
Semuanya sudah kumpul di ruang yang sudah disediakan oleh Ralin, memang Ralin sengaja melaksanakan ijab kobul nya di rumah, bukan ngga mampu mereka mengadakan resepsi atau ijab kobul di hotel berbintang, tapi Ralin merasa malu karena dirinya sudah berusia kepala empat.
Baron hanya mengikuti apa yang di ingin kan Ralin yang sebentar lagi sah kembali menjadi suami istri.
Reni yang sudah raph dan cantik menjadi penerima tamu karena Lisna masih merias Ralin di atas.
Sebelum rombongan Baron sampai, keluarga Adriana sampai duluan di tempat acara, Adriana menyuruh mereka menyambut kedatangan keluarga Baron, sedangkan dirinya langsung berlari naik ke atas menemui Ralin di kamar nya.
"Wah sahabat ku ini cantik sekali, kamu memang bisa diandalkan Lis." teriak Adriana sambil masuk ke kamar Ralin karena pintu kamar yang terbuka.
Lisna hanya tersenyum sambil merapihkan rambut Ralin.
"Kamu juga cantik Na, pas juga ternyata baju ya ya." ucap Ralin smabil menatap Adriana.
"Produk kamu ngga bakalan gagal pokok nya, eh Sandra mana?" tanya Adriana sambil melihat ke sekeliling kamar.
"Iya bu saya di sini." ucap Sandra yang baru keluar dari kamar mandi.
"Ya ampun kamu cantk banget, kalian berdua semakin kesini kok semakin mirip ya." Adriana pun menatap kedua nya secara bergantian.
"Lisna dan Reni juga tadi bilang gitu, mungkin karena akhir-akhir ini kita sering bersama kali, jadi kita ada mirip-mirip nya." ucap Raln.
"Bisa juga ya, nak Sandra kenapa nak Sandra ngga masuk kerja kemarin, kan harus nya nak Sandra sudah mulai masuk lagi?" tanya Adriana sedikit membuat drama, padahal dirinya sudah tahu semua nya.
"Em, itu bu, saya, saya bantu mamah di butik, ya benar saya bantuin mamah di butik," jawab Sandra sedikit tergagap.
"Oh ya sudah kalau itu alasan nya, kalau ibu sih ngga jadi masalah kamu ngga kembali untuk bekerja lagi." ucap Adriana sambil tersenyum.
Sandra kaget mendengar penuturan dari Adriana, "Kenapa aku ngga boleh datang lagi ke rumah ibu? Apa aku sudah membuat kesalahan sehingga ngga boleh bekerja lagi?" tanya Sandra sambil menatap ke arah Adriana.
""Kamu ngga punya salah, tapi ibu mau nya kamu datang ke rumah ibu bukan lagi jadi pekerja ibu, tapi kamu datang ke rumah ibu sebagai menantu ibu." ucap Adriana sambil tersenyum.
"Blush." wajah Sandra langsung berubah menjadi merah begitu mendengar ucapan dari Adriana.
Ralin dan Adriana saling melirik sambil tersenyum penuh arti.
*
__ADS_1
*
"Mempelai pria nya belum datang ya?" tanya pak penghulu.
Pak penghulu bersama asisten nya sudah tampak hadir di ruangan dengan segala berkas yang sudah di siapkan di atas meja.
"mereka lagi di jalan pak, mungkin sebentar lagi sampai." jawab pak Anthoni.
"Baiklah akan saya tunggu, untung saja kedua mempelai di sini adalah mempelai terakhir yang saya nikah kan untuk hari ini, jadi saya banyak waktu."
Ken terlihat seperti sedang gelisah dan mata nya terus tertuju kepada tangga menuju kamar nya Sandra.
"Yang lagi jatuh cinta, sampai gelisah begitu ingin melihat kekasih baru nya." bisik pak Anthoni.
"Apa sih pah." Ken pun diam dan menunduk, tapi memang benar adanya, Ken ingin sekali melihat Sandra, dia sangat merindukan nya.
