
"Mas Antho." ucap Adriana sambil melepaskan pelukan nya dari Baron dan Ralin.
"Siapa pria itu?" Anthoni merasa cemburu melihat istri nya di peluk laki-laki lain, walaupun di sana ada Ralin juga yang di peluk.
"Pah," ucap Ken mau ikut menjelaskan.
"Diam kamu, kamu juga sama saja, membiarkan mamah kamu di peluk laki-laki lain." Anthoni benar-benar cemburu hingga dirinya tidak mau mendengarkan penjelasan dari Ken.
"Mas, kamu jangan marah dulu, dengarkan penjelesan mamah." ucap Adriana sambil memeluk suami nya.
Hanya dengan pelukan dari Adriana lah emosi Anthoni mereda, semarah apapun Anthoni, kalau sudah di peluk dan sentuh oleh Adriana, emosi nya akan luluh.
"Duduk dulu mas, dan kenalkan ini suami aku yang selama ini ku tunggu." Ralin pun mengenalkan Baron kepada Anthoni.
"Apa! Suami? jadi laki-laki ini yang sudah membuat kalian berdua menderita." teriak Antoni dengan tatapan tajam nya.
"Sudahlah mas, jangan di bahas lagi, masalah nya sudah selesai kok." ucap Adriana sambil menagaja nya untuk duduk.
"Minum dulu, pak." ucap Sandra sambil memberikan segelas air putih kepada Anthoni.
"Sandra? Kamu juga ada di sini? Banyak sekali surprise yang kalian berikan, bisa di jelaskan?" Anthoni kaget melihat Sandra ada di tempat Ralin juga.
Sedangkan Sandra hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Nanti saja aku ceritakan di rumah mas, kalau aku ceritakan sekarang, nanti kita pulang terlalu ,malam, dan juga akan mengganggu istirahat nya Ralin." ucap Adriana.
"Baiklah, terus kalian akan hidup bersama lagi?"
"Ya, dan saya akan menikahi kembali istri saya." jawab Baron dengan jelas.
"Itu ide bagus, tapi kalau anda kembali menyakiti fisik dan hati nya Ralin, anda akan berhadapan dengan saya." uncam Anthoni dengan serius.
"Dan berhadapan dengan aku juga." ucap Jev sambil menatap tajam ayah angkat nya.
"Dan jangan lupakan, ayah juga akan berhadapan dengan aku, jika ada air mata yang keluar dari mata mamah walaupun hanya setes."
__ADS_1
Betapa bahagia nya Ralin di kelilingi orang-orang yang menyayangi nya.
Semua mata memandang ke arah Baron, seakan-akan mereka semua akan menerkam nya.
"Kalian semua menjadi saksi nya, aku Baron akan selalu menjaga wanita yang aku cintai dan tidak akan pernah aku biarkan air mata kesedihan nya menetes kembali walaupun hanya setetes, dan hanya air mata kebahagiaan saja yang akan keluar dari mata nya." ucap Baron sambil menatap mata Ralin.
Ralin pun langsung memeluk erat tubuh Baron dan menangis bahagia di pelukan nya.
Mereka semua merasa terharu melihat kedua insan yang akan bersatu kembali itu.
Adriana memeluk Anthoni dengan bibir tersenyum, dia ikut bahagia melihat sahabat nya kembali bersatu dengan orang yang di cintai nya.
Lisna dan Jev pun ikut terbawa suasana dan tanpa mereka sadari Jev sudah memeluk Lisna.
"Mereka semua ada yang meluk, aku siapa yang meluk nih." gumam bathin Sandra sambil menatap tiga pasangan di depan nya yang sedang saling memeluk.
"Ingin sekali aku memeluk kamu San, tapi kamu seperti nya masih jaga jarak dan belum mau menerima aku." gumam bathin Ken sambil menatap Sandra.
Tanpa mereka sadari Sandra dengan perlahan keluar menuju halaman depan butik.
Dia menatap langit yang bertaburan bintang, lalu duduk dan terus menatap bintang yang memancarkan cahaya nya.
