
Semenjak pulang dari mall sikap Ralin jadi pendiam, terlalu banyak yang di pikirkan nya sekarang, di tambah mikirin Baron yang status nya memang belum bercerai dengan diri nya.
Adriana sedang duduk santai di ruang keluarga sambil menunggu anak dan suami nya pulang, tiba-tiba ponsel nya berdering.
"Iya Lin, kenapa? masih kangen aku ya?" goda Adriana.
"Na, tadi aku ke mall untuk menghilangkan penat dan kecewa karena ngga bertemu dengan Sandra, tapi aku malah dibuat makin penat di sana." ucap Ralin sambil menahan sesak di dada dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Kenapa malah makin penat? bukan kah seharus nya kamu jadi happy?"
"Awal nya aku happy karena semua ku curahkan pada belanjaan, tapi pas aku mau pulang aku bertemu seseorang yang selama ini ku cari dan ku tunggu." jawab Ralin.
"Siapa? bukan kah orang yang kamu cari dan kamu tunggu selama ini adalah anak kamu? apa kamu bertemu dengan nya?" tanya Adriana.
"Bukan Na, tapi aku bertemu dengan mas Baron." jawab Ralin sambil menghapus air mata nya.
"Mas Baron? kamu ngga diapa-apain kan Lin? kamu ngga di sakitin kan Lin?" teriak Adriana khawatir.
"Ngga Na, karena dia ngga melihat aku, dia lagi sibuk bermesraan dengan wanita lain, mungkin wanita itu istri baru nya mas Baron."
"Sudah lah Lin, lupakan dia, aku kan sudah bilang dari dulu kamu jangan terlalu berharap lagi sama suami kamu itu, mulai sekarang kamu harus move on Lin, lupakan semua nya." ucap Adriana yang ikut merasa sakit hati.
""Entahlah Na, aku bingung aku harus apa ke depan nya." ucap Ralin yang terdengar putus asa.
"Kamu harus melupakan nya Lin, harus." ucap Adriana dengan tegas.
"Bagaimana aku bisa melupakan nya Na? sementara hati aku dari dulu hanya untuk dia." pecah sudah tangisan Ralin yang sejak tadi dia tahan.
"Lin, andai kamu mau, aku bisa membantu kamu melupakan mas Baron mu itu." ucap Adriana yang merasa prihatin dengan sahabat nya itu.
"Gimana cara nya Na?" tanya Ralin sambil terus menghapus air mata nya.
"Temui aku besok di cafe xxxx pas jam makan siang." jawab Adriana.
"Baiklah Na, aku besok akan datang." jawab Ralin.
"Jangan lupa kamu dandan yang cantik ya." ucap Adriana.
__ADS_1
"Iya." jawab Ralin lalu memutuskan panggilan nya.
Ralin pun meneruskan tangisan nya sambil memeluk guling di kamar nya.
Lisna yang ingin menyampaikan sesuatu pun tidak jadi dan kembali menyelesaikan pekerjaan nya ketika mendengar suara tangisan dari dalam kamar Ralin.
"Kasihan ibu, pasti lagi kangen suami dan anak nya." gumam bathin Lisna lalu pergi dari depan kamar Ralin.
Sedangkan Adriana setelah panggilan nya bersama Ralin terputus, dirinya langsung menghubungi seseorang yang menaruh rasa sama Ralin dari dulu.
"Halo Malvin, besok datang ke cafe xxxx, aku sama Ralin ada di sana." ucap Adriana pada seseorang.
"Baiklah kalau gitu besok aku kabarin lagi." ucap Adriana lalu memutuskan panggilan nya.
Semoga dengan kehadiran Malvin kamu bisa melupakan mas Baron mu Lin." gumam Adriana sambil menatap layar ponsel.
*
*
"Ya, dia wanita yang aku ceritakan waktu itu." jawab Jay.
"Ya sudah kalau gitu kita tunggu di ruang keluarga saja, silahkan kalian berdua berbincang-bincang, mungkin kalian juga mau sekalian bernostalgia." ucap Baron.
