
Sandra mulai sadar, dengan perlahan dirinya membuka kedua mata nya, dia melirik ke arah Ralin yang masih setia berada di samping nya.
"Kamu sudah sadar nak?" ucap Ralin dengan roman wajah bahagia nya.
Adriana, Jev dan Baron yang sedang duduk di sofa langsung melihat ke arah Sandra dengan serempak begitu mendengar ucapan Ralin.
"Adek." Jev langsung menghampiri Sandra.
"Bang, adek mau pulang."
"Iya, nanti kita pulang kalau kamu sudah segar dan tubuh adek juga sudah ngga lemes lagi."
"Nak, makan dulu ya? Habis itu minum obat nya." Ralin pun mengambil makanan yang di bawa bu Murni.
"Nak, apa yang kamu rasakan sekarang?" Baron memberanikan diri bertanya kepada Sandra.
"Kecewa." hanya satu kata jawaban dari Sandra, tapi membuat semuanya langsung terdiam.
"Yah, kita nunggu nya di sofa saja." Jev pun membawa Baron kembali duduk di sofa, Jev tahu adik nya itu masih merasakan kecewa yang dalam, jadi harus secara perlahan memberitahu nya.
"Ini makanan kesukaan kamu, bu Murni lo yang buatkan khusus buat kamu." Ralin mengalihkan rasa canggung mereka.
"Iya lo nak, mamah juga barusan makan, eh ternyata enak sekali, tadi nya mau mamah habiskan tapi, mamah kamu ini malah marahin mamah, katanya yang itu khusus buat kamu biar kamu cepat pulih, jadi sekarang kamu makan yang banyak ya?" Adriana sengaja mencairkan suasana.
Adriana sudah tahu kalau Sandra sudah sadar semalam, karena selagi menunggu Sandra sadar kembali, Ralin menceritakan semuanya hingga Sandra kembali pingsan.
"Mamah? Sejak kapan aku harus memanggil ibu dengan panggilan mamah?"
"Sejak kamu menerima Ken menjadi suami kamu."
Sandra sedikit malu dengan ucapan dari Adriana, muka nya sedikit merah.
__ADS_1
"Kamu ngga nanyain kabar Ken nak? Ken itu sampai ngga mau pulang lo, dia ingin terus berada di samping kamu, bahkan Ken sudah membelikan sesuatu untuk kamu."
"Maaf bu, aku melupakan mas Ken."
"Ngga apa-apa nak, lagian kan kamu juga baru sadar."
"Na, jangan diajak ngobrol dulu, Sandra dari pagi belum makan lo, ayo sayang kamu makan ya? Ayo kamu bisa duduk kan?"
Ralin pun membantu Sandra untuk merubah posisi menjadi duduk.
Sandra memang kecewa dan marah, tapi rasa kecewa dan marah nya itu kepada Baron, karena Baron lah penyebab dirinya selama puluhan tahun berpisah dengan ibu kandung nya.
"Mah, mamah juga sekalian makan, mamah juga dari semalam belum makan apa-apa." Jev sengaja bilang di depan Sandra, agar Sandra tahu kalau mamah nya sangat mengkhawatirkan nya hingga belum makan dari semalam.
"Jadi mamah belum makan dari semalam? Terus kenapa mamah semalam hanya menyuapi aku? Kenapa mamah ngga ikut makan?" Kekhawatiran Sandra membuat semuanya tersenyum lega, berarti Sandra mau menerima Ralin sebagai ibu kandung nya, tapi entah kalau sama Baron, mereka ngga mau memaksakan Sandra harus detik itu juga menerima Baron sebagai ayah kandung nya, karena pasti nya Sandra butuh waktu.
"Jangan terlalu memikirkan mamah, yang penting sekarang kesehatan kamu dulu." Ralin pun memberikan suapan pertama nya.
"Mamah kenapa menangis?" tanya Sandra sambil mengusap air mata Ralin yang sudah terlanjur jatuh di pipi nya.
