
Kini Ralin pun sudah berada di rumah nya, Adriana dan suami nya masih setia membantu dan menemani Ralin, karena memang ASI Ralin yang belum subur jadi Adriana lah yang memberikan ASi setiap hari nya.
Adriana pun selalu stok ASI nya buat persediaan bayi Ralin, karena Ralin ngga mau tinggal di rumah Adriana dengan alasan takut suatu waktu suami nya pulang.
Malam itu Ralin sedang tertidur dengan bayi nya, tiba-tiba pintu rumah nya ada yang mengetuk dan memanggil nama nya.
"Suara mas Baron." gumam Ralin lalu bangun dari tidur nya dan langsung membuka pintu utama.
Ralin pun membuka pintu nya dan melihat Baron yang sudah berdiri di depan pintu.
"Mas sudah pulang, kok lama sekali pergi nya? gimana kerjaan nya lancar?" Tanya Ralin sambil menatap wajah Baron.
"Lancar dong Sayang." jawab Baron sambil menatap Ralin aneh.
"Mas kok ngelihatin aku nya kayak gitu, jadi serem deh." ucap Ralin.
"Perut kamu kenapa rata begitu? Anak kita kemana?" tanya Baron.
"Aku sudah melahirkan mas, aku telepon mas susah masuk." jawab Ralin sambil menutup pintu nya kembali.
"Terus jagoan mas dimana sekarang?" Tanya Baron.
"Ada di kamar mas." jawab Ralin dengan sedikit takut dengan Baron.
Baron langsung berlari ke kamar dan melihat bayi nya.
Begitu sampai ke kamar dan melihat bayi nya, Baron sangat lah marah ketika mengetahui jenis kelamin bayi nya.
Baron pun mengambil bayi nya yang sedang tidur nyenyak, lalu membawa nya ke luar.
"Mas mau di bawa kemana anak kita" teriak Ralin sambil menghampiri Baron.
"Aku kan sudah bilang berapa kali kalau aku tuh ngga mau mempunyai anak perempuan, aku tuh ingin nya anak laki-laki." teriak Baron.
"Mas aku mohon, jangan ambil anakku, kembalikan anakku mas." Ralin pun memohon sambil bersimpuh dan memegang kaki suami nya.
"Minggir kamu, aku ngga sudi mempunyai anak perempuan." teriak Baron sambil menyingkirkan tubuh Ralin dari kaki nya.
__ADS_1
Ralin pun tersungkur di lantai, tapi Ralin tidak menyerah, dia ingin mempertahankan anak nya apapun yang terjadi.
Ralin pun bangun dan berlari mengejar Baron dan berusaha untuk merebut kembali anak nya.
Tapi Baron sudah kalap karena emosi yang sedang merasuki diri nya, melihat Ralin yang berusaha untuk merebut bayi dari tangan nya, Baron spontan menendang Ralin tepat di bagian perut nya hingga Ralin tersungkur di lantai sambil menahan rasa sakit di perut nya.
Ralin pun hanya bisa menatap kepergian Baron yang membawa anak nya pergi dengan menahan sakit yang luar biasa, Ralin pun mengambil ponsel yang ia simpan di saku baju tidur nya.
"Untung tadi aku sempat membawa ponsel." gumam Ralin lalu menghubungi Adriana.
Adriana yang baru saja mau tidur, habis memberikan ASI buat putri mendengar ponsel nya berbunyi.
"Siapa malam-malam begini telepon?" gumam Adriana sambil mengambil ponsel yang dia simpan di meja rias nya.
"Ralin? Ada apa malam-malam begini menghubungi aku?" gumam Adriana sambil menggulir icon berwarna hijau di ponsel nya.
"Iya Lin, ada apa?" Tanya Adriana.
"Na, tolong aku," terdengar suara Ralin yang lemah dan minta tolong kepada nya.
"Ada apa sih Yang? teriak-teriak, nanti putri bangun lagi." kata Radit dengan mata yang masih terpejam.