"Ayo anak-anak kita kasih waktu buat om Jay dan bu Murni." ajak Baron pada Jev dan Sandra.
Kini Jay sedang duduk berdua dengan Murni di ruang tamu, canggung yang mereka rasakan saat ini.
"Kamu."
"Kamu"
Ucap mereka bersamaan, mereka pun terdiam kembali.
"Ya sudah kamu saja dulu Jay." ucap Murni.sambil menunduk malu.
"Kamu apa kabar Mur?" tanya Jay.
__ADS_1
"Aku baik Jay, bagaimana keadaan kamu?"
"Aku juga baik, ngga sangka ya kita akan di pertemukan kembali."
"Iya, anak kamu berapa Jay? pasti sudah pada besar-besar ya? maaf kan aku, dulu aku memilih menikah dengan yang lain karena aku tidak bisa menolak keinginan ayahku yang sedang sakit." ucap Murni.
"Ngga apa-apa aku juga mengerti kok dengan kondisi kamu saat itu, yang penting kamu bahagia aku juga ikut bahagia."
"Setelah menikah hidupku berubah Jay, tidak lama aku menikah dengan mas Ilham ayah ku meninggal, dan aku bercerai kembali dengan mas Ilham." jawab Murni.
"Apa! kenapa kamu sampai bercerai?" tanya Jay tak percaya.
"Karena semenjak nikah, aku terus ngurusin ayah di rumah sakit hingga aku tidak memenuhi kewajiban ku sebagai istri, hingga suatu malam setelah kepergian ayah, mas Ilham meminta hak nya, tapi aku menolak nya karena aku masih dalam keadaan bersedih, seketika mas Ilham marah dan menjatuhkan talak nya." jawab Murni.
"Terus setelah itu apa yang kamu lakukan hingga kamu ada di kota ini?" tanya Jay.
"Setelah jatuh nya talak dari mas Ilham aku menjual rumah peninggalan ayah dan mencari kerja di kota ini, semua pekerjaan sudah kujalani di kota ini, hingga sekarang kerjaan ku hanya kerja serabutan karena memang usia ku yang sudah tidak memungkinkan kerja di pabrik atau lain nya." jawab Murni.
"Kamu tidak mencari pengganti Ilham lagi?" tanya Jay.
"Sebenar nya banyak yang ingin menggantikan posisi mas Ilham, tapi aku ngga bisa menerima nya." jawab Murni.
"Kenapa? apa kamu belum bisa melupakan Ilham?" tanya Jay dengan sedikit kecewa.
"Ya aku belum bisa melupakan nya." jawab Murni sambil menatap wajah Jay.
"Sudah ku duga, kamu pasti ngga bisa melupakan nya karena kamu juga mencintai nya sehingga kamu menerima dia sebagai suami kamu dengan alasan ingin mengabdi kepada ayah kamu yang sedang sakit keras, dan rela meninggalkan aku yang dari dulu sangat mencintai kamu." jawab Jay dengan senyuman sinis nya.
"Aku belum selesai bicara Jay." ucap Murni.
"Apa yang belum selesai? ngga usah di selesaikan juga aku sudah bisa menebak nya, wanita semua nya sama saja." ucap Jay dengan hati yang sedikit panas karena pikir nya Murni mencintai Ilham.
"Aku memang belum bisa melupakan, tapi yang belum bisa aku lupakan itu adalah laki-laki yang aku cintai dan aku sayangi dari dulu, yang ngga mau mempertahan kan cinta nya, dia memilih pasrah dengan keadaan tanpa adanya mau memperjuangkan." jawab Murni.
"Jadi kamu." teriak Jay sambil menatap wajah Murni yang masih terlihat cantik itu.
"Ya, aku masih mencintai dan berharap bisa bersama kamu Jay, tapi sekarang itu tidak mungkin lagi." ucap Murni.
__ADS_1