"Apa kamu mau seperti bintang itu?" tanya Ken yang sudah berdiri di belakang Sandra.
Sandra langsung membalikan tubuh nya dan menatap Ken yang sedang memandang diri nya.
"Kenapa anda di sini?" bukan nya menjawab pertanyaan dari Ken, Sandra malah memberikn pertanyaan.
"Memang nya saya ngga boleh berada di sini? Apa kamu takut ketahuan sama pacar kamu kalau saya temani?'
"Boleh kok."
Mereka berdua terdiam, sebenar nya banyak yang ingin Ken sampaikan pada Sandra, tapi entah kenapa lidah nya kelu dan mulut nya serasa ada yang mengunci hingga dirinya tidak mampu untuk berbicara.
"Kamu"
__ADS_1
"Tuan." ucap mereka secara bersamaan.
"Bisa ngga kamu jangan panggil aku tuan." ucap Ken yang merasa risih dengan panggilan yang di berikan Sandra.
"Tapi kan anda atasan saya."
"Tapi sekarang kan kita lagi tidak dalam bekerja."
Ken sungguh gemas melihat nya, ingin sekali Ken mencubit hidung nya dan merasakan bibir nya Sandra.
"Terus saya harus panggil apa?"
"Panggil mas atau panggil aku sayang." ucap Ken sambil tersenyum penuh arti.
"Itu sungguh berlebihan tuan, kita ini hanya atasan dan bawahan, jadi ngga sepantas nya aku memanggil dengan panggilan yang anda minta tadi."
Ken sungguh kesal di buat nya, hingga tanpa pikir panjang Ken langsung mencium bibir Sandra.
"Ehm," Sandra berontak dan mencoba untuk menjauhkan wajah nya.
Tapi tangan Ken sudah berada di belakang kepala nya dan menekan kepala Sandra agar Sandra tidak bisa melepaskan ciuman nya.
Sungguh perbuatan Ken ini membuat emosi Sandra naik, karena ini ciuman pertama bagi nya.
"Bajingan, beranii-berani nya dia mengambil ciuman pertama ku, awas kau nanti." gumam bathin Sandra sambil terus berontak dan berusaha untuk melepaskan ciuman nya sambil memukul-mukul dada Ken.
"Seperti nya ini ciuman pertama bagi nya, ah beruntung sekali aku mendapatkan ciuman pertama nya, bibir nya sangat manis, aku sampai tidak ingin melepaskan ciuman ini." gumam bathin Ken sambil terus ******* bibir Sandra.
Ken yang merasa kalau Sandra sudah kehabisan nafas nya pun melepaskan ciuman dan pegangan nya.
Baru juga Ken melepaskan ciuman nya sebuah telapak tangan nempel dengan manis di tangan nya.
"Plak." sebuah tamparan mengenai pipi Ken dengan sangat keras nya membuat Ken kaget dan tidak percaya dengan apa yang telah di lakukan Sandra terhadap nya, karena selama dia mengenal wanita dan mencium bibir wanita, Ken akan mendapatkan senyuman dan panggilan sayang, tapi tidak dengan Sandra, Sandra malah menatap Ken dengan tatapan penuh dengan kebencian.
"Kurang ajar! Berani-berani nya anda mengambil ciuman pertama saya, jangan mentang-mentang saya ini asisten anda hingga anda berbuat sesuka hati anda, saya ini bukan wanita yang sering anda temui dan ingat! detik ini juga saya mengundurkan diri jadi asisten anda." teriak Sandra lalu pergi masuk ke dalam butik dan meninggalkan Ken yang sedang berdiri mematung sambil menyentuh pipi nya yang di tampar Sandra.
__ADS_1
Bekas tamparan Sandra memang sakit, tapi lebih sakit ketika Ken mendengar ucapan Sandra yang tidak mau bekerja lagi sebagai asisten nya.
"Bodoh kamu Ken, bodoh, argh." gumam Ken sambil menendang angin di depan nya.