
Sungguh momen ini yang dia tunggu selama dua hari ini, betapa bahagia nya Ralin melihat Sandra sudah sadar dan melihat senyuman nya lagi walaupun Sandra masih dalam keadaan lemah.
Sandra melirik ke arah samping dimana Jev sedang tertidur dengan ayah angkat nya berdua di atas ranjang rumah sakit yang berukuran kecil, Sandra pun menyunggingkan senyuman di bibir nya.
"Mah, abang kenapa bisa di infus juga? Apa abang sakit?"
"Abang kamu sama seperti kamu sayang, dia ngga sadarkan diri, tapi dia lebih cepat sadar di banding kamu."
"Kasihan abang, pasti akibat nolongin aku ya mah."
"Sudah jangan di pikirkan dan jangan banyak bicara dulu." ucap Ralin sambil mau menekan bel untuk memanggil dokter dan para suster, tapi Sandra melarang nya.
"Mah, besok saja, kalau dokter dan perawat pada kesini kasihan ayah sama abang, mamah lihat, itu mimpi abang selama ini bisa tidur dengan sosok seorang ayah."
Walaupun suara Sandra pelan, tapi Ralin masih bisa mendengar nya, Sandra melepaskna alat bantu pernafasan yang dokter pasang.
"Kenapa di buka sayang?"
"Geli mah, lagian aku juga sudah sadar, mah aku kok lapar ya?"
Ralin tersenyum mendengar nya, ini yang Ralin nantikan, dikala Sandra bilang kalau dirinya lapar.
"Ini ada roti, kamu mau?" Sandra pun mengangguk.
"Mamah suapin ya? Kamu harus banyak makan biar cepet ada tenaga nya lagi, mamah janji mamah ngga akan pergi-pergi lagi, mamah akan selalu ada di samping kamu dalam keadaan apa pun, mamah ngga mau kejadian kemarin terulang lagi."
Ralin terus berbicara sambil menyuapi roti kepada Sandra, Sandra tersenyum mendengar ucapan Ralin seperti itu.
"Bukan kah mamah seharus nya masih di Bali?"
"Seorang ibu mana yang tega mendengar anak nya yang menghilang, ada yang membawa nya, apa mamah masih bisa bersenang-senang? Tidak nak, mamah ngga sejahat itu."
Sandra merasa sangat bahagia sekali telah di sayangi oleh Ralin, hingga tak terasa satu roti pun habis di lahap nya.
"Mau lagi?" tanya Ralin sambil memberikan minum.
"Ngga mah sudah kenyang."
__ADS_1
"Ya sudah sekarang kamu tidur lagi ya nak?kamu harus banyak-banyak istirahat, biar ngga lemas? apa yang kamu rasakan sekarang sayang?"
"Badan aku masih pada sakit dan masih lemas mah."
"Lemas pasti, karena kamu tertidur selama dua hari, ngga makan dan juga ngga minum."
"Mah, aku ingin tidur seperti abang dan ayah."
Ralin pun bahagia ketika dirinya di minta untuk tidur bersama Sandra, tapi Ralin merasa kasihan sama Sandra karena ranjang rumah sakit yang kecil akan membuat Sandra kesempitan.
"Nanti saja kalau kita sudah di rumah ya sayang, kalau di sini kasur nya sempit, nanti tubuh kamu makin sakit karena kesempitan."
"Ngga, aku mau nya sekarang, mamah lihat mereka berdua kan? Mereka saja bisa masa kita ngga bisa, dan kita buat surprise buat mereka berdua besok pagi."
Ralin pun hanya bisa pasrah dengan keinginan Sandra, entah kenapa dia ngga bisa menolak keinginan anak angkat nya yang satu ini.
"Peluk aku dong mah."
"Tapi mamah takut membuat luka kamu makin sakit sayang." Ralin bukan ngga mau memeluk Sandra, tapi Ralin takut tubuh Sandra masih merasakan sakit efek pukulan dari Bobi.
