Bos Dan Aku

Bos Dan Aku
Tidak Mungkin


__ADS_3

Terdengar samar-samar di telinga Jev orang yang lagi berbincang membuat Jev membuka kedua matanya dengan perlahan, Jev pun membalikan tubuh nya ke arah suara dan betapa kaget dan bahagaia nya Jev ketika melihat adik kesayangan nya sudah sadar dan sudah bisa tersenyum lagi.


"Adek."


Sandra pun melirik ke arah Jev, "Bang, bagaimana keadaan abang?"


"Dek, seharus nya abang yang bertanya seperti itu, bukan kamu? Abang baik-baik saja, apa yang adek rasakan sekarang?" Jev pun dengan perlahan ingin turun dari ranjang.


Baron yang melihat Jev ingin turun dari ranjang pun bergegas menghampiri dan membantu Jev.


"Ayah bantu nak." ucap Baron sambil memegang tangan Jev.


"Yah, lepaskan saja, aku mau belajar berjalan sendiri, dua hari terbaring membuat otot-otot kaki ku kaku."


Jev dengan perlahan melangkah kan kaki nya menghampiri tempat tidur Sandra, Baron dengan waspada mengikuti nya di belakang.


Akhir nya Jev pun sampai di ranjang nya Sandra, dia langsung memeriksa luka lebam Sandra di wajah dan di tangan nya.


"Pasti tubuh kamu sangat sakit ya dek?"


"Ya lumayan lah bang."


"Permisi, maaf mengganggu, lo udah sadar ternyata, kapan sadar nya?" tanya dokter yang menangani Sandra dan Jev.


"Semalam dok." jawab Ralin.


"Kenapa tidak memanggil saya atau suster?" dokter pun mengeluarkan alat dan memeriksa nya.


"Sandra melarang nya, karena tidak ingin mengganggu waktu istirahat dokter dan suster."


"Itu sudah menjadi kewajiban kami nak, jadi kapan pun kalian membutuhkan kami, kami akan selalu siap."Sandra hanya tersneyum mendengar ucapan dari dokter.


"Tapi nak Sandra masih ingat dan mengenali kita yang ada di ruangan ini kan?" dokter takut nya Sandra terkena amnesia.


"Alhamdulilah kenal dok, tapi ada yang belum aku kenal."


"Ampun dek, baru juga sadar udah mau goda dokter." gumam bathin Jev yang sudah tahu dengan watak Sandra.


"Siapa nak?" tanya dokter dengan wajah serius nya.

__ADS_1


"Pak dokter, aku kan baru bertemu dengan pak dokter jadi belum kenal."


Dokter dan semua yang ada di ruangan pun tersenyum mendengar ucapan dari Sandra.


"Wah kalau sudah bercanda seperti ini berarti sudah sembuh dong, sekarang apa yang di rasakan? Pusing atau bagian mana yang sakit?"


"Pusng sih ngga dok, cuma seluruh badan ini pada sakit."


"Sudah bisa pulang belum dok?" tanya Ralin, Ralin sudah ngga sabar ingin segera membawa Sandra untuk pulang.


"Kalau untuk pulang, seperti nya belum bisa bu, karena kondisi nya masih lemah, jadi kita tunggu nak Sandra segar dan bertenaga kembali baru boleh pulang, nah kalau nak Jev sudah bisa lepas infusan nya, suster tolong buka infusan nak Jev." ucap dokter paruh baya setelah memeriksa kedua nya.


"Akhirnya lepas juga nih infusan." ucap Jev.


"Dan ini resep obat yang harus di tebus untuk nak Sandra, itu obat penahan rasa sakit dan salep untuk luka lebam nya dan satu nya vitamin biar nak Sandra tidak lemas lagi." dokter pun memberikan resep yang sudah dia catat kepada Baron.


"Baik dok, terima kasih." Baron pun mengambil resep dari tangan dokter.


"Baiklah kalau begitu saya permisi mau memeriksa yang lain nya, jangan lupa makan makanan yang sehat dan banyak-banyak istirahat."


