
"Ekhem, daripada begitu terus mending kalian menikah saja, biar kalian tahu tempat." ucap Sandra yang melihat Jev sedang bercumbu dengan Lisna.
Lisna yang mendengar suara Sandra pun langsung menjauhkan wajah nya dari wajah Jev, muka nya sudah berubah warna menjadi merah karena dirinya ketahuan lagi bercumbu oleh Sandra.
Berbeda dengan Lisna, Jev malah terlihat santai, "Nanti kalau masalah ayah sudah selesai, kakak akan menikahi nya, kamu setuju ngga dek?"
"Adek setuju aja bang, mbak Lisna juga orang nya baik dan rajin." ucap Sandra.
Jev pun tersenyum lalau memeluk erat Sandra, "makasih ya dek, nanti kalian bisa shoping bareng."
"Nanti kita habiskan uang abang ya mbak." ucap Sandra sambil tersenyum dalam pelukan Jev.
Lisna hanya tersenyum melihat adik kakak yang saling menyayangi walaupun tidak sedarah itu.
"Baru juga beberapa hari ngga masuk kerja, sekarang sudah main peluk-peluk pria lain." Ken merasa sedikit kepanasan hati nya, walaupun dirinya tahu mereka adik kakak, tapi mereka bukan saudara kandung dan bisa saja mereka saling mencintai.
Sandra pun melepaskan pelukan nya dari Jev lalu membalikan tubuh nya dan menatap wajah Ken.
"Maaf tuan, ini bukan urusan anda." ucap Sandra.
"Ini akan menjadi urusan saya karena kamu adalah calon istri saya." ucapan Ken membuat mereka bertiga kaget.
"Apa!" mereka bertiga pun teriak sambil menatap serius ke arah Ken.
"Kamu lupa ya kenapa kamu di izinkan cuti?" Ken pun mengingatkan kembali ke masa dimana mereka di suruh menikah oleh Adriana.
"Benar dek apa yang di bilang dia?" tanya Jev.
"Itu bang, jadi cerita nya begini." belum sempat Sandra menceritakan kejadian sebelum dirinya di izinkan cuti satu minggu, terdengar suara teriakan Adriana yang sedang marah-marah.
"Kamu jahat mas, kamu tega." teriak Adriana.
"Ada apa di dalam, ayo kita masuk." teriak Jev sambil setengah berlari masuk ke dalam butik di ikuti yang lain nya.
Begitu sudah di dalam mereka melihat Adriana yang sedang memukuli Baron tanpa henti.
__ADS_1
"Mamah." teriak Ken dan langsung memeluk ibu sambung nya.
"Tante. Ayah."
"Mah sudah mah, ada apa? Bilang sama Ken, nanti Ken bantu." ucap Ken sambil menenangkan Adriana.
"Mah ada apa sama bu Adriana dan ayah? kenapa bu Adriana memukuli ayah seperti itu?' tanya Sandra.
Ralin pun memeluk Sandra sambil menitik kan air mata nya.
"Menangis lah mah, nanti kalau mamah sudah siap baru mamah ceritakan semua nya pada Sandra." ucap Sandra sambil memeluk Ralin.
Jev meraih pundak Baron dan menyuruh nya untuk duduk di atas sofa.
"Ayo yah, duduk di atas."
"Mah tenang ya, ceritakan pelan-pelan sama Ken, biar beban mamah berkurang."
"Maafkan om, Ken, om telah membuat mamah kamu menderita selama ini, gara-gara om kecelakaan itu terjadi dan menyebabkan suami dan anak nya Adriana meninggal." ucap Baron yang sudah tidak mau di tutupi lagi.
"Nama nya juga kecelakaan, kita ngga ada yang tahu, bagaimana pun ayah sudah minta maaf." ucap Jev.
"Tidak Mas."
"Tidak Ayah."
Teriak Ralin dan Sandra sambil melepaskan pelukan nya, mereka ngga sanggup harus berpisah kembali, baru juga kemarin mereka di pertemukan.
