
Semakin hari perut Sandra dan perut Lisna semakin kelihatan, mereka berdua ternyata hamil barengan, dua wanita di keluarga Baron yang sedang ngidam berbeda sifat dan berbeda cara ngidam nya.
Lisna yang semakin feminim, rajin dalam berbagai hal dan juga tidak terlalu menuntut suami nya untuk melakukan atau memenuhi keinginan nya, sedangkan Sandra, dia lebih ke manja, cengeng dan galak.
Pernah suatu hari dirinya menghubungi Ken agar Ken pulang kerja membawakan dirinya ice cream, tapi waktu itu Ken lupa dengan keinginan istri nya, begitu pulang dan Sandra tidak mendapatkan apa yang di inginkan nya, Sandra langsung marah dia nangis dan pergi ke rumah Baron untuk mengadu dengan kelakuan suami nya.
Sandra dan Ken memang kesana kemari, kadang mereka tinggal di rumah Antoni, kadang mereka tinggal di rumah Baron, dan bahkan kalau Sandra lagi mau di butik, dia tinggal bareng Jev dan Lisna.
Ralin dan Adriana selalu sabar dengan kelakuan Sandra yang dalam mode ngidam, mereka sering mengalah dan selalu memenuhi keinginan Sandra.
Sandra yang selama ini tidak pernah manja sama siapa pun, dia jadi manja setelah bertemu dengan kedua orang tua nya, apalagi di kala ngidam seperti saat ini, manja nya menjadi lebih dan sangat manja sekali.
Ken yang selalu menjadi suami siaga selalu ada di samping istrinya, dan semenjak kejadian yang lupa membeli ice cream itu, Ken menjadi lebih memprioritaskan Sandra, Ken tidak mau membuat masalah lagi yang membuat Sandra marah.
Waktu terus bergulir, kehamilan kedua nya pun kini sudah membesar dan tinggal menunggu waktu itu tiba, waktu dimana keturunan mereka akan melihat dunia luar dan akan menjadi penerus bisnis kedua orang tua nya.
Sandra dan Lisna kini tinggal di rumah Baron atas permintaan Ralin, awal nya Lisna menolak karena merasa ngga enak akan merepotkan mertua nya itu, tapi setelah Ralin membujuk dan menjelaskan kalau dirinya khawatir dengan Lisna yang sebentar lagi akan melahirkan, akhirnya Lisna pun mau tinggal bareng mereka.
Malam ini tidur Lisna gelisah, dia merasakan sakit di bagian punggung dan perut nya, Lisna tidak membangunkan suami nya karena Lisna merasa kasihan kepada Jev yang sudah seharian bekerja untuk memenuhi kewajiban nya.
Jev yang sedang tidur merasakan kegelisahan Lisna pun membuka kedua matanya lalu menatap Lisna yang sedang menahan kesakitan.
"Sayang kamu kenapa?" Jev langsung bangun dari tidur nya dan menyentuh perut besar Lisna.
"Mas, seperti nya aku akan melahirkan deh." ucap Lisna membuat Jev kaget dan langsung berlari ke kamar Ralin.
"Mah, mah, bangun." Jev terus memanggil-manggil Ralin sambil mengetuk pintu kamar nya.
__ADS_1
"Sayang, seperti nya Jev memanggil kamu, buka dulu siapa tahu penting." ucap Baron sambil memeluk Ralin dan tanpa membuka mata nya.
"Mau bangun bagaimana orang tubuh aku saja kamu peluk terus mas." Baron hanya menyunggingkan senyuman di bibir nya.
"Mah, buka pintu nya, perut Lisna sakit." terdengar kembali suara Jev sambil mengetuk pintu.
"Apa! jangan-jangan." teriak Ralin dan Baron lalu bangun dari tidur nya.
"Lisna kenapa nak?" tanya Ralin setelah dirinya membuka pintu.
"Mah, Lisna perut nya sakit, seperti nya dia akan melahirkan." ucap Jev dengan wajah khawatir nya.