"Baik dok." ucap mereka serempak.


"Memang nya bu Murni ngga kesini mas?"


"Mas nyuruh siang aja kesini nya, soalnya pagi ini Jev harus membeli ponsel buat Lisna dulu."


"Ya ampun aku sampai melupakan nya, kak Lisna gimana bang? Apa dia baik-baik saja?" Sandra lupa belum emnanyakan kabar Lisna.


"Lisna ngga apa-apa, dia kan pura-pura pingsan karena kamu yang nyuruh katanya." ucap Jev.


"Iya, karena kalau mereka tahu kak Lisna sudah sadar pasti kak Lisna juga di hajar nya."


"Sudah, kamu baru sadar jangan di pikirkan lagi, sekarang kamu fokus sama kesembuhan kamu saja." ucap Ralin.


"Oh ya bang, abang lihat ponsel aku ngga? Soalnya pas aku kena bius aku langsung ngga sadar.


"Seperti nya mereka sudah membuang ponsel kalian berdua, makanya ponsel kalian berdua tidak bisa di hubungi.


"Ayah, maafkan aku." Sandra merasa bersalah karena ponsel yang Baron belikan dengan harga yang fantastis kini telah hilang.

__ADS_1


"Kenapa minta maaf sama ayah nak?"


"Ponsel yang ayah belikan hilang, mana ponsel nya mahal." ucap Sandra dengan wajah menggemaskan.


"Dengarkan ayah, semahal apapun harga ponsel itu ayah tidak perduli yang ayah perdulikan adalah nyawa kamu."


Adem sekali rasanya mendengar ucapan Baron yang seperti itu.


"Makasih ayah." ucap Sandra sambil menitik kan air mata nya, Sandra sungguh sangat beruntung sudah di pertemukan dengan Baron dan Ralin.


"Sudah, nanti ayah belikan lagi yang lebih bagus, sekarang ayah mau mandi dulu dan mencari sarapan." setelah berucap seperti itu Baron pun pergi ke kamar mandi.


Baron dan Jev kini sudah rapih dan kelihatan tampan, walapun luka lebam masih terlihat di wajah nya Jev, tapi tidak mengurangi kadar ketampanan nya.


"Ayah, aku ikut ya ke apotek sama beli sarapan nya."


"Memang nya kamu sudah kuat berjalan?"


"Ayah tenang saja, aku kan laki-laki kuat, bukan laki-laki lemah."


"Ya sudah kalau memang abang kuat berjalan ikut saja sama ayah, kalau begitu mamah mau lap tubuh Sandra, pasti ngga enak kan sudah dua hari ngga mandi dan ngga ganti baju."


"Iya mah, aku mau ganti baju, ini sudah ngga enak, bau lagi." Sandra pun mencium tubuh nya."


"Kamu mah ngga mandi sebulan pun pasti masih wangi dek, orang mamah setiap waktu memberikan kamu minyak wangi."


"Bener mah?" Ralin hanya tersenyum mendengar perdebatan mereka, ini salah satu yang di rindukan Ralin dari mereka berdua.


"Kamu mau ikut atau mau menggoda adik kamu terus?" Baron tahu kalau Jev sudah menggoda adik nya bisa-bisa yang di beli bukan buat sarapan tapi buat makan siang.


"Ikut yah ikut, lagian kan mamah mau gantiin baju adek, jadi Jev harus keluar dari ruangan."


"Ya udah ayo." Baron dan Jev pun pergi meninggalkan Ralin dan Sandra.


"Mamah lap pakai handuk basah saja ya nak? Soalnya kamu masih lemas belum bisa turun dari tempat tidur." Sandra mengangguk, Ralin pun menyiapkan semua yang di perlukan, dan tidak lupa mengunci pintu ruangan takut ada yang masuk.


"Maaf ya nak, mamah buka baju kamu." setelah mendapat izin dari Sandra, Ralin pun satu persatu membuka baju yang melekat di tubuh Sandra.


"Tidak! Tidak mungkin."

__ADS_1


__ADS_2