
Ralin pun sudah sampai di tempat yang sudah di janjikan oleh Adriana, dia melihat kearah sekitar cafe.
"Mana dia katanya sudah sampai." gumam Ralin.
"Lin sini." teriak Adriana sambil me;lambaikan tangan nya.
Ralin pun melihat kearah Adriana yang sedang duduk bersama seorang pria, lalu menghampiri nya.
"Malam, maaf telat tadi menemani klien dulu." ucap Ralin sambil mencium pipi kiri dan pipi kanan Adriana.
"Ngga apa-apa Lin, kita juga belum lama kok, oh ya kenalin ini teman aku Deri." ucap Adriana sambil menunjuk Deri.
"Deri kenalkan ini Ralin, wanita yang kamu sukai dari dulu." ucap Adriana.
"Ralin."
"Deri."
Ucap mereka sambil saling berjabat tangan.
Deri terpana dengan kecantikan Ralin, memang dari dulu Deri menyukai sosok Ralin, tapi Deri belum ada keberanian untuk mendekati Ralin.
"Silahkan duduk." ucap Deri pada Ralin.
Mereka bertiga pun kini sudah duduk berhadapan sambil berbincang ringan.
Semenjak kedatangan Ralin mata Deri terus menatap Ralin tanpa kedip dan penuh damba membuat Ralin merasa tidak nyaman.
*
*
"Nak, ayo kita berangkat." ajak Baron.
"Ayo yah, tapi abang kemana ya yah, sudah malam begini belum pulang." ucap Sandra sambil masuk ke dalam mobil.
"Tadi sih katanya mau bertemu klien dulu." ucap Baron.
"Aduh yah, seperti nya aku ngga jadi ikut, perut ku sakit." teriak Sandra sambil memegang perut nya.
"Kamu sakit nak, kalau gitu kita ke rumah sakit ya." ucap Baron dengan nada khawatir nya.
"Ngga ayah, aku cuma butuh tiduran sambil di kompres pakai air hangat saja perut nya nanti juga baikan lagi." ucap Sandra.
"Tapi ayah takut kamu sakit nya parah nak." ucap Baron.
__ADS_1
"Ngga ayah, ini karena hari pertama ku datang bulan, dan memang aku suka merasakan sakit seperti ini." ucap Sandra.
Baron pun terdiam sambil mengingat kelakuan dirinya yang dulu pernah menendang Ralin istri nya sebelum ia membuang anak nya.
"Apa kamu juga merasakan sakit seperti Sandra, maafkan aku sayang waktu itu aku terbalut emosi hingga aku membuat kamu menderita." gumam bathin Baron sambil menatap iba kepada Sandra.
"Ayah kok melamun? Ayah beli saja sate nya aku tunggu ayah di rumah." ucap Sandra.
"Ya sudah kalau gitu kamu tunggu di rumah ya sayang." ucap Baron sambil keluar dari mobil.
"Lo, ayah kok malah keluar lagi, bukan nya mau beli sate?" tanya Sandra.
"Ayah mau panggil bu Murni dulu untuk menemani kamu." ucap Baron sambil pergi masuk ke dalam rumah.
*
*
"Mur, kamu mau kan kalau sekarang kita melanjutkan lagi kisah kita yang dulu?" tanya Jay.
"Tapi apa kamu ngga malu sama aku yang sudah berstatus janda?" bu Murni pun balik bertanya pada Jay.
"Apapun status kamu, gimana pun keadaan kamu, aku akan selalu menerima kamu apa adanya, lagian kan janda hanya status saja, barang nya masih ori." ucap Jay sambil tersenyum nakal.
"Malu ih mas, nanti ada yang dengar gimana?" ucap bu Murni sambil senyum malu-malu.
"Kata siapa ngga ada yang mendengar, saya sudah mendengar nya ya? Kalau kalian masih saling mencintai besok kalian saya nikahkan." teriak Baron yang sudah berdiri di pintu dapur.
"Bos."
"Pak."
