Bos Dan Aku

Bos Dan Aku
Pengganggu


__ADS_3

Ralin pun kini sedang membersihkan riasan nya dan sudah mengganti baju nya dengan sebuah piyama, sedangkan Baron lagi membersihkan tubuh nya di kamar mandi.


Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, Baron keluar dengan hanya memakai handuk bagian bawah dan menampakan dada bidang nya dengan sedikit bulu yang masih basah oleh air, rambut yang masih basah menambah ketampanan Baron malam itu.


Ralin melihat Baron dari pantulan kaca, "Kamu ngga berubah mas, dari dulu tetap masih tampan." gumam bathin Ralin.


"Kamu kenapa lihatin aku seperti itu sayang." ucap Baron sambil menghampiri Ralin yang masih duduk di kursi rias nya.


Ralin pun membalikan tubuh nya sambil tersenyum, "Kamu ngga berubah mas."


"Kamu juga ngga berubah, masih cantik dan menggairahkan seperti dulu." ucap Baron yang langsung melahap bibir Ralin.


Ralin pun membalas ciuman dari Baron yang kini sudah resmi menjadi suami nya kembali.


Baron mengajak Ralin berdiri tanpa melepaskan pagutan bibir nya, Ralin yang dari dulu memang suka membelai dada bidang Baron pun terus mengelus nya dengan lembut membuat gairah Baron semakin tinggi.


Baron terus membimbing Ralin ke atas tempat tidur dan tanpa di sadari keduanya kini mereka sudah sama-sama melepaskan kain yang nempel pada tubuh mereka masing-masing.


Mereka berdua mencurahkan semua kerinduan dalam diri mereka, puluhan tahun mereka terpisah, membuat mereka ingin melupakan semua nya malam ini.


Sentuhan dan belaian yang selalu mereka rindukan selama ini, kini mereka kembali merasakan nya, seakan-akan tidak ingin ada yang terlewatkan, mereka pun mengabsen nya di setiap inch tubuh mereka.


Cara Baron menyentuh dan membelai nya pun masih sama seperti dulu, sellau dengan penuh kelembutan hingga membuat Ralin selalu terbuai dan terbuai.


"Kamu masih seperti dulu mas, selalu membuat aku terbuai dengan setiap sentuhan kamu." ucap Ralin sambil merasakan setiap sentuhan dari Baron.


"Dan kamu juga masih sama seperti dulu, suara rintihanmu yang merdu membuat aku semakin bergairah sayang."


Ralin sudah ngga bisa berkata apa-apa lagi, dia terus merasakan apa yang puluhan tahun ini tidak pernah dia rasakan.


Baron pun mencari posisi buat mengawali penyatuan kedua nya, sebelum Baron menyuruh adik nya masuk, dia melihat dan membelai apa yang telah menjadi milik nya dari dulu.


"Akhir nya aku akan merasakan kamu lagi, kamu yang selalu membuat aku melayang." ucap Baron sambil membelai milik Ralin dengan penuh kelembutan hingga membuat Ralin sudah ngga tahan lagi.


"Mas." panggil Ralin dengan mata yang sudah sendu, Ralin sudah ngga tahan dan ingin segera merasakan nya kembali.

__ADS_1


"Baiklah sayang, adik kecil datang." ucap Baron sambil mulai mengarahkan adik kecil nya.


"Mah, bolehkah aku tidur dengan mamah." teriak Sandra sambil mengetuk pintu kamar Ralin.


Sungguh demi apapun, semua hasrat yang sudah ada di ubun-ubun pun langsung hilang lenyap ketika mendengar suara teriakan dan suara ketukan.


Ralin spontan mendorong Baron dari atas tubuh nya.


"Mas, Sandra."


"Ya ampun mau apa sih anak itu, sudah tahu ini malam pertama kita sayang."


Baron sedikit kesal dengan Sandra yang sudah mengganggu nya.


"Sudah lah mas, kita bisa melakukan nya lain waktu." ucap Sandra sambil memakai kembali baju nya.


