
Semua orang sedang menatap tajam ke arah pak Dermawan, sudah seperti akan di kuliti saja, apalagi tatapan Angga begitu jelas menggambarkan kilat ketidak sukaan
"Papa,, gak ngajarin Rangga bilang begitu,, beneran!" ucap Pak Dermawan sudah panas dingin.
Ceklek!
"Assalamualaikum" ucap Rizal saat masuk kedalam ruang rawat Zara dengan membawa hadiah untuk si kembar.
"Wa'alaikumsalam" jawab semua orang langsung tertuju ke arah pintu.
Rizal terlihat bingung saat melihat semua orang menatapnya dengan tatapan aneh. Pemuda itu melihat dirinya sendiri dari atas ke bawah, rasanya biasa saya, dia juga memakai pakaian formal dan memakai jas dokter karena akan bertugas di IGD. Tapi kenapa mereka semua menatapnya begitu?
"Om Lijal,,, cini Om,,," ucap Rangga dengan begitu senang
"Alhamdulillah,,, aku terbebaskan!" batin pak Dermawan saat semuanya sudah tidak menatap dirinya dengan tatapan tajam.
"Dokter Zara, Dokter Angga, selamat atas kelahiran buah hatinya. Ini ada hadiah kecil untuk si kembar" ucap Rizal sambil meletakkan paperbag di atas nakas Zara
"Terima kasih Zal" jawab Zara, Rizal tidak tau jika mereka masih terhubung dengan panggilan Video Liora, dan gadis itu bisa melihat kekasihnya ada disana.
"Om, liat nih adik Langga" ucap Rangga
Lalu Rizal melihat ke box bayi, disana ada dua bayi yang sedang terpejam matanya.
"Namanya siapa kak Rangga?" tanya Rizal pada Rangga
"Yang ini Accam dan ini Accula Om" jawab Rangga
Rizal masih bingung dengan ucapan Rangga
"Namanya Azzam dan Azzura" sahut Ibu Marissa
"Ooohhhh,,, adek Azzam dan adek Azzura yah,,, maasyaa Allah gemesss" ucap Rizal
"Kalau Om mau, Om kawin duyu cama Aunty" ucap Rangga dan Rizal langsung menganga
"Hah?!"
"Iya,, kata Opa gitu, haluc kawin dulu balu jadi adek bayi kayak gini" ucap Rangga dengan celotehnya yang tidak bisa di rem, apalagi di filter, mana ngerti bocah itu, dan Rizal terlihat sangat Syok, tapi gak sampai pingsan.
__ADS_1
"Ini semua gara gara papa! apa yang papa ajarkan pada Rangga?!" bisik Ibu Marissa pada pak Dermawan dengan mencubit kecil pinggang nya
"Tidak ma,, ini semua gara gara Liora!" cetus pak Dermawan
"Kok aku pa?!" protes Liora
Rizal tersadar lalu melihat ke arah pak Dermawan, dan melihat Pak Dermawan sedang memegang ponselnya
"Iya karena kamu papa harus bingung jelasin ke Rangga arti kawin! jadi gini deh!" jawab pak Dermawan
Keluarga pak Dermawan ribut, sedangkan pak Bagas dan yang lainnya hanya tersenyum
"Kalau mau ribut di depan saja, ada bayi lagi tidur" cetus Angga dan semuanya langsung diam.
Rizal benar benar masih tidak percaya jika Rangga bisa mengatakan hal seperti tadi di depan banyak orang, apalagi membawa bawa nama opanya. Semua orang keluar dari ruangan Zara kecuali Zara, Angga dan kedua bayi kembar mereka yang akan menyusu.
"Kak,, kita harus benar benar mengawasi Rangga kak. Anak itu keingintahuannya sangat tinggi, apalagi dengan hal baru yang dia tidak tau. Maka dia akan mencari tau sampai dia benar benar paham" ucap Zara
"Iya kamu benar,, mungkin karena di rumah dia bertemu dengan orang dewasa, kadang orang dewasa suka lupa bicara sampai Rangga dengar lalu ingin tahu. Hanya di sekolah dia bisa bermain dengan anak seusia dia. Tapi mau bagaimana? adik adiknya masih bayi" ucap Angga juga bingung
"Kita lihat setelah kedua adiknya lahir, apa anak itu akan sibuk dengan adik adiknya atau,, masih tetap seperti ini?" ucap Angga lagi
"Mana bisa begitu, Sifat seseorang itu alami dari dirinya sendiri, meski ada kemiripan dengan orang tuanya,, tapi,, kayaknya Rangga itu kayak kamu" kekeh Angga
Zara langsung menghela nafas berat,,,
Sementara itu di luar, keluarga masih berkumpul disana. Mereka duduk sambil berbincang dan menunggu Zara selesai menyusui kedua bayinya.
Rizal dan Rangga juga ada disana, bahkan keduanya masih berbincang dengan Liora
"Aunty kapan pulang?" tanya Rangga, bocah itu berada di pangkuan Rizal yang saat itu sambil menggenggam ponselnya yang terhubung panggilan Video. Saat ini mereka sedang duduk di kursi tunggu yang sedikit jauh dari keluarga.
"Masih lama, Aunty gak boleh pulang sama Opa sebelum Aunty lulus,, gimana dong?" tanya Liora
"Om Caja yang cucul Aunty" ucap Rangga pada Rizal
"Ya gak bisa gitu Rangga,, Om harus tugas disini, dan Om juga harus menyelesaikan kuliah Om, jadi Om gak bisa susul Aunty ke Jerman" jawab Rizal
"Om gak kangen cama Aunty?" tanya Rangga dan Liora terlihat sedang senyum senyum
__ADS_1
"Kangen,, kangen banget, kangennya di tabung, nanti kalau sudah waktunya di luapin kangennya" jawab Rizal
" Memang bica kangen di tabung?" tanya Rangga
"Bisa,, Om punya tabungan rindu" jawab Rizal
"Cepelti apa?" tanya Rangga penasaran
"Kepo! kecil kecil suka kepo!" sahut Liora
"Aunty ala cih?! bawel dech!" sungut Rangga
"Lihat Om" ucap Rangga masih penasaran
"Rangga gak bisa lihat, hanya Om dan Tuhan yang tau" jawab Rizal
"Ah Om pelit! malec ah cama Om!" Bocah tampan itu merajuk, lalu dia bangkit dari pangkuan Rizal
"Kok ngambek sih? nanti gantengnya ilang loh" Rizal dan Liora terkekeh
"Gak akan ilang, ini ganteng aceli bukan opelaci!" jawab Rangga dengan wajah cemberut lalu pergi meninggalkan Rizal.
"Omaa, Opa,,, Omty nackal!" Rangga berteriak lalu berlari ke arah Opa dan Omanya
"Waduh! dia ngadu sayang!"
.
.
.
.
Bahahahhahaah kalian bedua, siap siap kena semprot Opa dan Oma nya Rangga yah 🤣
Boom Like dan Komen dong gaessss 😌
__ADS_1