
Dengan menggunakan kursi roda, Jev kini sudah berada di taman rumah sakit dan selalu di dampingi Lisna sang calon istri, Lisna selalu sigap dan terus membuat Jev tersenyum.
"Taman nya bersih, tapi lebih indah taman yang ada di mimpiku yang aku singgahi dengan adek." ucap Jev sambil menatap sekeliling taman.
"Ya nama nya juga mimpi sayang, pasti selalu indah, tapi ngomong-ngomong, kenapa di mimpi nya ngga sama aku, kan kalau sama aku makin indah pasti nya." Lisna selalu menghibur Jev yang masih suka melamun mikirin Sandra yang belum sadar juga.
"Kamu itu bukan ada di mimpi ku sayang, tapi kamu itu selalu ada di hati aku." Jev pun mengangkat wajah nya menatap Lisna sambil tangan nya menyentuh tangan Lisna yang sedang ada di pundak nya, karena Lisna ada di belakang lagi mendorong kursi roda yang di pakai Jev.
Lisna pun gemas melihat wajah Jev yang masih kelihatan luka lebam nya, lalu Lisna mencium lembut kening Jev.
"Makasih sayang sudah mencintai aku setulus hati kamu."
""Makasih juga karena kamu selalu ada buat aku, dan selalu berusaha untuk menyadarkan aku."
Bibir mereka pun terus menyunggingkan sebuah senyuman, lalu kedua nya menatap ke sekeliling taman rumah sakit, terlihat ada beberapa pasien yang sama dengan Jev lagi mencari angin dengan alasan suntuk di dalam ruangan, ada juga beberapa suster yang mondar mandir menyelesaikan tugas nya.
Sementara di dalam ruangan hanya ada Ken yang dengan setia menunggu Sandra sadar, Ken terus bercerita karena menurut Ken Sandra pasti akan mendengar nya.
"Sayang apa kamu tidak mau bangun dan melihat ku? Kamu tahu ngga? Kemarin aku datang sambil membawa bunga dan makanan untuk meminta maaf sama kamu, tapi kamu seperti nya tidak mau memaafkan aku hingga kamu pergi dan meninggalkan aku di sini seorang diri, bang Jev sudah bangun dan sekarang mereka lagi jalan-jalan di taman dengan Lisna, melihat kamu terbaring seperti ini membuat hatiku terasa remuk redam, seandainya waktu bisa diulang, aku akan menggantikan kamu melawan laki-laki bajingan itu, dan mungkin sekarang bukan kamu yang terbaring seperti ini, seandainya bisa kita tukar tempat, aku rela terbaring di sini menggantikan kamu, Sayang berusaha lah untuk sadar, kami disini selalu menanti kamu membuka kedua mata kamu dan kami ingin melihat senyuman manis dari bibir kamu, sayang kamu tahu ngga? Tante Ralin dari semalam menangis dan ngga mau meninggalkan kamu sedikit pun, bahkan aku ngga bisa bebas ngajak kamu bercerita, tapi sekarang tante Ralin lagi pergi dan ini adalah kesempatan aku untuk lebih dekat sama kamu, sayang aku sangat mencintai kamu, aku ngga tahu rasa cinta itu kapan tumbuh di hati aku, yang jelas aku sangat sangat mencintai kamu, i love u." setelah panjang lebar ngajak Sandra bicara, Ken pun mencium tangan lalu mencium kening nya dengan penuh kasih sayang.
Tanpa di sadari Ken, jari tangan Sandra sedikit bergerak, tapi sayang Ken tidak merasakan nya, karena setelah mencium tangan Sandra Ken melepas kan nya dan berpindah mengelus kepala Sandra.
*
*
Selama di toko perhiasan Ralin sering terdiam dan sangat tidak bergairah, di pikiran nya hanya Sandra dan selalu Sandra.