Ucap Jay sama bu Murni secara bersamaan sambil menoleh kearah pintu.
"Ayah kenapa ninggalin aku." teriak Sandra sambil memegang perut nya.
"Kok bos sudah pulang lagi, memang nya sudah beli sate nya?" tanya Jay.
"Sudah pulang gundul mu, berangkat saja belum, bu aku titip Sandra, dia lagi datang bulan hari pertama jadi perut nya sakit." ucap Baron.
"Iya pak, mari nak Sandra ibu kompres pakai air hangat." ucap bu Murni sambil menyiapkan kain dan air hangat.
"Ayah pergi beli sate nya dulu ya nak, kamu hati-hati di sini sama om Jay dan bu Murni." ucap Baron.
"Iya ayah, jangan lupa ya yah beli sate nya yang super enak." ucap Sandra.
__ADS_1
Sandra memang sudah lama ngga makan sate, jadi dia sangat menginginkan nya sekali malam ini.
"Jay awas ya kamu kalau ngga jaga Sandra." ucap Baron.
"Baik bos, tenang saja saya akan menjaga kedua wanita yang ada di rumah ini." jawab Jay sambil tersenyum.
"Ayo nak, kita ke kamar, nak Sandra harus sambil berbaring." ajak bu Murni.
"Ya sudah ayah berangkat ya sayang." ucap Baron lalu pergi.
*
*
"Lis, kenapa kamu tidak pernah angkat telepon kakak?" tanya Jev yang kini mereka sudah berada di suatu taman.
"Aku ngga mau pacar atau istri nya kakak salah paham." jawab Lisna sambil menunduk.
"Kakak masih sendiri, kakak belum punya pacar apalagi istri." jawab Jev.
"Aku ngga percaya kalau kakak belum punya seseorang di hati kakak."
"Lis, dengarkan kakak, kakak ini masih sendiri dan belum mempunyai pasangan." ucap Jev sambil meraih kedua tangan Lisna.
"Tapi waktu di rumah aku kakak sedang menghubungi perempuan kan?" tanya Lisna.
Jev pun berpikir sebentar lalu menjawab setelah dia mengingat nya.
"Iya benar kakak menghubungi seorang wanita, tapi apa masalah nya?"
"Ya masalah lah kak, kalau kakak sudah punya pasangan aku mohon dengan sangat kakak jauhi aku, kakak jangan pernah muncul lagi di hadapan aku." ucap Lisna dengan sedikit sesak di dada nya.
Jujur Lisna menyukai Jev dari semenjak pertama mereka bertemu, tapi karena Lisna mendengar Jev sedang menghubungi seorang perempuan, Lisna menghilangkan rasa suka nya itu secara perlahan, karena dia ngga mau jadi perusak hubungan orang.
"Kan udah dari tadi kakak bilang kalau kakak ini belum punya pasangan, apa kamu kurang jelas?"
"Sudah lah kak, laki-laki dimana-mana sama saja, dia selalu ngaku belum punya pasangan padahal dia sudah punya tunangan bahkan punya istri." ucap Lisna sambil berdiri.
"Kamu mau kemana, dengarkan kakak dulu." ucap Jev sambil menarik tangan Lisna dengan sedikit keras, hingga membuat Lisna terduduk di pangkuan Jev.
Sumpah demi apapun entah ini anugerah entah ini cobaan, hari ini Lisna jatuh terduduk di atas pangkuan Jev sudah dua kali.
"Apalagi yang harus aku dengarkan kak, apa aku harus mendengar kakak manggil dia sayang lagi?" tanya Lisna dengan dada yang bergemuruh, antara kesal dan senang karena bisa duduk di atas pangkuan Jev lagi.
"Kamu cemburu?" tanya Jev sambil mengibaskan rambut Lisna kebelakan telinga nya.
__ADS_1
"Buat apa aku cemburu, kakak kan bukan siapa-siapa aku." ucap Lisna sambil berusaha turun dari pangkuan Jev.