
Sambil menunggu ayah dan abang nya pulang kerja Sandra duduk santai di ruang keluarga, tiba-tiba dia teringat dengan Ken.
"Sudah pulang belum ya tuan Ken." gumam Sandra sambil menatap layar televisi yang ada di depan nya.
"Ah, kenapa aku jadi memikirkan tuan Ken, apa aku harus datang ke rumah nya ya? atau aku nunggu di kabarin sama ibu Adriana?" Sandra terus bergelut dengan pikiran nya sendiri.
"Ya ampun, aku melupakan nya, kan no ponsel ku di ganti, jadi ngga bakalan ada yang menghubungi aku." gumam Sandra.
"Melamun ya?" tanya Baron dari belakang yang membuat Sandra kaget.
"Ayah, kaget tahu." teriak Sandra sambil membalikan tubuh nya.
"Makanya jangan melamun sayang, mikirin apa sih sampai serius begitu?" tanya Baron.
"Ini ayah, Sandra lagi bingung." jawab Sandra.
"Bingung kenapa?" tanya Baron sambil duduk di samping Sandra.
"Sandra kan cuti satu minggu, berarti dua hari lagi Sandra masuk kerja, tapi yang buat Sandra bingung, haruskah Sandra langsung datang ke rumah nya atau mereka yang menghubungi? tapi kan mereka ngga tahu no baru Sandra."
"Menurut ayah kamu ngga usah kerja, kamu cukup duduk manis saja di rumah, biar ayah dan abang kamu yang kerja."
"Ayah, ayah sudah janji kan sama abang." ucap Sandra.
"Iya ayah ingat kok, ya sudah kalau gitu kamu saja yang datang ke rumah nya, mau lanjut kerja atau stop itu terserah kamu saja." ucap Baron.
"Baiklah ayah, kalau gitu nanti Sandra datang ke rumah nya saja langsung." ucap Sandra.
Baron pun tersenyum sambil menatap wajah Sandra yang semakin lama semakin ngga asing.
"Wajah nya kok mirip seperti Ralin ya? sampai segini nya aku merindukan kamu sayang, kamu dimana sekarang? aku sudah ngga sanggup lagi, aku sudah hampir gila memikirkan kamu." gumam bathin Baron.
"Ayah, tadi katanya aku ngga boleh melamun? sekarang malah ayah yang melamun." ucap Sandra sambil menggoyang kan bahu Baron.
"Ngga, ayah cuma lagi berpikir nanti malam kita beli sate yuk? udah lama ayah ngga makan sate." ucap Baron mengalihkan pikiran nya.
__ADS_1
"Boleh juga yah, tapi kita makan di sana ya yah?" ucap Sandra dengan antusias.
"Iya sayang, kalau gitu ayah mau mandi dulu, kamu jangan melamun lagi." ucap Baron lalu berdiri dan pergi ke kamar nya.
*
*
"Halo Na? kenapa?" tanya Ralin setelah menerima panggilan dari Adriana.
"Jangan sampai malam ini kamu membatalkan lagi pertemuan kita." ucap Adriana.
"Iya Na, aku ingat kok, ini aku lagi siap-siap." jawab Ralin.
"Ya sudah kalau gitu aku tunggu di cafe xxxx, jangan sampai telat." ucap Adriana.
"Iya Na, bila perlu aku berangkat sekarang juga." jawab Ralin sambil tersenyum.
Ralin pun sedikit menggelengkan kepala nya, dia ngga habis pikir sama sahabat nya ini.
"Kamu ini Na, dari dulu selalu semangat kalau mau mempertemukan aku dengan seorang pria, tapi maaf ya Na, sampai sekarang aku belum bisa melupakan mas Baron." gumam bathin Ralin.
"Mbak Sani, mbak langsung pulang saja ngga usah kembali ke Textile, ini buat ongkos taxi nya, maaf saya masih ada urusan di sini." ucap Jev sambil memberikan lima lembar uang yang berwarna merah.
