
Mobil Dika baru saja memasuki area parkir rumah sakit Tri Medika Pusat. Hari itu adalah hari pertama Dinda praktek di rumah sakit itu sebagai dokter anak. Dinda sudah tau jika Zara juga praktek di rumah sakit itu, dan dinda akan memberi kejutan pada Zara jika mereka bertemu nanti. Tapi sepertinya Dinda yang akan di buat terkejut jika tau semuanya.
"Makasih ya sayang,,, " ucap Dinda pada Dika, kemudian dokter cantik itu akan turun dari mobil suaminya.
"Iya, nanti di jemput jam berapa?" tanya Dika
"Sore bang, jam 5an yah, soalnya banyak kegiatan Dinda disini. sebetulnya praktek cuma sampai jam 3" jawab Dinda
"Ya sudah nanti abang jemput setelah selesai ngajar,, semangat kerjanya bu dokter cantik" ucap Dika dengan mengusap lembut wajah istrinya
"Semangat juga ngajarnya pak dosen" jawab Dinda
Kemudian Dinda mencium tangan Dika, lalu pamit untuk bekerja. Setelah istrinya keluar dari mobil dan berjalan ke rumah sakit, Dika langsung meninggalkan rumah sakit menuju ke kampus .
Di kediaman rumah pak Dermawan
"Hallo adek,, " Sapa Rizal dengan ramah, senyumnya pun terukir begitu manis
"Anda ciapa? mau apa?" tanya Rangga mengamati pria dewasa di depannya
"Saya, Kak Rizal, ini kakak mau balikin dompet ini" Rizal mengeluarkan dompet berwarna merah maron dari dalam tasnya, sementara Rangga mengamati dompet yang dibawa oleh pria dewasa itu
"Itu dompet Aunty!" Dengan cepat Rangga turun dan menghampiri Rizal
"Aunty,,, Auntyyy,,," teriak Rangga
Dari dalam rumah, Liora berlarian saat mendengar Rangga memanggilnya
"Iya Rangga,, Ada apa?" Liora menghentikan langkahnya saat melihat Rangga bersama seorang pemuda yang tidak dia kenal
"Aunty, ini dompet aunty kan?" ucap Rangga
Perhatian Liora teralihkan saat melihat dompetnya berada di tangan pemuda manis itu, pemuda itu pun tersenyum manis pada Liora
"Iya itu milik Aunty" jawab Liora berjalan turun kebawah menghampiri Rangga dan Rizal
"Ini dompetnya mba, tadi jatuh di kedai eskrim. Saya tadi tidak sengaja menginjaknya. Saya juga tidak berani membuka dompetnya, tapi silahkan cek dulu, apa isinya masih atau tidak" ucap Rizal tanpa berani menatap gadis cantik di depannya. Sungguh jantungnya saat ini seperti sedang dangdutan
Liora membuka dompetnya dan memeriksa isi dalamnya. Semua masih lengkap, bahkan sisa uang yang diberikan papanya untuk beli eskrim pun masih ada.
"Semuanya masih lengkap,,," lalu Liora mengeluarkan uang dua ratus ribu dan memberikannya pada Rizal
"Ini sebagai ucapan terimakasih ku" ucap Liora menyodorkan uang itu pada Rizal
"Oh tidak usah mbak, saya hanya ingin menolong saja" tolak Rizal dengan sangat halus, Rizal pun tidak berani menatap Liora karena sangat gugup
__ADS_1
"Om, napa om tidak melihat Aunty kalau bicala? apa Aunty hancu?" tanya Rangga dan Rizal langsung menoleh pada anak kecil itu,
"Ti,,dak begitu,,, Om hanya,, tidak ingin menatap gadis cantik" jawab nya , terlihat liora menahan senyum
"Ada siapa Liora?!" pak Dermawan keluar dari rumah saat tidak melihat Rangga dan Liora
"Ini pa, tadi dompet liora jatuh di kedai, dan orang ini yang menemukannya" jawab Liora
Rizal melihat ke arah pintu masuk dan melihat seorang pria paruh baya yang masih terlihat begitu gagah. Rizal pun tersenyum sambil menganggukkan kepala.
