
"Selamat pagi dokter" Sapa Ibu Sumitri
"Pagi"
Suara barito itu terdengar seperti tidak asing. Dokter awalnya berdiri mengambil kertas, kemudian duduk kembali di kursinya dan melihat pasien yang dibawa suster ke ruangannya.
Deg!
Pak Danang dan Ibu Sumitri tiba tiba membeku saat melihat pak Dermawan sudah duduk di kursi kebesarannya. Pak Danang dan ibu Sumitri terpaku saat melihat pak Dermawan menatap mereka berdua bergantian
"Sus, kenapa kita disini?" tanya pak Danang
"Iya pak, karena Bapak akan di periksa langsung oleh dokter ahli Jantung di rumah sakit kami. Karena dokter lainnya sedang ada kunjungan di rumah sakit cabang, Jadi yang akan bertindak langsung adalah pak Dokter Dermawan, Sekaligus pemilik rumah sakit ini" Jawab Suster
"Apa?!"
"Bawa masuk sus" ucap pak Dermawan
Pak Danang merasa semakin lemas saat mengetahui jika dia akan di periksa oleh besan pak Bagas. Sedang ibu Sumitri yang masih berdiri di depan pintu seperti sudah tidak kuat menopang berat tubuhnya, tubuhnya terasa sangat lemas, keringat dingin tiba tiba muncul
Bruuukkkkk
Ibu Sumitri ambruk didepan pintu ruangan pak Dermawan
"Mama!" Teriak Bryan yang berada di atas kursi roda dengan selang infus di tangannya. Suster yang melihat ibu Sumitri pingsan pun bergegas membantu wanita paruh baya itu.
"Kenapa ibu ini pingsan?" tanya suster
"Gak tau" jawab temannya
Lalu mereka membawa ke ibu Sumitri untuk duduk di ruang tunggu
"Semua keluarga ini pingsan bergantian" cetus seorang suster yang tadi meninggalkan pak Danang di dalam ruangan pak Dermawan bersama suster.
"Kenapa mamaku bisa pingsan?" tanya Bryan
"Tidak tau tuan, tiba tiba ibu anda pingsan saat melihat dokter Dermawan" ucap suster
__ADS_1
"Dokter Dermawan?" tanya Bryan
"Iya Dokter Dermawan, dokter yang akan memeriksa kondisi jantung papa anda" jawab Suster
"Maksudmu, pemilik rumah sakit ini?" tanya Bryan
"Iya" jawab Suster
"Pantas saja mama juga ikut pingsan, pasti karena dia sudah tau yang sebenarnya" batin Bryan
Suster terus mencoba menyadarkan ibu Sumitri, sedangkan di dalam sana, pak Danang tengah berhadapan dengan besan pak Bagas.
"Bagaimana pak Danang, apa yang di rasakan saat ini?" tanya dokter Dermawan dengan santai saja.
Rasanya lidahnya kelu lengkap dengan ludah yang tercekat di tenggorokannya.
"Pak Danang kenapa? kenapa melihat saya begitu? apa saya seperti hantu?" tanya pak Dermawan, yang sebenarnya dalam hati ingin tertawa melihat pak danang yang sepertinya sangat syok melihat dirinya.
"Ti,,dak,,, " jawab pak Danang
" Jadi apa yang bapak rasakan sekarang?" tanya pak Dermawan
"Oh, jadi awalnya karena bapak terkejut, sampai bapak pingsan dan mengalami syok kardiogenik. Mari kita lakukan pemeriksaan pada jantung Anda" Pak Dermawan berdiri lalu meminta suster untuk membantunya memindahkan pak Danang . Sungguh kini pak Danang merasa sangat tegang karena harus di periksa oleh besan pak Bagas. Bagaimana jika berita ini sampai menyebar di desa? Sungguh dia tidak menginginkan itu, mau ditaruh dimana wajahnya? dia akan merasa sangat malu.
Sementara pak Danang sedang di periksa, Ibu sumitri bangun dari pingsannya setelah suster memberi minyak kayu putih. Wajah wanita paruh baya itu masih sangat pucat dan tubuhnya juga masih sangat lemah
"Mama gak papa?" tanya Bryan
"Tidak papa,, mama hanya terkejut saat melihat besan mas Bagas ada disini, dan dia akan memeriksa papamu. Mama tidak habis pikir, bagaimana bisa kita berobat di rumah sakit mereka" ucap ibu Sumitri dengan lirih
Bryan yang sudah tau lebih dulu hanya bersikap biasa saja. Dia tidak sebegitunya terkejut, tapi dia merasa sesak karena pegangan dari keluarga Zara sudah terlepas. Cukup lama pak Danang di periksa di dalam, kemudian pintu terbuka dan suster bersama pak danang keluar dari sana. Wajah pak Danang tampak lesu
"Apa yang terjadi pa?" tanya Ibu Sumitri dengan wajah cemas
" Bapak,, harus di operasi untuk memperbaiki katup Jantung yang rusak". Jawab pak Danang
"Apa?!" Bryan dan ibu Sumitri terkejut bersamaan
__ADS_1
"papa gak bercanda kan?" tanya Bryan
"Untuk apa papa bercanda soal hidup hah?!" jawab pak Danang
"Bryan hanya bertanya pa" ucap Bryan
"Jadi papa akan di operasi pak Dermawan itu?" tanya ibu Sumitri
"Iya, dan akan dijadwalkan jika keluarga sudah setuju" ucap pak Danang
"Demi kesembuhan papa, papa akan melakukan operasi itu" ucap pak Danang lagi.
Ketiga orang itu terlihat bersedih, mereka tidak menyangka jika pak Danang sampai harus di operasi. Meski operasi itu akan mengeluarkan banyak biaya, yang penting bagi pak Danang, dia harus sembuh.
Kemudian suster memanggil Bryan untuk melakukan pemeriksaan. Saat Bryan masuk bersama suster, terlihat wajah pak Dermawan begitu serius, dia menatap anak muda itu dengan tajam. Sekilas pak Dermawan membaca riwayat hasil pemeriksaan dokter yang menangani Bryan
"Suster, Bantu pasien untuk berbaring. Kita lakukan operasi sekarang!" Ucap pak Dermawan tanpa ba bi bu ba.
Bryan sudah ketakutan saat pak Dermawan mengatakan akan mengoperasinya, sementara sebelumnya tidak ada pertanyaan ataupun basa basi
"Tunggu!"
"Tunggu!"
"Saya tidak mau di operasi!" ucap Bryan menahan tubuhnya agar tidak pindah ke bed pasien
"Cepat suster! pria ini meresahkan jika terus di biarkan hidup!" ucap pak Dermawan
.
.
.
.
.
__ADS_1
Nah lo Bry! Langsung di eksekusi kamu!
Hahahahaahahaha🤣🤣🤣🤣🤣