
"Maksud mamah?"
"Sandra pingsan setelah mendengar kalau aku dan kamu orang tua kandung nya mas, di shock setelah mendengar semuanya lalu pingsan." tak henti-henti nya Ralin menangis.
"Apa!"
Teriak Jev dan Baron bersamaan, membuat para suster dan dokter kaget seketika.
"Jadi, jadi Sandra anak kandung kita?" sungguh Baron bingung, dia memang sangat bahagia mendengar nya, apalagi memang ini yang dia harapkan, tapi melihat cerita dan kondisi Sandra saat ini Baron ngga yakin Sandra akan menerima nya sebagai ayah kandung.
"Dari mana mamah yakin kalau adek anak kandung mamah?" Jev tidak langsung percaya, karena dirinya takut kalau Ralin hanya mengada-ngada saja.
""Di bahu kanan nya ada tanda lahir, itu yang membuat mamah yakin kalau Sandra anak kandung mamah, dan mamah ingin memastikan nya dengan tes DNA." jawab Ralin di sela-sela tangisan nya.
__ADS_1
"Apa! Jadi Sandra anak kandung kamu LIn?" Adriana yang baru masuk kaget ketika mendengar ucapan dari Ralin.
"Na, ternyata Sandra anak kandung ku, aku melihat tanda lahir di bahu nya." Ralin pun memeluk Adriana dan menangis.
"Pantas, di awal bertemu kita merasa sudah dekat dengan nya, ternyata ikatan bathin kalian kuat." Adriana pun ikut menangis, anak yang puluhan tahun ini di cari Ralin ternyata sudah hidup bersama dengan mereka.
"Maaf kalau begitu kami permisi, untuk tes DNA bisa kita tes setelah semuanya dalam keadaan tenang." dokter pun mengajak para suster untuk keluar ruangan, karena itu masalah pribadi mereka.
{Sumpah bestie aku nulis part Jev ini sambil nangis}.
Ralin semakin menangis dalam pelukan Adriana ketika mendengar ucapan dari Jev, sungguh dirinya ngga kuat membayangkan nya, dikala seorang bayi yang masih merah berada di tengah hutan seperti apa yang diucapkan oleh Jev.
"Maafkan ayah nak, waktu itu ayah kalap, ayah terlalu ambisi ingin mempunyai anak laki-laki." sungguh Baron merasa tersentil dengan kata-kata Jev.
__ADS_1
"Maaf? Apa cukup hanya dengan kata maaf?" Jev masih di kuasai emosi sehingga dirinya melupakan pesan dari mendiang ibu nya, kalau apa pun yang terjadi mereka ngga boleh membenci kedua orang tua kandung Sandra.
"Nak, dengarkan mamah, mamah mohon kamu jangan emosi dulu, sebelum nya mamah sangat berterima kasih sama kamu dan ibu kamu yang sudah merawat adek selama ini, tapi sungguh mamah juga tersiksa dengan hilang nya adek waktu itu, mamah sudah mencari kesana kemari hingga mamah langsung memutuskan untuk menghilang dari kota itu dan pindah kesini, mamah ngin menghilangkan jejak mamah dari ayah, karena waktu itu mamah juga sangat membenci ayah yang sudah membuang adek, jadi mamah mohon kamu jangan membenci mamah." ucap Ralin yang masih berada di pelukan Adriana.
Jev terdiam, dia bingung harus apa dan harus bagaimana menghadapi nya, di satu sisi dia bahagia karena adik angkat nya sudah menemukan kedua orang tua nya, di sisi lain dia kecewa dengan orang tua adik angkat nya terutama ayah nya yang sudah tega membuang Sandra yang masih bayi ke tengah hutan.
"Nak, ayah mohon, maaf kan ayah, ayah tahu ayah salah, tapi pagi itu juga ayah kembali ke hutan untuk membawa nya kembali, tapi dia sudah tidak ada, dan dari situ penyesalan ayah di mulai, ayah sudah kehilangan istri yang ayah cintai dan anak ayah yang sudah ayah buang, hidup ayah hancur, ayah terus mencari mereka berdua sampai ayah sakit dan tidak berdaya, tapi untung ada Jay yang selalu menolong dan memberi semangat ayah untuk terus mencari mereka berdua hingga ayah menemukan istri ayah, kamu tahu nak? kenapa ayah mengangkat kalian sebagai anak ayah, selain ada perasaan yang berbeda kepada Sandra, ayah juga ingin menebus dosa ayah yang sudah membuang Sandra waktu bayi, ayah selalu dihantui mimpi buruk selama ini, tapi setelah ayah bertemu dengan Sandra, tidur ayah menjadi nyenyak, ayah tahu ayah salah, ayah sudah berdosa dengan adek, ayah juga sudah menerima hukuman dari Tuhan selama puluhan tahun, dan sekarang ayah siap untuk menerima hukuman dari kalian berdua terutama dari adek, tapi satu yang ayah minta sama kalian, jangan tinggalkan ayah, ayah akan kembali hancur kalau kalian pergi dari hidup ayah." Baron pun bersimpuh di depan kaki Jev sambil menangis, membuat Jev tidak tega melihat nya.
"Nak, mas Baron memang sudah bersalah dan berlaku keji dengan membuang Sandra waktu bayi ke dalam hutan, tapi selama ini mas Baron juga sudah menyesali dan menerima hukuman nya, marah dan kecewa pasti karena tante pun merasakan hal yang sama dnegan kamu dan Sandra, kamu tahu nak, kenapa tante pas di butik marah besar sama mas Baron waktu itu, di malam yang sama di saat Sandra berada di tengah hutan, tante kehilangan anak yang masih bayi dan suami tante karena sebuah kecelakaan, dan ternyata kecelakaan itu terjadi akibat ulah mas Baron yang sedang ugal-ugalan di jalan sepulang dia membuang Sandra, tapi coba kamu pikir kembali dengan pikiran yang tenang, kalau seandainya mas Baron tidak membuang Sandra ke hutan? apa kamu akan bertemu dengan Sandra? kalau mas Baron tidak membuang Sandra ke hutan? apa kamu akan merasakan sosok ayah seperti sekarang walaupun kalian tidak ada ikatan darah? jadi, kita ambil hikmah nya saja dari kejadian ini, yang terpenting sekarang mereka sudah berkumpul kembali, urusan Sandra mau menerima mas Baron sebagai ayah kandung nya atau tidak, itu urusan hati Sandra, kita yang ada di dekat nya hanya memberi semangat dan support saja kepada nya."
Jev terdiam dan mencerna semua ucapan dari Adriana, pesan-pesan dari mendiang ibu nya kembali terngiang di telinga nya.
"Nak, kamu harus selalu menyayangi dan selalu menjaga Sandra sampai dia benar-benar ada yang menjaganya, dan jika suatu saat Sandra bertemu dengan kedua orang tua nya, kamu usahakan Sandra tidak boleh membenci orang tua nya, karena mungkin mereka ada alasan sendiri sehingga mereka membuang anak nya."
__ADS_1