
Baron yang berada di semak-semak melihat kearah sekitar, lalu dia menghubungi anak buah nya.
"Lo jemput gue di persimpangan yang tidak jauh dari rumah sakit xxxx, sekarang juga." ucap Baron dengan suara pelan.
"Baik bos, saya kesana sekarang juga." jawab Jay teman sekaligus anak buah nya.
Baron pun menunggu teman nya menjemput dan duduk di trotoar, karena situasi sudah sepi kembali.
Tidak berapa lama Jay pun datang dengan mengendarai motor nya.
"Bos lo kenapa duduk sendirian di sini, itu tadi habis ada yang kecelakaan ya?" tanya Jay.
"Iya, dan yang kecelakaan itu gue, jadi buruan cepat bawa gue pulang sekarang juga." ucap Baron sambil naik ke motor Jay.
Jay pun tanpa banyak bertanya lagi, langsung melajukan motor nya dengan kecepatan tinggi.
Karena Jay menjalankan motor nya dengan kecepatan tinggi, jadi tidak membutuhkan waktu yang lama mereka pun akhir nya nyampe di rumah Baron.
"Thanks ya bro, lo udah nganterin gue pulang." ucap Baron sambil turun dari motor Jay, karena dia sudah sampai di depan rumah nya.
"Oke bos, kalau gitu gue cabut dulu ya." ucap Jay sambil ber tos ria.
Setelah kepergian Jay, Baron pun masuk ke dalam rumah memanggil-manggil istri nya.
"Kok pintu nya ngga di kunci." gumam Baron sambil membuka pintu nya.
"Yang, Sayang." teriak Baron sambil mencari istri nya di setiap sudut rumah.
"Breng sek, kemana kamu Yang." gumam Baron sambil terus mencari Ralin istri nya.
Selagi mencari Ralin, Baron mendengar ada sebuah mobil berhenti di depan rumah nya, Baron pun mengintip nya dari dalam.
"Gawat, polisi." gumam Baron lalu berlari keluar rumah lewat pintu belakang.
Baron pun terus berlari dan sembunyi di balik pohon besar yang tidak jauh dari rumah nya.
Baron pun berdiam diri di balik pohon besar sambil terus melihat kearah mobil polisi.
__ADS_1
Terlihat mobil polisi itu pergi dari rumah nya, Baron langsung menghubungi Jay kembali minta di jemput, Baron memutuskan untuk tinggal di markas.
*
*
Siang hari nya Adriana bersama Ralin sedang berada di pemakaman, mereka berdua menatap tanah merah dengan deraian air mata nya, sementara orang-orang yang mengantar jenazah suami dan anak nya sudah kembali pulang dan beraktifitas kembali.
"Putri, kenapa secepat ini kamu pergi dari ibu nak, kamu pergi hanya membawa ayah mu, kenapa ibu ngga diajak juga, ibu sendirian sekarang" kata Adriana di sela-sela tangisan nya.
"Na, kamu yang sabar ya? Semua sudah takdir, aku juga minta maaf, ini semua gara-gara kalian telah berusaha menolong aku, dan sekarang mas Radit dan Putri harus berada di dalam sini" ucap Ralin.
"Tidak Lin, ini bukan kesalahan kamu, mungkin kamu benar ini sudah takdir, tapi tetap saja aku masih ngga rela dengan semua yang telah terjadi" jawab Adriana.
"Ya sudah, kalau begitu kita pulang ya? aku akan selalu menemani kamu apapun yang akan terjadi, kita sama-sama sendirian di dunia ini." ucap Ralin sambil memeluk bahu Adriana.
"Aku masih ingin di sini Lin, aku masih ingin menemani mereka." ucap Adriana dengan pelan.
Hari pun sudah mau menjelang malam, tapi Adriana masih saja menangisi suami dan anak nya di atas tanah merah itu.
"Na, ayo kita pulang, nanti keburu malam, kamu juga butuh istirahat" Ralin pun terus merayu Adriana agar mau pulang.
