Bos Dan Aku

Bos Dan Aku
Menolong Lisna


__ADS_3

"Kamu ternyata sangat cantik, kamu adalah asisten cantikku." gumam Ken sambil menatap langit-langit kamar nya.


Ken terus tersenyum membayangkan kejadian tadi di club, dia sangat bahagia bisa menggenggam dan memeluk Sandra.


"Kenapa gue jadi memikirkan nya ya?" gumam Ken.


Ken pun terus memikirkan Sandra sampai-sampai dia ngga bisa tidur.


Sementara Sandra pun ngga jauh berbeda dengan Ken, dia ngga bisa tidur karena terus memikirkan Ken.


"Andaikan semua yang dia ucapkan tadi itu adalah suatu kenyataan, betapa bahagia nya aku." gumam Sandra.


"Ah, kenapa aku jadi memikirkan tuan Ken." ucap Sandra sambil menutup matanya dengan bantal.


"Stop Sandra, cukup, kamu ngga mungkin bisa menjadi bagian dari hidup nya, kamu harus sadar kamu itu siapa." gumam Sandra.


*


*


Malam itu Lisna terpaksa keluar rumah pergi ke apotek karena dirinya merasa pusing.


"Malam ini kok sepi banget ya? kenapa aku merasa takut? mana kepalaku pusing lagi." gumam bathin Lisna.


Lisna terus berjalan sambil menahan rasa pusing di kepalanya, dengan perlahan dia berjalan menuju apotek yang tidak terlalu jauh dari kos san nya.


"Hai cantik? mau abang temenin ngga?' seorang pria dengan perawakan tinggi besar mengoda Lisna sambil mencolek tangan Lisna.


Lisna yang merasa takut pun berlari sebisa dirinya, tapi karena memang kepala nya yang lagi pusing, Lisna pun terjatuh ke aspal.


"Mau kemana kamu cantik, sudah ikut saja sama abang, nanti abang akan memuaskan kamu." ucap pria mabuk itu sambil mencengkeram tangan Lisna.


"Tidak, lepaskan, tolong." teriak Lisna.


"Diam kamu, kalau kamu teriak lagi aku tidak akan segan-segan membunuhmu." ucap pria itu.


"Tolong, aku mohon lepaskan aku." ucap Lisna memohon.


"Aku akan melepaskan kamu asal kamu mau memuaskan aku malam ini." jawab pria itu sambil tersenyum jahat.

__ADS_1


Lisna pun dengan sekuat tenaga berontak untuk bisa lepas dari cengkeraman pria mabuk itu.


Pria itu pun menarik baju Lisna sampai sobek hingga kulit putih bersih Lisna terlihat nyata di depan mata dan tampak dua bukit kembar yang masih padat terlihat menggoda.


"Jangan, aku mohon." ucap Lisna sambil menangis dan kedua tangan nya menutupi dua bukit kembar milik nya.


Pria mabuk itu tidak berkedip menatap dua bukit kembar milik Lisna, seakan-akan dia sedang lapar dan ingin segera memangsa nya.


"Tubuh dan kulit kamu bagus sayang, jadi tidak akan kubiarkan kesempatan ini sia-sia, aku akan memuaskan kamu malam ini." ucap pria mabuk itu sambil memeluk Lisna.


"Tolong, siapa pun tolong aku, ya tuhan datangkan lah seseorang untuk menolong aku." teriak Lisna dengan deraian air mata nya.


Pria mabuk itu terus berusaha mencium bibir Lisna hingga tiba-tiba sebuah tendangan keras mendarat di pinggang nya.


"Lepaskan dia brengsek." teriak Jev sambil menendang keras tubuh pria mabuk itu.


Pria itu tergeletak di samping Lisna, Lisna berusaha bangun sambil menutupi tubuh bagian atas karena baju nya telah di sobek oleh pria itu.


"Bajingan, siapa lo berani ganggu kesenangan gue." teriak nya lalu melayangkan pukulan kepada Jev.


Jev yang sudah mahir dalam beladiri pun langsung menghadang pukulan yang di layangkan pria itu.


