
Rasa kebas dirasakan Angga dan Zara saat keduanya sudah saling melepas. Ntah berapa lama mereka saling beradu, kini wajah keduanya sama sama merona. Keduanya tersenyum lalu Angga melabuhkan kecupan sayang di kening Zara.
"Kamu masih saja sama seperti dulu, nakal! tapi aku suka!" bisik nya di telinga Zara
Zara mengigit bibirnya sendiri, bersama Angga sedekat itu membuat urat malunya langsung putus. Tapi, kali ini mereka tidak akan takut jika tiba tiba di gerebek, karena mereka sudah menikah, bukan seperti 5 tahun lalu saat mereka melakukannya di apartemen Angga.
"Kakak,,," ucapan Zara terdengar begitu manja hingga membuat Angga tersenyum
"Aku suka semua yang ada padamu, sekarang kamu tidur, temani anak kita tidur, aku akan keluar. Gak enak sama keluarga, pengantin baru siang siang di kamar terus, kalau dirumah sendiri iya,, bisa sepuasnya" ucap Angga
"Iya,, Zara juga ngantuk. Nanti bangunkan yahh,," ucapnya dengan begitu manja.
Cup!
Sekali lagi sebelum pergi, Angga menyesap dalam candunya sebelum keluar dari kamar, tak lupa tangan besar itu dengan nakalnya meremas gemas bigpao miliknya.
"Aaa,, Nakal!!" Zara kaget, lalu refleks menepuk bahu Angga saat kabur begitu saja setelah menggodanya.
"Enak,, empuk!" Kekeh nya sebelum menghilang dari balik pintu.
Zara mencibik, mau mengomel juga percuma, karena Angga sudah keluar dari kamar. Lalu Dia menghampiri Rangga dan ikut tidur siang bersamanya. Sedangkan Angga bergabung bersama Satria dan pak Anwar berbincang di ruang tamu.
"Oh iya kak Satria, disini kalau mau giling padi atau menjual hasil panen kemana?" tanya Angga saat mendengar obrolan mereka seputar padi
"Kalau mau giling padi, biasanya kita bawa ke gudang giling padinya pak Danang. Cuma dia yang punya gudang giling padi di desa ini. Terus kalau mau jual hasil panen, disini banyak tengkulak. Kalau bapak biasanya giling padi di desa sebelah, bapak malas kalau harus giling padi di tempat pak Danang. 5 tahun belakangan ini, hasil panen hanya untuk makan saja, tidak kami jual" jawab Satria apa adanya
"Jadi di desa ini hanya ada 1 tempat penggilingan padi?" tanya Angga
"Iya,, kalau mau buka, modalnya besar. Dulu bapak sempat kepingin buka sendiri, tapi gak jadi, karena gak enak sama pak Danang. Takut nyaingin. Padahal rumahnya cukup jauh dari sini. Tapi ya karena pak Danang dan bapak berteman baik saat itu, jadi diurungkan niatnya" ucap Satria
Angga terdiam sesaat, dia sedang berfikir bagaimana jika dia yang membuka gudang penggilingan padi.
__ADS_1
"Kak, Bagaimana jika aku ingin membuka gudang penggilingan padi di sini?!" tanya Angga
"Mau nyaingin pak Danang kamu Ngga??"
Angga dan yang lainnya melihat ke arah pintu dan melihat pak Bagas baru saja sampai di depan pintu
"Heheh,,, memangnya gak boleh pak? saingan dalam bisnis itu kan hal biasa? Bisnis boleh sama, strategi bisa ditiru tapi satu hal yang tidak bisa ditiru pak,,"
"Apa?" tanya pak Bagas
"Rejeki dari Allah" jawab Angga
"Ya kalau itu bapak percaya. Terus siapa yang mau mengelolanya?" tanya Pak Bagas ikut bergabung bersama mereka
"Kak Satria,, Bapak yang mengawas. Nanti kita cari pegawai saja. Bagaimana?" tanya Angga
"Nanti akan Angga pikirkan konsepan nya, yang penting dimana kita akan buka gudang itu?" tanya Angga
"Bapak bisa Aja" cetus Satria
"Hehe bapak kan hanya membuka jalan, nanti yang menikmati hasilnya juga Rangga, benar kan kata bapak?" tanya Pak Bagas
"Iya pak, bisa untuk masa depan Rangga dan adik adiknya nanti" kekeh Angga, tentu sudah tau kemana arah pembicaraan pria itu.
Obrolan terus berlanjut, banyak hal yang mereka bahas. Sedangkan itu, di tempat lain, Bryan dan keluarga sudah sampai di rumah sakit Medika Pusat. Setelah memberikan surat rujukan dari dokter Dania, pak Danang langsung di tangani oleh dokter Zia sebagai pengganti dokter Zara yang sedang ambil cuti.
Kemudian Bryan dan Ibu Sumitri menunggu di depan ruang tunggu. Bahkan terlihat pakaian mereka yang tadinya basah karena tersiram air kembang 7 rupa oleh satria pun sudah kering di badan.
"Semoga bapak gak kenapa napa" ucap Ibu Sumitri dengan perasaan cemas
"Aamiin" sahut Bryan
__ADS_1
Cukup lama mereka menunggu pak Danang yang sedang di tangani dokter, kemudian pintu ruang IGD terbuka, dokter Zia keluar dari balik pintu.
"Dokter, bagaimana kondisi suami saya?" tanya Ibu Sumitri
"Pasien baru saja sadarkan diri bu, tapi kondisinya masih sangat lemah. pasien terkena Syok kardinogenik. Syok kardiogenik adalah syok yang disebabkan oleh ketidakmampuan jantung untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Untung saja segera di bawa kerumah sakit, jika tidak ini sangat berbahaya dan bisa mengancam keselamatan nyawa pasien" ucap Dokter Zia
"Jadi papa saya belum bisa di jenguk dok?" tanya Bryan
"Belum pak, kondisinya masih sangat lemah dan belum bisa di ajak berkomunikasi untuk saat ini. Lebih baik, bapak urus dulu administrasinya agar pasien mendapatkan kamar inap" ucap Dokter
"Baik dokter" jawab Bryan
"Baik kalau begitu, saya masuk dulu. Nanti setelah kami pastikan pasien sudah bisa di pindah kamar inap, kami akan memindahkannya, permisi" Kemudian dokter Zia kembali masuk kedalam ruang IGD.
Kemudian Bryan menuju ke bagian administrasi sedangkan ibu Sumitri memilih untuk tetap di depan ruangan IGD. Saat baru saja sampai di bagian administrasi,
"Bryan,,,"
.
.
.
.
.
Siapaaaa yahhh?🤔
Ayo main tebak tebakan, siapa yang manggil Bryan si mulut lemes? 🤪
__ADS_1