
Angga masih berada di mess Zara sampai malam itu, rasanya dia tidak ingin pulang. Dia sudah terlalu nyaman bersama Rangga dan Zara meski berada di dalam mess yang sempit itu. Malam itu Rangga meminta Angga untuk menemani dia tidur lagi. Tapi kali ini Rangga ingin di temani kedua orang tuanya.
" Celama ini Langga gak pelnah melacakan tidul dipeyuk mama dan papa. Langga ingin,,," ucapnya dengan mata berkaca kaca.
Mana ada orang tua yang tega melihat anak mereka memohon dengan wajah sedih seperti itu. Dan tidak bisa di pungkiri, memang selama 4 tahun itu dia hanya hidup bersama sang mama tanpa kasih sayang papa. Tentu Rangga ingin merasakannya juga seperti keluarga lain.
Akhirnya malam itu Rangga tidur di temani Zara dan Angga. Rangga tidur di antara papa dan mamanya. Terlihat anak itu begitu bahagia, Seperti biasa, Zara akan membacakan cerita sebelum tidur, dan Angga memilih untuk mengusap lembut kepala putranya.
"Langga cayang papa dan mama" ucap anak itu dengan tersenyum bahagia.
"Tidurlah sayang,, sudah malam" ucap Angga pada putranya
"Iya pa,," jawab Rangga yang kemudian memejamkan mata sambil memeluk sang papa. Zara menatap haru keduanya,,,
Angga menangkap basah Zara yang sedang menatapnya. Dia tersenyum, dan Zara terlihat malu malu. Ntah kenapa dia jadi salah tingkah jika ditatap oleh Angga. Padahal mereka bukan remaja lagi, tapi Lama tidak bertemu membuat Zara seperti kembali merasakan kasmaran untuk kedua kali dengan pria yang sama.
Rangga sudah tidur, kemudian Zara cepat cepat turun dari tempat tidur. Angga pun juga melakukan hal yang sama, dia harus pulang karena malam itu sudah hampir jam 10 malam. Lalu keduanya berjalan keluar dari kamar, dan Zara akan mengantarkan Angga sampai di depan pintu keluar.
"Ra,,"
"Iya kak?" Zara menatap Angga yang memanggilnya
"Rasanya aku tidak ingin pulang" ucapnya dengan jujur
"Tapi kakak harus pulang" jawab Zara
"Aku ingin disini bersama kamu dan anak kita,,,," ucapnya.
"Tapi,,,"
"Aku ingin kita segera menikah,,, " ucapnya terjeda
"Kamu mau kan menikah denganku?!" tanya Angga saat mengeluarkan sebuah cincin dari saku celananya
Zara di buat terkejut karena tiba tiba Angga mengatakan hal seserius itu. Bahkan Zara kaget, darimana pria itu mendapatkan cincin berlian cantik itu, sedang seharian mereka bersama tanpa mampir ke toko perhiasan
__ADS_1
"Apa ini sebuah lamaran?" tanya Zara terdengar sedikit gugup
"Iya, ini lamaran secara pribadi , sebenarnya sejak dulu aku ingin melamar mu, cincin ini aku design setelah malam penyatuan kita dulu. Aku mendesainnya sendiri untuk mu, meski setelah itu kita putus, tapi Setelah cincin ini jadi, aku masih menyimpannya. Kamu mau kan hidup bersamaku, bersama anak anak kita?" tanya Angga
Zara mengangguk, dia terlalu haru, merasa bahagia malam itu.
"Tidak kah ini terlalu cepat kak?" tanya Zara
"Tidak,,, aku tidak ingin di tikung orang lain, apalagi banyak dokter dokter genit yang selalu mendekatimu! . Secepatnya aku akan bawa kamu bertemu dengan keluarga ku" Ucap Angga dan Zara mengangguk.
Kemudian Angga memasangkan cincin itu pada jari manis Zara, ukurannya sangat pas di jari jari lentik itu.
"Pas sekali ukurannya, cantik" pujinya saat melihat jari manis itu sudah di hiasi sebuah cincin yang cantik
"Terima kasih" ucap Zara merasa bahagia. Dia tidak menyangka jika Angga melamarnya secepat ini.
"Sama sama" jawab Angga Dengan tersenyum
"Kak,," ucap Zara
"Apa,, keluarga mu akan menerima kami nanti?" tanya Zara dengan rasa cemas
"Keyakinan ku, mereka akan menerimamu dan Rangga" Angga lupa jika Ibu Marissa sudah pernah bertemu dengan Rangga, bahkan karena Dia menunjukkan foto Rangga lah, Angga bisa bertemu dengan putranya.
"Aku akan memperjuangkan mu dan anak kita. Apapun yang akan terjadi nanti. Aku ingin kita hidup bersama dan tidak akan terpisah lagi. Secepatnya aku akan memperkenalkan kamu dan anak kita pada kedua orang tuaku. Aku akan mengatur semuanya, kamu yang sabar ya" ucap Angga
"Iya,, aku percaya pada mu. Kita berjuang sama sama" jawab Zara tersenyum manis, dia yakin Angga akan menepati janjinya untuk memperjuangkan dirinya dan Rangga.
Keduanya berbalas senyum, sungguh mereka berdua tidak menyangka jika takdir mempertemukan mereka lagi setelah mereka terpisah selama bertahun tahun. Sudah cukup keduanya sama sama menderita, dan kini mereka ingin bahagia.
Zara membulat kaget saat merasakan kehangatan menerpa bibirnya. Rasa yang masih sama seperti pertama kali dia rasakan. Saat dia terhanyut, Zara pun sudah memejamkan matanya
"Apa ini mimpi? tapi rasanya seperti nyata?!" batinnya.
"Ra,,"
__ADS_1
"Zara,,,"
Zara tersadar dan kaget saat Angga menepuk bahunya.
"Astagfirullah!" Zara refleks menutup mulutnya dengan kedua tangannya
"Kamu kenapa? lagi mikir mesuum ya?!" kekeh Angga
"Hah?! gak lah! udah sana pulang,,,!" Ucap Zara menutupi rasa malunya
"Hehe,, sabar sabar,, tunggu sampai kita menikah beneran, yah!" kekeh Angga yang kemudian membuka pintu keluar
"Apaaa sih?" Zara tersipu malu, dia tidak habis pikir dengan pikirannya sendiri
"Hehe aku pulang yah,, Assalamualaikum" ucap Angga dengan tersenyum
"Wa'alaikumsalam hati hati,," jawab Zara
"Iya,, nanti aku langsung hubungi kamu kalau sudah sampai dirumah" ucap Angga
"Iya,," jawab Zara
Kemudian Angga terus melangkah pergi meninggalkan Zara yang masih menatap punggung kekar itu semakin menjauh.
"Kayaknya otakku mulai konslet! kenapa aku berfikir mesuum terus ?! Oh ya ampunnn Zara,,,," gumam Zara, kemudian dia menutup pintu setelah Angga menghilang dari pandangannya.
.
.
.
.
Kurang belaian buk?! makanya cepet nikah, biar di belai tiap hari! Hahahaaah🤣🤣
__ADS_1