Mobil Baron yang di kendarai oleh Jay pun kini sudah sampai di rumah nya Ralin, Baron turun dari mobil nya, tampak dia sangat gagah dan tampan dengan jas yang dia pakai.
"Nah itu seperti nya mereka sudah datang." ucap pak Anthoni sambil melihat ke arah mobil yang baru masuk ke halaman rumah Ralin.
"Untuk saksi dan wali nya apa sudah siap?" tanya pak penghulu kepada Baron.
"Kami berdua sudah tidak punya orang tua pak." jawab Baron.
"Baiklah kalau begitu kamu yang menjadi wali hakim buat mempelai wanita." ucap pak penghulu kepada asisten nya.
"Baik pak."
"Bagaimana sudah siap? kalau sudah siap tolong panggilkan mempelai wanita nya."
Ken pun berdiri dengan alasan ingin memanggil Ralin, padahal dirinya sudah ngga sabar ingin bertemu dengan Sandra.
"Mau kemana kamu Ken? Kamu duduk saja sebagai saksi di sini." ucap pak Anthoni yang tahu akal bulus Ken anak nya.
Dengan wajah sedikit kesal Ken pun duduk kembali di samping ayah nya.
"Biar saya yang panggilkan." ucap Reni lalu pergi ke atas untuk memanggil Ralin.
__ADS_1
Ralin dan Adriana serta Lisna yang sedang menggoda Sandra pun tidak menyadari kalau Reni sudah berdiri di depan pintu kamar.
"Permisi bu, maaf mengganggu." ucap Reni sambil mengetuk pintu nya.
"Iya Ren, kenapa?" tanya Ralin sambil menatap Reni.
"Ibu sudah di tunggu di bawah, soalnya semua sudah kumpul." jawab Reni.
"Baik Ren, bilang tunggu sebentar." ucap Ralin sambil menatap kembali dirinya di depan kaca.
"Baik bu, kalau begitu saya kembali ke bawah." ucap Reni lalu membalikan tubuh nya.
"Tunggu Ren, aku bareng kamu ke bawah nya, mamah nanti turun di apit sama adek dan bu Adriana ya? Aku tunggu di bawah." ucap Lisna.
"Baik kakak ipar." ucap Sandra.
Lisna pun turun bersama Reni, mereka ingin melihat wajah kaget Ralin ketika melihat hasil dekoran nya.
"Na, padahal ini kan ijab kobul yang ke dua degan pria yang sama, tapi kenapa ya aku kok tetap deg-deg gan."
"Pastilah Lin, aku saja pas menikah lagi sama mas Anthoni begitu Lin."
"Ya sudah mah, ayo kita ke bawah." ajak Sandra sambil menggandeng tangan Ralin di sebelah kiri dan Adriana sebelah kanan.
Mereka bertiga turun dan melangkah dengan langkah yang pelan, jantung Ralin semakin berdebar ketika dirinya menginjakkan kaki di tangga terakhir.
Mereka yang sedang menunggu melihat ke arah tangga, tampak tiga wanita cantik sedang berjalan menuju mereka.
"Cantik banget kamu sayang, dan jas ini, oh tante Ralin, aku harus berterima kasih sama tante Ralin, ternyata jas ku senada dengan gaun Sandra." gumam bathin Ken sambil menatap Sandra tanpa kedip.
"Dari dulu sampai sekarang, kamu tetap cantik sayang, aku jadi ingat sewaktu kita nikah dulu, aku janji tidak akan ku ulangi lagi kesalahan yang sama." gumam bathin Baron.
Mata Ralin menatap takjub ruangan nya yang sudah di sulap cantik oleh Reni dan Lisna, Ralin menatap mereka berdua seakan-akan meminta penjelasan.
Lisna dan Reni yang di tatap pun hanya tersenyum dan mengangguk.
"Silahkan duduk di samping mempelai pria bu." ucap Reni sambil menahan senyum nya, dia sudah ngga sabar ingin bilang kalau dekoran nya itu sebagai kado dari dia dan Lisna.
__ADS_1