
Ceklek!
"Silahkan masuk Dokter" Suster membuka kan pintu ruangan Inap kelas 1 agar para dokter bisa dengan leluasa masuk ke ruang inap itu untuk memeriksa kondisi pasien yang akan menjalani operasi Jantung.
Karena Zara hanya dokter pendamping, dia tidak melihat riwayat pasien yang akan di periksa terlebih dulu. Saat rombongan Dokter Yoga masuk, pak Danang sedang terbaring di bed rumah sakit dan Bryan bersama ibu Sumitri tengah duduk didekat pak Danang. Semua menoleh saat pintu di buka oleh suster
"Selamat pagi Pak Danang,,," sapa Dokter Yoga saat masuk
"Pa,,gi,, Dok,,ter,," Pak Danang, Bryan dan Ibu Sumitri terkaget kaget melihat Zara masuk bersama dokter yang akan memeriksa kondisi pak Danang.
"Apa aku tidak salah masuk ruangan?! ternyata Pak Danang di rawat di ruangan ini... " batin Zara saat melihat keluarga pak danang yang terlihat kaget
"Bagaimana kondisinya pak?" tanya Dokter, sambil mulai memeriksa kondisi pak Danang
"Sedikit membaik dokter, tapi dada saya masih sedikit terasa sakit" jawab pak Danang
"Apalagi lihat dia" sahut Ibu Sumitri menatap Zara dengan tatapan tidak suka.
"Saya?" ucap Zara dan membuat suster juga Dokter Yoga melihat ke arah Dokter Zara
"Ya! karena kamu suami saya masuk rumah sakit!" Jawab ibu Sumitri dengan nada ketus
"Ma,, sudah lah ma,,," ucap pak Danang menghentikan istrinya sebelum terjadi kegaduhan di rumah sakit.
"Memangnya ada masalah apa pak, dengan dokter Zara?" tanya Dokter Yoga
"Masalah pribadi dokter,,," Sahut Bryan
"Bukankah kalian yang cari masalah?! apa masih belum sadar juga?!" cetus Dokter Zara
Bryan berdiri dan menatap tajam ke arah Zara, Namun dokter cantik itu tak sedikitpun takut menghadapi mantan suaminya
"Bryan! Jangan buat keributan!" Pak Danang berbicara sedikit keras untuk menghentikan kelakuan putranya. Tiba tiba nafas pak Danang tersengal sengal setelah berteriak
"Papa!" Bryan dan Ibu Sumitri kaget saat melihat pak Danang memegangi dadanya. Kemudian Dokter Yoga segera memeriksa kondisi pak Danang di bantu Dokter Zara.
Namun Saat Zara ikut memeriksa kondisi pak Danang, Bryan kembali melayangkan tatapan tajam ke arah Zara
"Jangan kau sentuh papaku!" ucap Bryan
Zara yang awalnya ingin ikut memeriksa pak Danang langsung menghentikan niatnya. Dan Zara membalas tatapan tajam Bryan tanpa berkedip.
Dokter Zara memilih mundur dan menyuruh suster untuk membantu dokter Yoga.
__ADS_1
Beberapa saat kondisi pak Danang kembali stabil setelah mendapat penangan dari dokter Yoga dan Suster.
"Besok jam 10 pagi, jadwal operasi pak Danang ya pak, bu" ucap Dokter Yoga
"Baik dokter" jawab Ibu Sumitri
"Dokter siapa yang akan mengoperasi papa saya besok dok?" tanya Bryan
"Apa anda belum melihat jadwalnya?" tanya dokter Yoga
"Belum saya belum ke administrasi" Jawab Bryan
"Oh begitu, Besok yang akan memimpin operasi jantung pak Danang adalah Dokter Angga, dan di bantu tim 3" jawab Dokter Yoga
Deg!
Bryan, Ibu Sumitri dan Pak Danang lagi lagi di buat kaget
"Apa tidak ada dokter lain dok?! saya tidak mau papa saya di operasi oleh dokter Angga! Saya akan bayar mahal tapi jangan dokter itu yang mengoperasi papa saya! bisa bisa dia membuat papa saya mati!" ucap Bryan
"Kenapa anda bicara seperti itu pak? Dokter Angga adalah dokter ahli bedah dan terbaik di rumah sakit ini. Di Tim 3 juga ada beberapa dokter bedah yang mendampingi dokter Angga. Jika anda tidak membolehkan Papa anda di bedah oleh dokter Angga, silahkan bawa pulang papa anda atau bawa saja kerumah sakit lain" Jawab Dokter Yoga merasa jengah dengan sikap anak pasiennya itu.