"Suruh masuk , jangan berdiri disitu" ucap pak Dermawan melihat pemuda itu seperi pemuda baik baik
"Silahkan masuk" ucap Liora tapi Rizal masih mematung menatap punggung gadis itu yang sudah menaiki anak tangga
"Om, jangan menatap Aunty telus!" cetus Rangga
"Oh tidak tidak,, maaf" ucap Rizal melihat ketidak sukaan Rangga saat dia menatap auntynya. Lalu Rangga berjalan disusul Rizal dari belakang. Setelah masuk kerumah itu, Rizal duduk di ruang tamu bersama keluarga pak Dermawan
"Siapa namamu?" tanya pak Dermawan
"Rizal, pak" jawab Rizal
Pak Dermawan bertanya pada Rizal bagaimana dia bisa menemukan dompet Liora. Melihat cara Rizal menjawab, pak Dermawan menilai pemuda itu sepertinya pemuda yang jujur. Kemudian seorang pelayan datang membawakan mereka minuman untuk mereka
"Silahkan diminum" ucap pak Dermawan
"Kamu bekerja dimana?" tanya pak Dermawan
"Saya baru saja di pecat dari cafe tempat saya bekerja pak" jawab Rizal
"Tapi alhamdulillah sudah dapat kerjaan baru pak" jawab Rizal
"Dimana?" tanya pak Dermawan
"Di rumah sakit pak, tapi belum tau sebagai apa" jawab Rizal
"Maaf pak, saya mau pamit dulu, 1 jam lagi saya ada kelas. Takut terlambat" ucap Rizal
"Kelas?" tanya pak Dermawan
"Hehe saya masih kuliah pak, saya kuliah sambil kerja" jawab Rizal
"Kuliah dimana? jurusan apa?" tanya Pak Dermawan
"Em,, saya,, semester akhir di salah satu universitas negeri, jurusan,, kedokteran" jawab Rizal dengan menunduk
__ADS_1
"Oh iya??" Pak Dermawan terlihat kaget, begitu juga dengan liora. Mereka tidak menyangka pemuda yang terlihat biasa saja itu ternyata calon dokter
"Iya pak,," jawab Angga dengan mengangguk
" Ya sudah kalau kamu sedang buru buru,, terima kasih ya sudah mau mengantarkan dompet putri saya" ucap Pak Dermawan
"Baik pak, kalau begitu saya pamit" ucap Rizal kemudian bangkit dari tempat duduknya.
Masih tidak berani menatap Liora, Rizal hanya menatap Rangga yang sejak tadi sudah seperti bodyguard aunty nya. Lalu pemuda itu pamit pulang.
"Kenapa dia menunduk terus? apa iya wajahku seperti hantu?!" batin Liora bertanya sendiri
Di apartemen,,,
Angga dan Zara masih berada di sofa tamu , namun Zara merasa geli karena Angga mengendus endusnya
"Pap,,, ngapain sihh,,, ngendus endus kayak kucing" ucap Zara
"Wangi,," jawab nya singkat saja, Zara menggeliat saat Angga semakin menempel dan menyesap kulit nya
Zara meletakkan Ipad di tangannya dan menatap Angga yang tersenyum genit saat melihatnya
"Apa? kenapa senyumnya gitu?" tanya Zara dengan tersenyum, dia sangat tau apa yang sekarang sedang difikirkan suaminya
Angga mendekat dan mengikis jarak mereka berdua, Zara tidak menolak, wanita itu menyambut hangat keinginan suaminya. keduanya pun saling bertukar rasa, merengkuh manisnya cinta.
Tidak puas bermain di sofa, mereka pindah ke kamar, Angga menggandong Zara tanpa melepas sapuan hangatnya pada istrinya. Begitu sampai di kamar, Zara tidak ingin pasrah, dia pun berbalik menyerang Angga dan memimpin pertempuran sengit siang itu. Wanita cantik itu terus menari nari dengan begitu lincahnya.
"Semoga adiknya Rangga sudah ada disini" Angga mengusap pelan perut Zara membuat wanita itu kegelian.
"Aamiin" sahutnya dengan terus bergerak mengejar manisnya candu asmaranya.
Keduanya terus bergulat, bertukar keringat hingga sampai pada waktunya meledak bersama. keduanya langsung tumbang lengkap dengan nafas yang berantakan.
"Love you sayang" kecupan manis mendarat di kening Zara
"Love,, you,, too,, sayang,,," Jawab Zara yang sudah sangat lemas.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Aku sama siapa? 😩