"Baiklah ayo kita ke kamar kamu, sayang tolong panggilkan Jay buat siapin mobil." teriak Ralin sambil berlari ke kamar Jev.
Baron langsung menghubungi Jay agar menyiapkan mobil untuk membawa Lisna ke rumah sakit.
"Sudah mah ini." jawab Jev sambil mengambil satu koper besar yang isinya perlengkapan bayi dan ibu nya yang sudah di siapkan jauh-jauh hari.
"Ya sudah ayo sekarang kita pergi ke rumah sakit ya sayang." ajak Ralin sambil menggandeng Lisna.
"Sayang ayo Jay sudah nunggu di depan, Jev kamu gendong Lisna biarkan ini ayah yang bawa." ucap Baron sambil mengambil koper yang ada di tangan Jev.
Jev menggendong Lisna, dengan sekuat tenaga Jev membawa Lisna ke dalam mobil, Baron dan Ralin mengikuti ya dari belakang.
Karena mereka panik, mereka lupa tidak memberitahu kan Sandra yang sedang tidur di kamar nya.
Tanpa mereka tahu, Sandra sebenar nya belum tidur, dia terbangun karena ingin pergi ke kamar mandi.
__ADS_1
Ken yang malam itu merasa gerah dirinya tidur hanya mengenakan celana boxer yang pendek saja.
Sandra yang baru kembali dari kamar mandi, melihat tubuh Ken yang hanya menutupi bagian inti nya saja, Sandra menghampiri Ken lalu menatap dada bidang Ken yang sedikit berbulu, pandangan nya turun dan semakin turun hingga dirinya ingin menyentuh sesuatu di balik boxer.
Dengan gerakan perlahan dan sensual Sandra menyentuh apa yang ingin dia sentuh hingga membuat ular yang sedang tidur terlelap pun kini bangun berdiri tegak menyerupai sebuah tongkat.
Sandra tersenyum menatap bibir seksi Ken dengan tangan yang masih bergerilya di bawah sana.
Dengan secara perlahan Sandra mendekatkan bibir nya ke bibir Ken hingga Ken merasakan ada benda kenyal menyentuh bibir nya.
"Ken yang sudah terbangun semenjak ular nya bangun membalas ciuman dari Sandra, dengan gerakan lembut mereka mencurahkan semua nya.
"Kenapa kamu belum tidur sayang?" tanya Ken setelah melepaskan pagutan nya.
"Adek bayi kangen katanya mas." jawab Sandra dengan senyuman menggoda nya.
"Tapi mas takut menyakiti nya sayang, sekarang tidur saja ya? Sini mas peluk." Ken lupa kalau Selama Sandra hamil dia akan nangis dan merajuk kalau keinginan nya tidak di penuhi.
Sandra turun dari tubuh suami nya lalu berbaring membelakangi Ken dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Mampus, aku lupa." Sebenar nya Ken juga sejak sore menginginkan nya, tapi dirinya takut menyakiti bayi nya yang ada di perut istrinya.
"Maafkan mas, sayang, bukan nya mas ngga mau, sebenar nya dari sore tadi mas menginginkan nya tapi mas takut menyakiti anak kita." ucap Ken sambil memeluk dan menyentuh perut Sandra.
Sandra membalikan tubuh nya jadi menghadap Ken, Ken yang sedang dalam mode merayu itu langsung melahap bibir Sandra dengan gerakan lembut nya hingga membuat Sandra melupakan kemarahan nya.
Ken memberikan sentuhan dan ciuman lembut di setiap titik kelemahan Sandra hingga membuat Sandra menikmati dan melupakan marah nya.
__ADS_1
Dua insan yang sedang menantikan kelahiran bayi nya pun melanjutkan ritual panas nya hingga tidak mendengar keributan di kamar sebelah, mereka melakukan nya dengan penuh semangat hingga mereka melakukan nya beberapa kali hngga mereka terkulai lemas tidak berdaya.