
Pagi hari wajah Sandra sudah di tekuk, dirinya kesal karena semalam gagal untuk mengganggu kakak nya.
"Pagi-pagi udah di tekuk saja itu muka, kamu kenapa sayang?" tanya Ralin sambil memeluk lalu mencium pipi Sandra.
"Bete mah, semalam aku gagal mengganggu abang." jawab Sandra lalu duduk di kursi makan.
"Kamu ini sayang, malam tadi kan malam pertama abang kamu, ngapain kamu ganggu." ucap Baron yang baru masuk ke ruang makan.
Baron mencium pipi dan kening Sandra, lalu beralih memeluk Ralin yang sedang membuatkan kopi untuk dirinya, dan mencium seluruh wajah Ralin, itu sudah menjadi kewajiban bagi Baron setiap pagi nya.
"Oh Tuhan kenapa setiap pagi harus di sini sih Yah mencium mamah nya, aku kan masih jomblo, tolong hargain aku yang masih jomblo ini." setiap pagi selalu itu yang Sandra ucapkan.
"Sebentar lagi juga kamu akan mendapatkan nya dari suami kamu." ucap Baron lalu duduk di kursi nya.
Ralin yang sudah biasa dengan candaan suami dan anak-anak nya hanya tersenyum sambil memberikan kopi buatan nya kepada Baron.
"Sayang kata Adriana nanti malam mereka akan melamar kamu untuk Ken, jadi kamu harus dandan yang cantik untuk malam ini, dan mamah sudah menyiapkan sebuah dres buat acara lamaran nanti." ucap Ralin.sambil duduk di samping Baron.
Semenjak Sandra memaafkan Baron, mereka semua pada tinggal di rumah Baron, dan rencana nya rumah yang menyatu dengan butik akan di isi oleh Jev dan Lisna.
"Kapan mamah menyiapkan nya?" tanya Sandra dengan wajah heran nya.
"Jauh-jauh hari mamah sudah menyiapkan nya, mamah membuat nya dengan penuh penghayatan jadi mamah mohon kamu memakai nya malam ini."
"Aku akan memakai nya mah, tapi aku maunya di make up sama kak Lisna, ngga mau sama yang lain."
"Iya sayang, nanti mamah yang bilang ke kak Lisna."
"Ini abang sama kakak kemana sih, sudah siang juga belum pada nongol, aku sudah lapar ini." ucap Sandra sambil melirik kearah tangga.
"Ya sudah kita makan duluan saja, biarkan mereka menikmati hari pertama nya jadi sepasang suami istri." ucap Baron yang sudah paham dengan apa yang di lakukan anak dan menantu nya itu.
__ADS_1
"Ayo sayang kita makan, mau mamah suapin." Ralin selalu lembut kepada Sandra, dan Ralin sedikit memanjakan Sandra, Ralin ingin menebus selama dua puluh tahun lebih yang tidak bisa mengurus dan memanjakan nya.
"Sayang, dia itu sudah besar, minggu depan sudah menjadi istri Ken, masa masih di suapin?" ucap Baron.
"Ngga apa-apa mas, aku ingin menebus waktu dua puluh tahun yang terlewatkan, aku tidak merasakan momen-momen dimana dia merengek minta jajan atau minta di belikan mainan." ucap Ralin dengan wajah sendu nya.
Baron merutuki dirinya karena sudah salah bicara kepada istrinya dan membuat istri nya kembali bersedih.
"Maaf sayang, bukan maksud aku."
"Sudahlah mas, ngga apa-apa." Ralin tahu Baron pasti merasa bersalah.
"Sudah jangan diungkit lagi, jadi ngga mah nyuapin aku nya, aku sudah lapar ini." Sandra sengaja mengalihkan pembicaraan agar kedua orang tua nya tidak kembali bersedih dan mengungkit masa lalu.
"Jadi sayang, sini." Ralin pun mulai menyuapkan makanan nya kepada Sandra.
