibu Marissa membawa Rangga kembali keluar, sedangkan pak Dermawan dengan langkah lebar menuju ke kamar Angga untuk membuat perhitungan
"ANGGA!" Suara barito itu membuat Zara dan Angga menoleh ke arah pintu.
"Eh!" Pak Dermawan kaget saat melihat ternyata Zara sedang duduk di kursi sedang Angga berbaring. Dan saat itu Zara sedang mengobati luka di wajah Angga. Seketika marahnya yang sudah sampai di ubun ubun luluh lantak
"Maaf, papa kira,,,,, hehe kalian lanjutkan saja,, papa tunggu di luar sama mama dan Rangga" ucap Pak Dermawan dengan senyum tak enak.
Kemudian papa segera menghilang dari pandangan Angga dan Zara
"Pasti mereka pikir kita sendang bercintaa!" kekeh Angga
"Sudah lanjutkan sendiri!" Zara memberikan salep dan cotton bad di tangan Angga, kemudian dia beranjak dari tempat duduknya
"Loh,, loh,, belum selesai kok di tinggal?!" protes Angga
"Pasiennya cerewet!" Cetus dokter cantik itu dan terus berjalan keluar dari kamar.
"Sayang!"
"Sayang!"
Panggil Angga tapi Zara tidak mau kembali.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Sini Ngga sama aku aja kalau Zara gak mau🤪 aku juga bisa kok kalau cuma oles oles salep🤣Tapi habis itu bayar ya! 🤑