"Tapi nasib adik kecilku gimana sayang?"


"Kamu selesaikan sendiri saja lah mas." ucap Ralin sambil tersenyum.


"Mah." lagi-lagi suara Sandra terdengar.


"Iya sayang sebentar." jawab Ralin sambil merapihkan baju nya.


"Sayang," ucap Baron dengan wajah memelas nya.


"Sudah lah mas, kamu sabar ya cuma malam ini saja, besok kalau kita sudah sampai di Bali aku kasih mas serfis yang terbaik." ucap Ralin lalu mencium seluruh wajah Baron.


"Tapi kamu kasih aku double ya sayang?'


"Apapun dan berapa kali pun aku akan siap, asal kamu kuat saja sayang." Ralin berusaha merayu Baron.


"Mah, lagi apa sih, lama banget buka pintu nya."


"Sudah sekarang cepet pakai baju nya mas, nanti Sandra lihat kamu lagi telanjang begini lagi."

__ADS_1


Ralin pun menatap adik kecil Baron yang sudah tegak berdiri dan sangat menantang itu, ingin sekali Ralin menyentuh dan merasakan nya, tapi mau bagaimana lagi, gangguan datang.


Ken pun turun dari atas tempat tidur dan masuk kembali ke kamar mandi dengan wajah kesal nya, Ralin hanya tersenyum melihat wajah kesal suami nya, lalu pergi membuka pintu.


"Kasihan sekali kamu mas, besok kita akan melakukan nya sepuas hati kamu." gumam bathin Ralin.


"Ada apa sayang?" tanya Ralin sambil membuka pintu nya.


"Mamah lama banget sih, lagi ngapain emang nya?" tanya Sandra pura-pura ngga tahu.


"Mamah baru selesai pakai baju sayang, tadi habis mandi dan membersihkan riasan." apa yang diucapkan Ralin memang benar adanya, dirinya baru pakai baju tapi bukan baru selesai mandi, tapi habis melakukan pemanasan dengan suami nya.


Sebenar nya Ralin juga merasakan apa yang di rasakan oleh Baron, cuma Ralin sebagai wanita masih bisa untuk menahan nya, sedangkan Baron sebagai pria ngga bisa untuk menahan nya dan memilih untuk solo di kamar mandi.


"Malam ini aku tidur sama mamah ya? Besok kan mamah sudah pergi sama ayah ke Bali, Sandra sedih mau di tinggal mamah sama ayah." ucap Sandra dengan wajah yang di buat sesedih mungkin.


"Apa! Kan kamu punya kamar sendiri dek." ucap Baron yang sudah keluar dari kamar mandi nya dengan rambut kembali basah karena dirinya harus mengulang mandi walaupun tidak sempat merasakan surga nya dunia.


"Biarin saja mas, kan besok kita juga berangkat ke Bali."


"Ayah kasih kesempatan aku untuk malam ini saja tidur bersama mamah, karena mulai besok dan seterus nya ayah pasti ngga mengizinkan aku untuk tidur sama mamah."


Baron menatap wajah sedih Sandra, Baron pun mengerti dengan Sandra yang memang dari dulu merindukan kasih sayang ke dua orang tua nya, apalagi kasih sayang dari seorang ibu.


"Ya sudah kamu boleh tidur di sini, tapi kita tidur bertiga." ucap Baron smabil merebahkan tubuh nya di sisi tempat tidur.


"Kalau tidur bertiga sempit ayah."


"Mau ngga? Kalau ngga mau adek tidur sendiri saja di kamar adek."


Sandra pun mengalah dan membaringkan tubuh nya di sisi tempat tidur.


Ralin hanya tersnyum melihat perdebatan mereka berdua lalu membaribgkan tubuh nya di tengan-tengah mereka.


"Andaikan anakku berada di sini, pasti akan melakukan hal yang sama seperti yang Sandra lakukan sekarang." gumma bathin Ralin sambil memeluk Sandra.

__ADS_1


__ADS_2