Mudah bagi Jev mengalahkan seorang bajingan seperti pria yang ada di hadapan nya ini, Jev sudah biasa melawan lebih dari satu.


"Sekali lagi gue lihat lo berkeliaran di daerah sini dan mengganggu perempuan, maka jangan harap lo bisa bernafas kembali." ucap Jev sambil melayangkan pukulan keras ke wajah nya hingga keluar cairan merah dari bibir dan hidung nya.


Setelah di rasa lawan nya sudah tidak berdaya dan tidak melawan, Jev pun membalikan tubuh nya melihat ke arah Lisna yang sedang menangis sambil menahan rasa pusing di kepala nya.


Dengan gentle Jev pun membuka jaket yang sedang dia kenakan dan memberikan nya kepada Lisna.


"Pakai ini." ucap Jev sambil memberikan jaket nya.


"Terimakasih." jawab Lisna sambil mengambil jaket yang Jev berikan lalu memakai nya.


"Sedang apa kamu malam-malam begini di luar sendirian, ngga tahu apa kalau jam segini itu bahaya buat seorang wanita keluar malam?" tanya Jev.


"Kepala saya pusing, saya mau ke apotek beli obat tapi tadi digangguin sama pria brengsek itu." jawab Lisna yang kini sudah memakai jaket Jev.


"Rumah kamu dimana? biar saya yang antar." ucap Jev.

__ADS_1


"Itu di sana, makasih sudah mau menolong saya." ucap Lisna.


"Ya sudah mari saya antar." ucap Jev sambil mempersilahkan Lisna jalan duluan di depan.


Dengan sekuat tenaga Lisna pun terus berjalan menuju rumah nya hingga tiba di depan pintu, Lisna sudah ngga kuat lagi dan akhir nya jatuh pingsan.


Untung Jev siaga, begitu melihat tubuh Lisna terjatuh dengan sigap Jev langsung memeluk tubuh Lisna.


"Hai, bangun nona, kamu kenapa?" tanya Jev sambil menepuk-nepuk pelan pipi Lisna.


"Ah dia pingsan lagi, kunci rumah nya di mana lagi?" gumam Jev sambil melirik kearah pintu.


Jev pun dengan susah payah mencari kunci di saku celana nya Lisna dengan sebelah tangan yang masih menahan tubuh Lisna agar tidak terjatuh.


"Ini dia kunci nya." gumam Jev lalu membuka pintu kos san Lisna.


Pintu pun terbuka, Jev langsung menggendong tubuh Lisna dan membawa nya masuk ke dalam.


Jev melihat sebuah pintu yang di sangka nya sebuah kamar tidur, dengan tangan yang sambil menggendong tubuh Lisna Jev berusaha membuka pintu kamar tersebut.


Dengan perlahan Jev membaringkan tubuh nya Lisna diatas tempat tidur.


"Badan nya panas." gumam Jev sambil menyentuh kening Lisna.


Jev pun mencari wadah dan kain buat ngompres Lisna, dengan cekatan Jev mengurus Lisna yang sedang demam.


Mungkin sebagian orang akan langsung membawa nya ke rumah sakit, tapi tidak bagi Jev, dia sudah biasa ngurusin Sandra sakit sejak kecil.


Dengan telaten Jev mengompres Lisna, sesekali Jev mengganti nya karena kompresan yang sudah kering.


"Cantik," gumam Jev sambil memandang lekat wajah Lisna yang sedang tertidur.


"Tolong, kumohon tolong aku." teriak Lisna tiba-tiba sambil memeluk tangan Ken.


"Tenang, kamu yang tenang ya? kamu sudah di tempat aman, kamu aman sama saya." jawab Jev sambil mengelus lembut punggung Lisna.


Lisna pun tenang kembali, tapi tangan nya masih memeluk erat tangan Jev, karena dirasa pegal Jev pun dengan perlahan ikut berbaring di samping Lisna.


"Saya terpaksa ya tidur sama kamu, dan jangan salahkan saya di kala kamu sudah mebuka mata kamu dan mendapatkan saya ada di samping kamu." gumam Jev sambil menatap Lisna.

__ADS_1


__ADS_2