"Sudahlah dek, mah, apa yang di bilang ayah ada benar nya, biarkan ayah menjalani hukuman nya." ucap Jev.
Ralin pun memeluk erat Baron seakan-akan dirinya tidak rela kalau harus berpisah lagi dengan Baron, Ralin menangis dalam pelukan Baron.
Sedangkan Sandra dia lagi berada di dalam pelukan Lisna, dan Lisna pun berusaha menenangkan Sandra.
"Mah, sudahlah jangan diungkit lagi, mamah boleh marah, mamah boleh benci sama om Baron, mamah juga bisa melaporkan om Baron pada polisi, tapi apa itu akan membuat suami dan anak mamah kembali pada mamah? Coba mamah pikir, kalau tidak ada kejadian seperti itu apa mamah akan hidup bersama papah dan juga Ken, Ken sangat menyayangi mamah melebihi apapun di dunia ini,banyak perempuan yang menggoda papah termasuk author nya, tapi Ken selalu menolak nya untuk jadi mamah sambung Ken, tapi waktu itu begitu papah mempertemukan Ken dengan mamah, Ken langsung jatuh hati dan langsung sayang sama mamah, apa mamah tidak menyayangi Ken lagi?"
__ADS_1
Adriana pun mendengarkan semua ucapan Ken, dengan perlahan Adriana menatap Ralin yang sedang menangis dalam pelukan Baron.
"Semua yang diucapkan Ken benar, apa aku jahat kalau memisahkan mereka kembali, betapa egois nya aku kalau aku melaporkan Baron ke polisi, Ralin yang sudah lama larut dalam kesedihan karena menunggu suami nya untuk kembali dan setelah sekarang kembali dan perasaan nya yang lagi bahagia harus kembali hancur dan sedih, tidak, aku tidak boleh egois." gumam bathin Adriana sambil mengusap air mata nya.
"Mah, siapapun ngga ada yang mau seperti ini, ini semua sudah menjadi sebuah takdir dalam kehidupan kita, sudahlah mamah lupakan masa lalu mamah, lihat tante Ralin, apa mamah tega memisahkan tante Ralin dengan suami yang baru di temui nya?"
Ken terus memberikan pengertian kepada Adriana, Ken tahu mamah sambung nya itu lagi dalam kondisi emosi, jadi Ken berusaha dengan lembut memberikan pengertian.
"Baik, aku tidak akan melaporkan kamu mas, tapi tetap kamu harus di hukum." ucap Adriana sambil melepaskan pelukan nya dari Ken.
"Apa pun hukuman nya, akan aku jalani." jawab Baron.
"Na." ucap Ralin dengan lirih dan mata yang di banjiri air mata.
"Kamu diam Lin, ini urusan aku dengan mas Baron."
Semua nyta terdiam, hanya isak tangis Ralin dan Sandra yang terdengar.
"Mas Baron, apa kamu sudah siap dengan segala hukuman yang akan aku berikan?" tanya Adriana setelah emosi nya mereda.
"Siap Na."
"Kamu harus segera menikahi kembali Ralin dan jangan sekali pun menyakiti nya lagi, dan jika itu sampai terjadi, aku yang akan langsung membunuh kamu." ucap Adriana dengan jelas.
"Apa!" semua nya kaget dengan hukuman yang diberikan Adriana.
Ralin langsung memeluk erat tubuh sahabat nya itu sambil menangis.
"Makasih Na, makasih kamu tidak melaporkan nya."
"Saya berjanji akan selalu menjaga dan tidak akan membuat Ralin meneteskan air mata kesedihan walaupun hanya setetes, tapi, apakah kamu memaafkan kesalahan aku?"
"Ya mas, aku sudah memaafkan kamu, benar kata Ken, ini semua sudah takdir yang harus kita jalani."
Baron pun memeluk Ralin dan Adriana secara bersamaan.
__ADS_1
"Terimakasih Na, terima kasih." ucap Baron sambil menitikan air mata nya.
"Jangan peluk-peluk istri saya." teriak Anthoni yang baru masuk ke dalam butik.