Bryan terdiam, tatapannya beralih pada Zara yang balik menatapnya dengan tatapan sinis.
"Tidak ada bu, jika keluarga tidak berkenan, silahkan pindah kerumah sakit lain saja bu." Jawab Dokter Yoga
Pak Danang terlihat pasrah, dia tidak ingin cepat pergi untuk selamanya, tapi dengan dia di operasi dirumah sakit itu, tentu dia akan berhadapan dengan Angga.
Sudah salah sejak Awal, harusnya mereka tidak mengusik keluarga Zara lagi setelah kejadian bertahun tahun yang lalu, saat pak Bagas menyerahkan sertifikat sawah dan ladang padanya, namun karena merasa di permalukan oleh keluarga itu, membuat mereka dibutakan dan selalu ingin melihat keluarga pak Bagas jatuh. Dengan begitu mereka semakin senang dan puas .
"Tidak papa saya di operasi Dokter Angga saja" ucap pak Danang dengan nada pasrah
"Pa!"
"Sudah lah Bryan,, percayakan saja pada dokter di rumah sakit ini, papa lelah" ucap Pak Danang
"Tapi dia,,,"
"Tidak perlu berdebat! papa yang akan di operasi bukan kamu! apa kamu mau juga di operasi??" Ucap pak Danang
"Cih! aku tidak akan sudi di operasi dokter Angga itu!" batin Bryan
"Baik kalau begitu, persiapkan diri anda ya pak, jangan terlalu banyak berfikir. Relaks saja " ucap Dokter Yoga
__ADS_1
"Iya Dokter" jawab pak Danang
"Kalau begitu kami akan kembali bertugas untuk memeriksa kondisi pasien lain. Permisi" ucap Dokter Yoga.
Kemudian Dokter Yoga pergi dari ruangan itu bersama dokter Zara dan suster. Sedangkan Dokter Zara tidak memberi tanggapan sama sekali.
"Pa, bagaimana jika besok Angga malah akan membunuh papa?!" ucap Bryan
"Bisa saja kan, dia sengaja melakukan kesalahan dan malah mengancam nyawa papa!" ucap bryan
"Iya pa, mama takut juga, bisa saja kan, Angga berbuat seperti itu. Kita pindah rumah sakit kain saja pa. Kan masih banyak rumah sakit lain yang lebih baik daripada rumah sakit ini. Lagian disini biaya rumah sakitnya sangat mahal di banding dengan rumah sakit lain" ucap ibu Sumitri
Pak Danang menghembuskan nafas berat sebentar
"Pasrahkan saja semuanya pada yang di atas. Percayakan pada dokter dirumah sakit ini. Papa yakin mereka akan bekerja profesional" jawab Pak Danang yang kemudian menutup mata dan telinga. Tidak ingin mendengar perdebatan lagi..
Rasanya Bryan masih tidak bisa menerima, tapi semua sudah di putuskan papanya, dia bisa apa?!
**
Jam makan siang, Dokter Zara yang baru saja duduk di kursi kerjanya sudah di hampiri suster Indah
"Siang Dokter" sapa Suster Indah
"Siang sus, ada apa?" tanya Dokter Zara
"Begini Dok, tadi Dokter Angga menelfon, dan mengatakan jika dokter sudah kembali ke ruangan dokter, Dokter Angga berpesan agar dokter menghadap dokter Angga di ruangannya" ucap suster
"Menghadap? memangnya ada apa?" tanya Zara
"Saya tidak tau dok, hanya di beri pesan seperti itu" ucap Suster Indah
"Baiklah, saya akan ke ruangannya sekarang" ucap Dokter Zara yang kemudian berdiri lagi dan akan pergi ke ruangan Dokter Angga. Dalam benaknya, Zara berfikir kenapa suaminya memanggilnya.
"Apa ini ada kaitannya dengan orang penyebar gosip itu?" batin Zara
.
.
.
.
__ADS_1
Nanti kalau sudah tau rivalmu itu Jane oh Jane, Jambak aja yo Ra rambutnya! terus sudah itu tendangggggggg rubah betina itu dari rumah sakit, wkwkwkwkw kasih pelajarannnn buat yang suka irian! 🤣