"Mas Ralin mas," teriak Adriana.
"kenapa dengan Ralin?" Tanya Radit sambil memeluk guling.
"Barusan Ralin menghubungi aku, cuma bilang tolong terus suara nya tidak terdengar lagi, kita ke sana yuk mas." ajak Adriana yang merasa khawatir dengan keadaan sahabat nya itu.
Radit pun langsung bangun dan menyiapkan mobil untuk pergi ke rumah Ralin.
"Jangan lupa Putri nya di pakaikan jaket Yang." teriak Radit sambil pergi keluar.
Adriana pun langsung memakaikan baju hangat buat Putri, di rasa sudah selesai, Adriana pun langsung menghampiri suami nya dan masuk ke dalam mobil.
"Ayo mas kita berangkat, aku takut terjadi apa-apa sama Ralin dan bayi nya." Adriana pun sudah ngga sabar ingin segera sampai ke rumah Ralin
Radit pun melajukan mobil nya dengan kecepatan agak sedikit tinggi tapi tetap hati-hati.
__ADS_1
Tidak berapa lama Radit dan Adriana pun sampai di rumah nya Ralin, Adriana langsung turun sambil menggendong bayi nya dan menghampiri Ralin yang sudah tergeletak tak sadar kan diri.
"Mas, tolong Ralin mas" teriak Adriana sambil menyentuh nadi di tangan nya Ralin.
"Alhamdulilah masih hidup" gumam bathin Adriana.
"Biar mas yang angkat Ralin ke mobil, kamu cari bayi nya Ralin ke kamar." ucap Radit sambil berusaha menggendong Ralin.
Adriana pun mencari-cari bayi nya ke setiap sudut rumah Ralin, tapi hasil nya tetap saja tidak menemukan bayi nya.
"Kemana bayi kamu Ralin?" Gumam bathin Adriana lalu keluar dari dalam rumah Ralin.
"Gimana Yang, ada ngga?" Tanya Radit.
"Ngga ada mas, di dalam ngga ada siapa-siapa, apa ada penculik masuk ya?" Jawab Adriana.
"Ya sudah kita bawa Ralin saja dulu ke rumah sakit, nanti kita cari anak nya." kata Radit lalu melajukan mobil ya menuju rumah sakit terdekat.
Setiba nya di rumah sakit, Ralin pun langsung di bawa keruang IGD dan ditangani oleh dokter.
Radit dan Adriana menunggu nya di ruang tunggu, tapi Adriana menyuruh Radit pulang menitipkan bayi nya di rumah tetangga nya yang memang sudah biasa ia menitip kan Putri di kala dia lagi kerepotan dengan kerjaan atau mau berpergian yang ngga memungkin kan untuk membawa anak nya.
Radit dan Adriana memang tinggal berdua di kota ini, karena ke dua orang tua mereka tinggal di kampung masing-masing.
"Mas,mas pulang aja sama Putri, terus Putri titip kan di rumah nya mbak Sani nanti mas balik lagi ke sini." kata Adriana.
"Ya sudah kalau begitu mas balik sama Putri ya? Kamu hati-hati di sini." Radit pun pamit lalu mencium kening Adriana dengan waktu yang sedikit lama, seakan-akan dia ngga akan pernah bertemu lagi.
"Mas hati-hati ya? Jaga selalu anak kita." ucap Adriana sambil menatap suami dan anak nya.
Adriana pun mencium seluruh wajah suami dan anak nya, "Kalian hati-hati ya? Putri nya tidurin aja mas di jok samping seperti biasa." kata Adriana.
"Iya sayang, kalau begitu aku sama Putri pulang dulu ya." Radit pun pamit dan pergii meninggalkan Adriana yang sedang menunggu kabar Ralin.
Radit pun pergi meninggalkan Adriana sendirian sambil menggendong Putri anak nya.
"Kenapa perasaan aku ngga enak ya?" gumam bathin Adriana sambil teru menatap kearah punggung suami nya yang mulai menghilang dari pandangan matanya.
__ADS_1