Dengan perlahan Ralin pun memeluk tubuh Sandra, terasa sedikit sakit sih membuat Sandra sedikit meringis, tapi ini adalah keinginan nya dan Sandra pun menahan rasa sakit nya.
"Jangan buat mamah khawatir lagi ya sayang, dan setelah ini kamu harus ada yang ngawal kemana pun kamu pergi."
"Jangan berlebihan mah."
"Ini demi keselamatan kamu sayang, sudah kamu baru sadar sudah berdebat, sekarang kita tidur, kita kaget kan besok ayah sama abang." Ralin pun tertidur memeluk tubuh Sandra.
Selalu hangat dan nyaman bila sudah berada di dalam pelukan Ralin, dan tidak membutuhkan waktu yang lama, Sandra dan Ralin pun tertidur dengan lelap.
*
*
Baron mengerjapkan kedua mata nya, dia melihat Jev yang masih tertidur dengan tangan ada di atas perut nya.
"Kalau seperti ini, kamu itu terlihat masih kecil nak, mungkin karena kamu sangat ingin sekali ada sosok ayah dalam hidup kamu, hingga kamu sudah dewasa ini masih seperti anak kecil yang lagi tidur dengan ayah nya." gumam bathin Baron sambil menggeser posisi tangan Alvin.
__ADS_1
Dengan perlahan Baron turun dari ranjang, lalu memablaikn tubuh nya melihat ke arah ranjang Sandra.
Betapa kaget nya Baron ketika melihat Ralin sedang tidur memeluk Sandra, Baron menghampiri nya lalu berusaha membangunkan istri nya.
"Sayang, kenapa tidur di sini? Ayo pindah ke sofa." Baron pun dengan perlahan mengangkat tangan Ralin lalu bersiap untuk menggendong Ralin dan memindahkan nya ke sofa.
"Mamah mau di bawa kemana Yah? Ngga kasihan apa sama aku, aku juga ingin di peluk mamah." ucap Sandra dengan pelan dan mata yang masih terpejam.
Sebenar nya Ralin dan Sandra sudah bangun dari tadi, tapi ketika melihat Baron bangun dan berusaha melepaskan tangan Jev dari atas perut nya, mereka kembali pura-pura tertidur.
"Siapa yang bicara? Ngga mungkin kan kalau Sandra yang bicara? Apa aku berhalusinasi? Tapi barusan memang ada yang bicara dan dari suara nya seperti suara Sandra." gumam Baron sambil menatap wajah Sandra.
Ralin dan Sandra benar-benar sudah ngga tahan ingin tertawa melihat wajah bigung Baron, tapi mereka menahan nya, apalagi Sandra yang masih dalam keadaan lemah.
"Ah sudah lah itu mungkin halusinasi aku saja, ayo sayang kita pindah kasihan Sandra kesempitan." Baron pun bersiap ingin menggedong Ralin.
"Mas, lagi ngapain kamu?" tanya Ralin pelan.
"Sayang kamu sudah bangun? Kenapa kamu tidur di sini? Kasihan Sandra kesempitan." bisik Baron.
"Ngga, aku ngga bakalan pindah, aku mau menemani Sandra tidur di sini."
"Sayang please."
"Dasar bucin,"
Sungguh ini benar-benar nyata dan bukan halusinasi, hanya satu orang yang berani mengatai dirinya bucin, dia adalah Sandra, Baron pun menatap dan menelisik wajah Sandra.
"Dek, apa kamu sudah sadar?"
Sandra pun membuka matanya sambil tersenyum, "Iya ayah aku sudah sadar semalam."
Baron kaget dan hampir tidak percaya dirinya akan kembali melihat senyuman anak angkat nya itu, dan tanpa sadar Baron pun menitikan air mata nya.
"Terima kasih Tuhan, engkau telah mengabulkan do*a kami semuanya."ucap Baron lalau mencium kening dan seluruh wajah Sandra.
"Ayah sudah, wajahku masih sakit."
__ADS_1
"Adek." teriak Jev sambil menatap Sandra dengan wajah bantal nya.