"Baik pak, tapi ini kebanyakan pak." ucap mbak Sani sambil menatap uang ditangan nya.
"Sudah ambil saja, anggap saja bonus dari saya." ucap Jev.
Jev sekarang sama Jev yang dulu jelas berbeda, dulu mencari uang lima puluh ribu saja susah nya minta ampun, tapi setelah mengenal dan diangkat menjadi anak nya oleh Baron, Jev dikasih fasilitas mobil dan uang saku berupa ATM yang isinya sangat fantastis.
Jev pun hanya mengambil paling banyak dua puluh lembar uang ratusan dari ATM nya hanya untuk berjaga-jaga.
"Terima kasih banyak pak, kalau begitu saya permisi, mari mbak Lisna." ucap Sani dengan hati yang berbunga-bunga.
"Ah sudah lah tadi makan siang enak, sekarang pulang lebih awal, dapat bonus lagi, seperti nya pak Jev menyukai mbak Lisna, sering-sering saja pak Jev, biar tabungan aku nambah." gumam bathin Sani sambil melangkah keluar dengan bibir tersenyum.
__ADS_1
"Maaf pak, apa ada yang diperlukan lagi?" tanya Lisna karena heran sama Jev yang ngga pulang-pulang, dan hanya menyuruh mbak Sani saja yang pulang.
"Bisa ngga panggilan nya ngga usah formal seperti itu, kita kan lagi berdua saja." ucap Jev yang merasa tidak suka dengan panggilan dari Lisna.
"Tapi, pak eh." Lisna pun menjadi grogi dibuat nya.
"Kamu kemana saja? aku hubungi kamu ngga pernah diangkat?" tanya Jev sambil menatap tajam Lisna.
"Saya," belum juga Lisna melanjutkan kalimat nya, Jev sudah memotong nya.
"Aku kan sudah bilang jangan berbicara dengan formal." ucap Jev.
"Aku sibuk." jawab Lisna sambil memalingkan wajah nya.
"Sibuk? malam hari pun kamu sibuk? sibuk ngapain? sibuk pacaran?" tanya Jev dengan nada ngga suka.
Lisna hanya diam saja karena Lisna bingung harus menjawab apa.
"Kenapa kamu diam? jadi benar dugaan aku? atau mungkin kamu menghindar dari aku?" tanya Jev kembali.
"Ya, aku memang menghidari kamu kak." jawab Lisna dengan nada sedikit tinggi karena Lisna merasa kesal sudah di tuduh yang bukan-bukan oleh Jev.
"Kenapa kamu menghidariku? apa aku sudah berbuat salah sama kamu?" tanya Jev.
"Aku ngga mau di sebut pelakor, aku bukan tipe wanita yang suka merebut milik orang lain." jawab Lisna.
"Pelakor? memang nya siapa yang akan menyebut kamu sebagai pelakor?" tanya Jev sambil mengerutkan kening nya.
"Sudah lah kak, kalau kakak sudah punya pacar atau tunangan atau bahkan kakak sudah punya istri, kakak jangan mendekati aku lagi, kakak jangan pernah menghubungi aku lagi."
"Aku belum punya istri, kenapa kamu bisa mengira kalau aku ini sudah punya istri?" tanya Jev.
"Sudah lah kak jangan mengelak lagi, waktu itu sebelum kakak pulang dari rumahku, aku mendengar kalau kakak sedang menghubungi seorang wanita, jadi silahkan kakak pergi dari sini aku masih banyak kerjaan." ucap Lisna sambil berdiri dan hendak pergi.
Tapi sayang begitu Lisna berdiri kaki nya keseleo lalu terjatuh dan duduk diatas pangkuan Jev.
__ADS_1
Mereka saling menatap, ada tatapan rindu di mata kedua nya hingga tanpa sadar wajah Jev mendekati wajah nya Lisna.
"Ekhem."