
Jev pun kecewa mendengar jawaban dari Lisna pujaan hati nya.
"Makasih sudah mau menemani saya, maaf sudah mengganggu waktu kamu." ucap Jev sambil melepaskan kedua tangan nya dari tubuh Lisna.
Secara tidak langsung Jev menyuruh Lisna untuk berdiri dan pergi dari hadapan nya karena dia kecewa dengan jawaban yang di berikan Lisna, tapi Lisna masih duduk di pangkuan Jev dan enggan untuk berdiri.
"Kenapa? menyerah?" tanya Lisna sambil mengalunkan kedua tangan nya ke leher Jev, dia ingin membalas karena Jev sudah mengerjai nya.
"Bukan menyerah, tapi saya tidak mau memaksakan hati seseorang saja." jawab Jev sambil melihat ke sembarang arah.
"Kok panggilan nya kembali formal sih sayang." ucap Lisna dengan nada yang menggoda.
"Maaf saya sudah di tunggu adik saya di rumah." ucap Jev sambil melepaskan tangan Lisna dari leher nya.
"Kakak marah?" tanya Lisna.
"Ngga, cuma kakak tipe orang yang ngga mau memaksa perasaan orang lain, oh iya ini sudah malam, mari kakak antar pulang." ucap Jev dan berusaha menurunkan Lisna dari pangkuan nya.
"Cup." Lisna pun mengecup bibir Jev yang sedang bicara, sepontan Jev terdiam sambil menatap Lisna.
"Biar ngga ngoceh terus, dengarkan aku baik-baik ya sayang, aku itu tadi belum selesai bicara nya." ucap Lisna sambil menyentuh kedua pipi Jev.
"Terus, jadi kamu menerima jadi pacar kakak?" tanya Jev.
"Aku tidak mau jadi pacar kakak." jawab Lisna yang masih ingin ngerjain Jev.
"Sudah lah lepaskan, ayo kita pulang." ucap Jev sambil berusaha melepaskan tangan Lisna dari wajah nya.
"Aku hanya mau jadi istri kakak." ucap Lisna lalu mencium bibir Jev sedikit lama.
__ADS_1
Jev yang mendengar ucapan dari Lisna pun merasa bahagia, lalu ia pun membalas ciuman yang diberikan Lisna.
Mereka pun menyalurkan semua rasa yang ada pada diri mereka lewat ciuman panas nya malam ini.
Mereka berdua tidak memperdulikan malam yang dingin dan semilir angin yang menerpa tubuh mereka, mereka berdua larut dalam sebuah ciuman yang menghangat kan seluruh tubuh mereka.
Lewat ciuman mereka saling menumpahkan perasaan nya, hingga Lisna merasa kehabisan nafas dan melepaskan ciuman nya.
"Sudah kak stop, kita belum halal." ucap Lisna sambil tersenyum malu.
"Kan kamu yang mulai, Yang." jawab Jev sambil mengelap bibir Lisna yang basah oleh jari jempol nya.
"Udah ah kita pulang saja, sudah malam." ucap Lisna sambil berdiri dari pangkuan Jev.
"Ya sudah ayo kakak antar, nanti kapan-kapan kamu akan kakak kenalkan pada adik kakak dan ayah." ucap Jev sambil membukakan pintu mobil untuk Lisna.
"Makasih kak." ucap Lisna sambil duduk di kursi depan.
"Terus panggil nya apa dong, kan udah biasa manggil nya kakak." ucap Lisna."
"Yang mesra lah, masa panggil nya kakak, nanti yang mendengar nyangka aku ini kakak kamu lagi." ucap Jev sambil melajukan mobil nya.
"Ya sudah ngga usah cemberut gitu, senyum dong hunny." ucap Lisna sambil tersenyum.
"Apa yang, coba sekali lagi kamu manggil apa barusan?" tanya Jev ingin memastikan nya sekali lagi.
"Udah ah jangan menggoda aku terus hunny." ucap Lisna.
