Bos Dan Aku

Bos Dan Aku
Ponsel Baru


__ADS_3

Seperti biasa pagi hari Ken setelah sarapan bersama kedua orang tua nya, dia langsung pergi ke kantor, setelah sampai di kantor, Ken bukan langsung mengerjakan pekerjaan nya, tapi Ken mengambil ponsel dan menghubungi Ralin, tapi sayang no ponsel Ralin tidak bisa di hubungi, Ken mencoba ke no Jev hasil nya pun sama.


"****! Kenapa aku ngga minta no nya om Baron, kalau begini kan aku jadi susah untuk menanyakan kabar nya Sandra." gumam Ken dengan wajah kesal nya.


"Permisi pak, sebentar lagi meeting di mulai para redaksi dan yang lain nya sudah kumpul di ruang meeting." ucap Lucky setelah di izinkan masuk.


"Baiklah, sudah kamu siapkan semuanya?"


"Sudah pak."


"Kalau begitu ayo." Ken pun berjalan di ikuti Lucky dari belakang.


*


*


Sebelum pergi ke textile Jay mengambil ponsel di tempat langganan Baron, sebetul nya counter itu belum buka, tapi karena Baron yang meminta maka pemilik counter itu terpaksa membuka nya khusus Jay mengambil ponsel yang di pesan Baron.


"Saya mau ngambil pesanan nya bos." ucap Jay yang sudah berada di counter. Nampak di situ masih pada sepi, toko yang lain nya pun belum pada buka.


"Oh ini pak." jawab pemilik counter sambil memberikan dua paper bag.


"Lo kok dua? Memang nya si bos pesan berapa?" belum sempat pemilik counter itu menjawab, suara ponsel Jev berdering, Jay pun menerima panggilan yang ternyata dari bos nya.


"Ya bos."


"Kamu sudah ambil ponsel nya belum?"


"Ini saya lagi mengambil nya bos, tapi kenapa dua?"


"Yang keluaran terbaru buat Sandra yang di bawah itu kasih ke Lisna."


"Oke bos." Jay pun memutuskan panggilan nya.


"Yang terbaru yang mana?" tanya Jay pada pemilik counter.


"Yang ini bos." pemilik counter tersebut menunjukan ponsel yang keluaran terbaru.


"Oke, saya ambil, sudah di bayar kan?"


"Sudah."


"Kalau sepagi ini sudah ada yang beli dengan harga fantastis begini, berarti toko nya tutup dong hari ini?" goda Jay.


"Ngga lah, kita tetap buka, tapi nanti siangan, sekarang saya mau tutup dulu sebentar soalnya belum sarapan."

__ADS_1


"Ya sudah, makasih ya." Jay pun langsung pergi setelah ke dua ponsel nya berada di tangan nya.


Jay langsung menuju butik Ralin, karena Lisna tidur di sana.


karena masih pagi dan di jalan pun belum terlalu ramai, Jay tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai ke butik nya Ralin.


Jay langsung turun dan menekan bel, tidak lama Lisna pun membuka pintu nya setelah dirinya melihat siapa yang datang dari celah pintu.


"Oh om Jay, ayo masuk om." Lisna pun membuka lebar pintu nya.


"Makasih Lis, om di sini saja, om hanya mengantarkan ponsel dari bos." jay pun memberikan paper bag kepada Lisna.


"Makasih om." Lisna pun mengambil paper bag nya dari tangan Jay.


"Kalau begitu om pamit, mau langsung ke textile."


Iya om, sekali lagi makasih ya." Lisna pun kembali masuk dan menutup pintu nya setelah Jay benar-benar pergi dari hadapan nya.


"Wow, ponsel ini kan mahal harga nya, makasih ayah." gumam Lisna sambil terus menatap kagum sama ponsel baru nya.


Lisna pun memasukan sim card baru nya yang sudah ada di dalam paper bag nya, lalu Lisna mencari no ponsel Reni dan Ralin di buku karyawan.


*


*


Terdengar suara ponsel nya berdering, Reni pun langsung melihat layar ponsel nya.


"Jangan bilang ini pelanggan lagi, Lisna, Sandra kalian ini dimana sih, aku terus di hubungi pelanggan ini." bukan nya menerima panggilan nya, Reni malah hanya menatap ponsel nya yang berdering dengan no baru.


Karena ponsel nya terus berdering, Reni pun dengan terpaksa menerima nya.


"Selamat pagi dengan Reni dari Lins Fashion, ada yang bisa saya bantu." walaupun lagi kesal, Reni sengaja memberikan suara yang lemah lembut dan sopan.


"Ren, aku Lisna, ini no baru aku, kamu save ya." ucap Lisna dari seberang telepon.


"Lisna, kamu kemana aja, kemarin aku nunggu di butik sampai hampir jam makan siang."


"Nanti aku ceritakan, tapi sekarang kamu ke butik ya? Aku kesepian sendirian."


"Lo, memang nya Sandra kemana?"


"Dia masih di rumah sakit."


"Apa! Memang nya sakit apa?" Reni kaget mendengar nya, karena terakhir Reni lihat Sandra sehat-sehat saja.

__ADS_1


"Makanya kamu cepat ke butik, nanti aku ceritakan semuanya."


"Baik, sekarang aku kesana." Reni pun menutup panggilan nya, lalu bersiap pergi ke butik."


*


*


Baron sudah selesai menebus obat untuk Sandra dan sekarang dia mau membeli sarapan dan cemilan untuk mereka.


"Ayo nak, kita beli sarapan dulu."


"Sudah selesai yah?"


"sudah, kita beli sarapan nya di depan saja, sekalian kita beli cemilan, di depan banyak yang jual cemilan."


"Baik yah."


Baron dan Jev pun berjalan ke depan rumah sakit, mereka membeli nasi kuning dan beberapa cemilan dan beberapa botol minuman, tidak lupa Baron juga membeli kopi untuk dirinya.


"Yah, itu seperti nya mobil ayah deh." ucap Jev sambil menunjuk sebuah mobil yang mau masuk ke pelataran rumah sakit.


Baron pun menatap mobil yang di tunjuk Jev, dan ternyata benar itu mobil dirinya, Baron langsung melambaikan tangan nya ke arah mobil nya, Jay yang memang posisi nya lagi menghadap Baron pun melihat lambaian tangan Baron, dan menghampiri nya.


"Lagi ngapain bos di sini? Kamu sudah kuat berjalan nak?" tanya Jay yang sudah turun dari mobil.


"Sudah om, aku ingin menggerakkan kaki saja."


"Kamu sudah sarapan belum? Atau kamu mau ngopi dulu?"


"Sudah bos, saya kesini hanya mau mengantarkan ponsel ini, karena masih ada waktu untuk ke textile maka saya sempat kan ke sini." Jay pun memberikan paper bag nya.


"Oke, makasih ya Jay, ngga ada masalah kan di textile."


"Aman bos, ya sudah kalau gitu saya pamit mau langsung ke textile."


"Makasih Jay, hati-hati."


Baron dan Jev pun kembali dengan beberapa kantong dan paper bag di tangan nya.


Semua mata menatap kagum pada Baron dan Jev, mereka semua memuji ketampanan mereka berdua.


Pintu ruangan masih di kunci, Baron pun mengetuk pintu beberapa kali, hingga akhir nya Ralin membuka nya.


"Mas." teriak Ralin sambil memeluk Baron dan menangis di pelukan Baron.

__ADS_1


__ADS_2