"Mas juga ngga mau makan kalau ngga di suapin." bukan Baron iri atau ngga tahu diri, tapi Baron ingin merasakan kebahagiaan nya bersama anak dan istrinya.
"Biarin saja, ini kan istri ayah." ucap Baron sambil memeluk Ralin dari samping kanan nya.
"Ini juga mamah nya aku ayah, ayah ngga lupa kan." ucap Ralin sambil memeluk Ralin dari samping kiri.
Ralin tersenyum dengan perdebatan antara anak dan suami nya, Ralin sangat bahagia sekali melihat Sandra dan Baron bercanda dan memperebutkan dirinya seperti itu.
"Ya sudah kalian berdua ngga usah makan, begini saja terus sampai kita bertiga pingsan karena kelaparan." ucap Ralin sambil mengelus tangan Baron dan tangan Sandra yang sedang memeluk dirinya.
Baron dan Sandra pun melepaskan pelukan nya, Ralin mulai menyuapi mereka secara bergantian.
Sementara keluarga bahagia lagi pada sarapan dengan berbagai drama nya, sepasang suami istri baru membuka matanya setelah senjata Jev berhaasil meluluh lantah kan pertahanan dari Lisna.
"Kamu cantik deh kalau lagi tidur seperti ini." ucap Jev lalu mencium kening Lisna.
__ADS_1
"Oh, jadi kalau aku bangun aku jelek gitu." ucap Lisna yang memang sebenar nya sudah bangun dari sebelum Jev bangun.
"Kamu sudah bangun sayang, aku kira kamu masih mimpi."
"Sebelum mas bangun aku sudah bangun, tapi aku ngga bisa bergerak, habis kamu memeluk nya erat sayang, aku sampai nggabisa bernafas."
"Habis kamu hangat sayang, jadi aku tidak mau melepaskan pelukan ini." bukan nya melepaskan pelukan nya, tapi Jev malah makin mengeratkan pelukan nya.
"Ini sudah siang sayang, bangun yuk." ucap Lisna.
"Sebentar lagi lah Yang, aku masih ingin seperti ini."
"Tapi aku malu sama ayah dan mamah, masa aku bangun siang, aku seperti menantu ngga baik jadi nya."
"Mereka akan mengerti, karena mereka juga merasakan nya." Jev mulai mencium tengkuk Lisna dan menyentuh tubuh Lisna yang kini sudah menjadi kesukaan nya.
Lisna merasa ada sesuatu yang keras di paha nya, dengan perlahan tapi pasti Lisna menyentuh senjata Jev yang sudah mengeras di rasakan nya.
Jev yang terkena sentuhan dari tangan Lisna pun langsung menggeliat, tubuh nya seperti terkena aliran tegangan tinggi.
"Sayang." ucap Jev dengan kedua mata terpejam nya merasakan getaran yang hebat di tubuh nya.
"Masa sudah berdiri lagi sih sayang, dah ah aku mau mandi." Lisna melepaskan sentuhan nya dan membuka selimut yang menutupi tubuh nya.
Tapi usaha Lisna yang ingin pergi ke kamar mandi pun gagal karena dengan gerakan cepat Jev menarik tangan Lisna dan membuat Lisna terjatuh tepat di atas tubuh Jev.
"Sebelum mandi sekali lagi ya sayang, kasihan tuh senjata mas sudah tegak berdiri." ucap Jev sambil menunjuk ke arah senjata nya.
"Tapi semalam sudah dua kali mas, dan ini masih terasa perih lo."
"Kalau sudah terbiasa ngga bakalan perih lagi kok, kamu pasti akan nagih nanti nya, semalam aja kamu menikmati nya." goda Jev.
__ADS_1
"Apa sih mas." Lisna malu dengan ucapan Jev, karena memang apa yang diucapkan Jev benar adanya, walaupun di awal terasa sakit tapi lama-lama dirinya juga menikmatinya.