
Pagi menjelang dua manusia yang belum mengenal satu sama lain nya masih tertidur pulas di atas tempat tidur sambil berpelukan.
"Aku kok mimpi nya indah banget sih, di peluk sama seorang pria sambil tidur, ah andai semua ini kenyataan." gumam bathin Lisna.
"Apa ini yang menimpa tubuh ku, kok berat ya?" gumam bathin Lisna dengan mata yang masih terpejam.
Sedikit demi sedikit Lisna membuka matanya, samar-samar Lisna melihat seorang pria dihadapan nya yang sedang tertidur dengan lelap sambil memeluk erat dirinya.
"Arrghh." teriak Lisna hingga membangunkan Jev yang sedang tertidur dengan pulas.
"Ada apa? tenang, ada aku di sini, kamu sudah aman." ucap Jev sambil kembali memeluk Lisna.
Terdengar suara degub jantung yang berasal dari Jev,
"Ternyata jantung kita sama saling berdegub ria di dalam sana." gumam bathin Lisna sambil terus merasakan getaran-getaran aneh di tubuh nya.
"Aman dari apa? yang ada aku ngga aman sama kamu, apalagi kamu terus memeluk aku hingga aku susah untuk bernafas." ucap Lisna sambil menatap Jev.
"Yang pertama memeluk aku siapa? kamu yang pertama kali memeluk ku dengan erat sampai aku ngga bisa bergerak dan terpaksa harus tidur di samping kamu menahan semuanya." jawab Jev.
Lisna hanya diam dan mengingat semuanya, tapi yang dia ingat hanya sewaktu dia mau di lecehkan sama pria mabuk, Lisna pun melihat ke tubuh nya sendiri.
"Argh, siapa yang mengganti baju ku?" teriak Lisna sambil melihat ke arah Jev.
"Ya siapa lagi? itu pun terpaksa, masa kamu tidur pakai jaket kotor, yang ada kamu ngga akan nyaman." jawab Jev.
Lisna pun terdiam dan mencerna semua yang diucapkan oleh Jev.
"benar juga sih, tapi berarti dia sudah melihat tubuh ku tanpa busana dong." gumam bathin Lisna sambil menatap mata biru Jev.
"Ah matanya indah sekali." gumam bathin Lisna sambil menatap dalam mata Jev.
Jev pun menatap Lisna, mereka saling menatap dengan detak jantung yang berirama diantara keduanya.
"Cantik sekali, baru kali ini aku menatap wanita begitu lama sekali, bibir nya indah, seperti nya manis." gumam bathin Jev.
Jev sungguh tersiksa sekali, karena semalaman harus menahan rasa yang sudah tegang di bawah sana, walau bagaimana pun Jev adalah lelaki normal, tapi dia masih bisa mengatasi nya ketika dia ingat sama Sandra adik angkat nya itu.
__ADS_1
Jev selalu ingat sama pesan mendiang ibu nya, jika dia harus selalu menjaga kesucian seorang wanita apalagi kesucian adik nya.
Sedikit demi sedikit Jev mendekat kan wajah nya ke wajah Lisna.
Lisna yang sering nonton drakor pun ingin sekali merasakan ciuman, karena memang selama ini Lisna belum pernah merasakan ciuman.
Lisna belum pernah yang namanya pacaran, dia selalu di sibukan dengan bekerja dan bekerja bersama tante Ralin.
Belajar dari drakor yang sering di lihat nya, Lisna pun memejamkan matanya.
Jev yang melihat Lisna memejamkan mata nya pun semakin tertantang dan akhir nya bibir Jev menyentuh bibir Lisna.
Sejenak mereka terdiam begitu mereka merasakan hangat nya dari bibir mereka masing-masing.
"Jadi begini rasanya di cium? ah hangat ternyata, terus kalau sudah begini gimana, masa pada diam saja, perasaaan di drakaor ngga gini deh." gumam bathin Lisna.
"Sepertinya wanita ini belum pernah ciuman." gumam bathin Jev.