Malam ini adalah malam yang paling indah bagi Jev, seakan-akan Jev tidak ingin segera pagi, dia ingin terus menikmati kebersamaan nya dengan LIsna.
__ADS_1
*
*
Kedua pasang mata saling menatap penuh dengan tatapan kerinduan yang begitu dalam.
"Sayang, itu kamu kan? aku lagi ngga bermimpi kan?" tanya Baron sambil terus mengerjapkan kedua mata nya.
"Maaf mas jangan panggil aku dengan panggilan sayang lagi." ucap Ralin sambil kembali mata nya fokus ke mesin mobil.
Sebenar nya ingin sekali Ralin memeluk nya erat, tapi bayangan Baron bersama seorang wanita waktu di mall melintas kembali di pikiran nya.
Baron seketika diam dan mencerna ucapan Ralin.
"Maaf kalau panggilan ku membuat kamu tidak nyaman lagi, apa boleh saya minta waktu nya sebentar?" tanya Baron.
Sakit, itu lah yang dirasakan hati Ralin saat ini, saat orang yang dia cintai berbicara formal seakan-akan mereka orang yang baru bertemu dan baru kenal, tapi mau bagaimana lagi Baron bersikap seperti itu pun karena Ralin yang memulai nya.
"Maaf saya lagi sibuk dan ngga ada waktu untuk berbicara yang ngga penting." jawab Ralin dengan ketus.
"Segitu benci nya kah kamu pada aku sayang, hingga kamu bersikap ketus dan tidak mau melirik aku." gumam hati Baron.
Betapa sesak nya dada Baron melihat sikap Ralin yang seperti itu kepada dirinya, dia memang ingin sekali bertemu sama istri nya ini, tapi bukan sikap seperti ini yang dia harapkan, memang dia telah berbuat salah dan jahat kepada Ralin, tapi sengga nya berilah sedikit harapan nya untuk sekedar meminta maaf.
"Bagi kamu mungkin ini ngga penting, tapi bagi aku ini sangatlah penting, selama ini aku terus mencari kamu tanpa lelah, hujan yang diiringi petir dan juga panas yang membakar kulitku aku tidak perduli, karena yang ada di pikiran aku cuma kamu, cuma ingin bertemu kamu, mungkin kesalahanku yang dulu memang tidak bisa di maafkan karena kesalahanku sungguh terlalu fatal." ucap Baron yang tidak perduli Ralin akan mendengarkan nya atau tidak, tapi ini adalah kesempatan buat dirinya untuk mengungkapkan semua nya.
Tanpa diketahui Baron Ralin sudah mengeluarkan air matanya dan pura-pura menunduk melihat mesin mobil.
"Apa benar kamu sudah berubah mas? apa benar selama ini kamu mencari aku? apa itu cuma siasat kamu saja? kamu pasti bohong mas, kamu tidak mencari aku, tapi kamu malah asik bahagia dengan wanita lain." gumam bathin Ralin sambil sedikit menghapus air mata nya.
__ADS_1
"Maaf kan aku sayang eh Ralin, aku tahu apa yang sudah kulakukan dulu tidak akan mendapatkan maaf dari kamu, dan sekarang aku lega sudah mengutarakan semua nya, dan aku melihat kamu seperti nya sudah hidup bahagia sekarang, semoga kamu selalu bahagia dengan pasangan kamu yang sekarang, asal kamu tahu dari dulu sampai sekarang aku masih mengharapkan kamu, dari dulu sampai sekarang dan selamanya sampai aku menghembuskan nafas ini aku tetap mencintai kamu, hanya nama dan wajah kamu yang selalu ada di hati dan pikiran aku, sekali lagi maaf kan aku, terimakasih untuk waktunya sudah mau mendengarkan semua isi hatiku, selamat malam." ucap Baron sambil menghapus air mata yang terlanjur turun di pipi nya lalu pergi meninggalkan Ralin.
Sungguh sakit hati mereka berdua, selama puluhan tahun mengharapkan bertemu dan memendam rindu, tapi di saat bertemu tidak ada senyuman untuk mereka berdua, karena sebuah kesalah pahaman.