"Kamu masih sakit ya Lin? ya sudah ayo kita pulang, kamu juga harus minum obat dan istirahat." ajak Adriana.
"Akhirnya, kamu ngajak aku pulang juga Na." gumam bathin Ralin.
Akhirnya Adriana dan Ralin pun pulang ke rumah Adriana.
*
*
Hari demi hari mereka jalani berdua, mereka bahu membahu saling tolong menolong dalam segala hal.
Kini perut Ralin pun sudah tidak merasakan sakit lagi dan dokter mengatakan kalau Ralin tidak akan pernah punya keturunan lagi.
Ralin menerima semua yang terjadi pada dirinya dengan ikhlas.
__ADS_1
Sedangkan Adriana masih belum bisa ikhlas dengan kepergian suami dan anak nya, Adriana selalu menangis dan susah untuk makan.
Karena melihat sahabat nya itu terus-terusan menangis, Ralin pun menyarankan untuk pindah dari rumah itu dan pindah dari situ.
Bukan maksud Ralin ingin menjauhkan Adriana dari semua kenangan anak dan suami nya, tapi Ralin ingin supaya Adriana tidak terus-terusan bersedih atas kepergian mereka.
Dengan persetujuan dari Adriana, Ralin menjual rumah beserta isinya dan juga mobil yang sering Radit pakai, mereka pun pindah dari kampung tersebut, karena Ralin pun ngga mau kembali ke rumah dan bertemu dengan Baron lagi.
Baron pun entah kemana, hingga detik ini Ralin ngga pernah mendengar kabar suami nya itu.
Mereka berdua pergi dari kampung tersebut meninggalkan kenangan pahit di kedua nya dengan harapan di tempat baru mereka menemukan kebahagiaan yang baru.
Mereka berdua membeli rumah sederhana di sebuah kota, sisa dari pembelian rumah tersebut Ralin belikan mesin jahit dengan izin dari Adriana.
Ralin dan Adriana pun memulai hidup nya, membuka kembali lembaran hidup mereka di rumah baru mereka.
Ralin yang sehari-hari nya menjahit dan menjaga Adriana tanpa lelah dan tanpa ada keluh kesah
Ralin yang tanpa lelah terus menerus memberi semangat pada Adriana yang masih terlihat sedih dan masih mengingat mendiang suami dan anak nya.
Hingga suatu hari Ralin mengajak Adriana pergi ke pasar untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari nya, tapi di perjalanan Adriana tiba-tiba menabrak kan diri nya ke sebuah mobil yang sedang melintas, karena kejadian nya yang begitu tiba-tiba, mobil yang di kendarai oleh Anthoni pun menabrak pas di bagian perut nya Adriana.
"Adriana." teriak Ralin dan langsung berlari menghampiri Adriana.
"Tolong, tolong." teriak Ralin sambil memangku kepala nya Adriana.
Anthoni pun langsung keluar dari mobil lalu menggendong Adriana.
"Ayo kita bawa ke rumah sakit mbak." ajak Anthoni sambil menggendong Adriana.
Ralin pun mengangguk lalu mengikuti langkah Anthoni dan masuk ke dalam mobil.
"Na, bangun Na, kenapa kamu melakukan semua ini Na." ucap Ralin sambil terus menepuk pelan pipi Adriana dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Maafkan saya mbak, tadi saya tidak melihat mbak nya mau nyeberang." ucap pak Antoni sambil fokus mengemudi.
"Ngga pak, ini juga kelalaian dari saya yang ngga bisa menjaga nya." ucap Ralin sambil terus menangisi Adriana sahabat nya.
__ADS_1
"Na, aku mohon, kamu jangan tinggalin aku, aku di sini ngga punya siapa-siapa lagi selain kamu, Na, bangun Na, please." Ralin terus memanggil-manggil Adriana sambil menepuk pipi nya pelan.