Merasa Lisna yang diam saja, Jev pun sedikit demi sedikit menggerakan bibir nya.
Lisna pun terbuai oleh ciuman yang baru pertama kali buat diri nya.
Hingga suara ponsel mengagetkan mereka dan menghentikan ciuman nya.
"Maaf, aku terbawa suasana." ucap Jev sambil melepaskan pelukan nya.
Lisna yang merasa malu pun muka nya sudah memerah dan langsung meraih ponsel nya, yang ternyata telepon dari tante Ralin.
"Iya bu, kenapa?" tanya Lisna.
"Kenapa kamu ngga ke butik hari ini? apa kamu sakit?" tanya tante Ralin.
"Memang nya sekarang jam berapa bu?" tanya Lisna.
"Ini sudah hampir jam makan siang Lisna." jawab tante Ralin.
"Apa! maaf bu semalam aku pusing dan juga ada insiden jadi nya sekarang aku kesiangan." jawab Lisna.
__ADS_1
"Ada insiden apa Lis? tapi kamu ngga apa-apa kan?" tanya tante Ralin.
"Alhamdulilah bu saya ngga apa-apa karena semalam ada yang menolong saya." jawab Lisna sambil melirik ke arah Jev.
"Syukurlah kalau kamu ngga apa-apa, ya sudah untuk hari ini kamu jangan kebutik dulu, kamu istirahat saja dulu." ucap tante Ralin.
"Iya bu, makasih." ucap Lisna lalu menyimpan kembali ponsel nya ke atas meja rias yang ada di kamar kos nya.
"Bang, makasih ya semalam sudah nolongin aku, seandai nya ngga ada abang saya ngga tahu nasib saya sekarang seperti apa." ucap Lisna dengan mata yang sudah berkaca-kaca karena mengingat akan kejadian semalam.
"Sama-sama, tapi lain kali kamu jangan keluar malam-malam sendirian." ucap Jev.
"Saya juga ngga suka keluar malam bang, tapi semalam kepalaku pusing banget dan dengan terpaksa pergi ke apotek untuk mmebeli obat." jawab Lisna.
"Memang nya kamu tinggal sendirian?" tanya Jev.
"Iya saya hidup sendiri, sebenar nya bu Ralin ngajak tinggal di butik nya, tapi saya menolak karena terlalu sering merepotkan bu Ralin." jawab Lisna.
Jev pun mengangguk paham, "Ya sudah kalau gitu kamu mandi dulu biar badan kamu segar, terus sekarang masih pusing ngga?" tanya Jev.
"Sudah ngga terlalu sih, ya sudah kalau gitu saya mandi dulu ya bang." ucap Lisna lalu mengambil handuk dan baju buat ganti.
Kamar mandi nya memang terletak di samping dapur, jadi Lisna harus sekalian membawa ganti.
Selagi Lisna sedang membersihkan tubuh nya, Jev pergi ke dapur dan membuka kulkas.
"Ngga jauh beda isi kulkas ini dengan yang ada di rumah." gumam Jev lalu mengambil beberapa telur dan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat omlet.
Jev pun berinisiatif memasak untuk sarapan yang sudah sangat kesiangan itu.
Jev sudah terbiasa dari dulu memasak untuk dirinya dan Sandra makan, bahkan makanan nya pun sellau di sukai oleh Sandra.
Lisna yang sedang mandi pun mencium wangi omlet, "Em wangi banget, siapa yang masak ya? ngga mungkin kan pria itu? ya ampun aku kan belum tahu nama nya siapa? terus apa yang aku lakukan tadi? ah, ciuman pertama ku, bodoh kamu Lisna ngapain kamu mau di cium sama orang asing seperti dia." gumam Lisna sambil menyentuh bibir nya yang tadi di cium Jev.
Setelah berperang dengan pikiran nya Lisna pun keluar dari kamar nadi dengan rambut yang basah.
"Cantik." gumam Jev sambil menatap Lisna yang baru keluar dari kamar mandi.
__ADS_1