"Hatiku kenapa sangat sakit melihat keadaan Sandra seperti ini, padahal aku kan bukan ibu kandung nya, apa karena aku sangat menyayangi dan sangat merindukan anak kandung ku sehingga jiwa ini seperti sudah menyatu dengan jiwa Sandra, kapan kamu akan sadar nak?" gumam bathin Ralin dengan tatapan kosong ya.
__ADS_1
"Lin yang ini bagus tidak?" Adriana pun mengagetkan Ralin yang sedang melamun memikirkan Sandra
"Sandra." ucap Ralin tanpa sadar.
"Sayang, kita lagi di toko perhiasan, tapi seperti nya pikiran kamu tetap saja masih sama Sandra." ucap Baron sambil membelai lembut pundak Ralin.
"Maaf Na, apa tadi?"
"Sudah lah Lin, jangan kamu pikirkan terus, aku yakin dia ngga apa-apa dan akan cepat sadar, aku tahu kalau dia itu anak yang kuat."
Ralin pun cuma mengangguk dan tersenyum, lalu matanya melihat ke arah perhiasan yang sedang di pegang Adriana.
"Na, perhiasan itu cantik sekali, seperti nya cocok kalau di pakai Sandra."
"Bagus kan? Ya sudah mbak bungkus yang model seperti ini seperangkat ya."
"Na tapi itu kan mahal, masa kamu akan memberikan semua nya kepada Sandra?"
Ralin pun terdiam, semua yang diucapkan sahabat nya itu memang benar adanya, jangankan Adriana, dirinya pun langsung jatuh hati dan mempunyai perasaan yang berbeda ketika bertemu dengan Sandra.
*
*
Di karena kan sudah terlalu lama di luar, Lisna pun membawa kembali Jev ke dalam ruangan, sepanjang lorong rumah sakit tangan Jev tidak lepas dari tangan Lisna yang sedang mendorong kursi roda, membuat para suster yang jomblo merasa iri dengan kemesraan mereka berdua.
Secara bersamaan Ralin, Baron dan Adriana pun sudah kembali ke rumah sakit karena memang apa yang di perlukan sudah mereka beli, tidak lupa mereka juga membeli berbagai makanan untuk di makan di dalam ruangan.
"Abang, Lisna, kalian dari mana?" tanya Ralin yang berpapasan ketika mereka sudah mendekati pintu ruangan.
__ADS_1
"Dari taman mah, tadi kak Jev ingin keluar mencari angin, dan dokter pun sudah mengizinkan kok." jawab Lisna.
"Terus adek kamu sama siapa bang?"
"Ada Ken mah, jangan terlalu khawatir."
Tanpa mendengar penjelasan dari Jev dan Lisna Ralin pun langsung membuka pintu ruangan dan menghampiri Sandra.
"Ken, gimana?Sandra sudah sadar belum?"
"Belum tante." Ken pun sedikit menggeser tubuh nya dan membiarkan Ralin mendekati Sandra.
"Sayang, mamah sudah kembali." setelah membisikan kalimat itu, Ralin mencium kening nya lalu duduk di samping Sandra.
"Kenapa cepat pulang sih, aku kan masih kangen dengan Sandra." gumam bathin Ken sambil menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
"Bagaimana apa Sandra sudah sadar?" tanya seorang pria yang sudah berdiri di ambang pintu.
"Mas, kamu sudah datang."
"Iya aku pulang kerja langsung kesini."
"Belum, seperti nya Sandra masih betah dengan mimpi nya." jawab Baron.
"Kamu sudah sadar nak?"
"Alhamdulilah sudah om." jawab Jev sambil kembali berbaring di atas tempat tidur rumah sakit.
"Ken malam ini kamu harus pulang, karena besok ada meeting penting yang harus kamu hadiri."
__ADS_1
"Tapi pah." protes Ken karena Ken ngga mau jauh-jauh dari Sandra.
"Tidak ada penolakan, karena meeting ini sangat penting."