"Mamah sangat bahagia sayang, ini adalah suapan pertama yang anak mamah berikan kepada mamah, sungguh mamah tidak menyangka semua ini akan terjadi pada mamah." Ralin sudah ngga kuat lagi, akhir nya dia menyimpan piring yang sejak tadi dia pegang lalau memeluk erat tubuh Sandra.
"Makasih sayang, kamu sudah mau menerima mamah, maafkan mamah selama ini tidak menjaga kamu, mamah sangat sayang sama kamu, mamah tidak mau berpisah lagi dengan kamu."
Sungguh membuat sedih yang melihat nya, bahkan Jev pun ikut menangis melihat mereka berdua.
Baron yang melihat kedua wanita yang sangat ia cintai lagi berpelukan pun langsung menghampiri nya dan mengambil piring yang di simpan Ralin, lalu dengan sigap Baron mau memberikan suapan kepada Sandra, tapi Sandra menolak nya dengan memalingkan wajah nya.
Sakit hati Baron melihat penolakan dari Sandra, tapi mau bagaimana lagi, Baron akan menerima semua nya dengan hati yang sabar, karena semua ini ulah nya sendiri.
"Mas." Ralin pun memberikan kode kepada Baron agar jangan mendekat dulu, bagaimana pun Sandra masih kecewa kepada ayah nya.
__ADS_1
Dengan perlahan Baron menyimpan piring nya kembali lalu menghampiri Jev dan duduk di samping Jev.
"Yah, sabar tahan dulu, menghadapi adek yang lagi marah itu harus pelan-pelan, kalau ayah ngga sabar, justru adek akan semakin marah dan semakin menjauh." ucap Jev dengan suara pelan, Baron hanya mengangguk lemah dengan wajah yang penuh dengan penyesalan.
Ralin sebenar nya sedih dan kasihan melihat suaminya di perlakukan seperti itu oleh anak kandung nya sendiri, tapi mau bagaimana lagi, itu semua akibat ulah nya sendiri.
Ralin kembali mengambil piring yang tadi lalu kembali menyuapi Sandra, Adriana yang ingin melihat Ralin bahagia pun mengambil sendok dan memberikan nya kepada Sandra, hingga mereka pun makan sepiring berdua dengan saling menyuapi.
Sungguh pemandangan yang indah bagi mereka semua, terutama Baron, ingin sekali Baron ikut bergabung dengan anak dan istri nya, tapi karena sikap Sandra yang masih belum mau menerima nya, membuat Baron hanya diam dan duduk di sofa sambil melihat ke arah anak dan istri nya.
"Nambah lagi ya? Kan tadi cuma sedikit, udah gitu makan nya berdua."Adriana pun menambahkan porsi makanan nya kedalam piring.
"Na, udah stop, nanti aku gemuk gimana?" protes Ralin.
"Aku suka kalau mamah gemuk, daripada seperti sekarang, mamah itu kurang gemuk sedikit, jadi tambahin lagi ya." ucap Sandra sambil tersenyum.
"Baiklah, asal kamu juga makan yang banyak, biar kita cepat pulang ke rumah sayang."
"Aku mau pulang kalau ngga ada dia." Sandra tidak mau memanggil nya Ayah atau pun namanya, Sandra benar-benar sakit hati sudah tidak diharapkan berada di dunia ini.
Semuanya terdiam, Ralin bingung harus bagaimana, Baron suami nya, sedangkan Sandra anak kandung nya, ini benar-benar posisi yang sangat membuatnya serba salah.
"Sudah, jangan meributkan masalah pulang dulu, sekarang kalian habiskan makanan kalian, atau aku yang akan menghabiskan nya."
"Kamu kan sudah makan Na? Masa mau makan lagi."
"Habis masakan bu Murni enak sih."
"Ya sudah mah, ayo kita habiskan nanti mamah Ken minta lagi."
Adriana tersenyum dan mengangguk kepada Ralin, Ralin pun tersenyum dan mengerti dengan senyuman nya Adriana.
__ADS_1
"Makasih Na, kamu selalu mencairkan suasana." gumam bathin Ralin.