
"Pah, ada kabar bahagia pagi ini." ucap Adriana dengan senyum mengembang nya.
"Seperti nya bahagia ya sekali mah, sampai wajah mamah bersinar seperti itu, mamah dapat arisan ya?"
"Arisan apa sih pah, masih pagi buta sudah ngomongin arisan, ibu-ibu arisan nya pun lagi pada sibuk masak kalau jam segini."
"Lah, terus kabar bahagia apa dong pagi-pagi begini?" tanya pak Anthoni.
"Ini lo pah, coba lihat deh, semalam Ralin kirim video ini, cuma tadi pas bangun tidur mamah baru membuka nya." ucap Adriana sambil memberikan ponsel nya.
Pak Anthoni dengan serius melihat video yang di kirim Ralin, bibir pak Anthoni pun tersenyum bahagia melihat nya.
"Nah papah juga ikut bahagia kan?" tanya Adriana yang melihat suami nya tersenyum.
"Akhirnya apa yang mamah inginkan akan menjadi kenyataan." ucap pak Anthoni sambil memberikan kembali ponsel milik istri nya.
"Pagi pah, mah, seperti nya kalian sedang berbahagia pagi ini." ucap Ken sambil menenteng paper bag.
"Pagi juga nak, pagi-pagi begini kamu sudah belanja nak? Kamu habis beli apa?" tanya Adriana sambil menatap paper bag yang ada di tangan Ken.
"Belanja apaan mah, ini baju dari tante Ralin buat papah dan mamah untuk di kenakan nanti siang pas acara ijab kobul nya mereka." jawab Ken sambil memberikan kedua paper bag nya.
"Ya ampun pah, sampai lupa mamah, kalau nanti siang mereka kembali menikah."
"Orang kalau sudah tua ya begitu, pasti jadi pelupa." ucap pak Anthoni.
"Iya mamah sudah tua, tapi kok mamah belum punya menantu ya pah, padahal mamah ini sudah ingin sekali menggendong cucu." ucap Adriana sambil melirik ke arah Ken.
"Mamah tenang saja, ngga lama lagi mamah pasti akan punya menantu."
"Serius Ken? Tapi mamah mau nya Sandra yang menjadi menantu mamah, mamah ngga mau wanita lain."
Adriana pun seperti Ralin yang pura-pura tidak tahu dengan hubungan mereka saat ini, sedangkan pak Anthoni hanya menggelengkan kepala nya melihat tingkah laku sang istri.
"Mamah tenang saja, nanti Ken bawa Sandra ke rumah ini sebagai menantu buat mamah dan papah."
Mereka pun menikmati sarapan dengan hati yang sangat bahagia, senyum di bibir mereka selalu terlihat jelas, apalagi senyum Ken, pagi ini nampak wajah Ken yang sangat segar dan lebih bersinar.
*
__ADS_1
*
Pagi hari di butik Ralin sudah ramai dengan candaan dan celotehan Lisna dan Reni, mereka berdua datang di pagi buta untuk mempersiapkan semuanya.
Mereka berdua mendekor ruang tamu dengan sederhana tapi cantik dan terlihat mewah.
"Kita berdua ternyata ada bakat untuk mendekor ruangan ya Ren?" tanya Lisna sambil menatap hasil dekoran nya.
"Iya Lis, apa kita kembangkan juga kemampuan kita ini?"
"Kalau kita jadi tukang dekor juga, terus yang menangani butik siapa? Kamu jangan serakah deh Ren." ucap Lisna.
"Iya juga ya." gumam Reni.
"Wah keren sekali, kakak ipar bisa merubah ruangan ini dengan sebagus dan secantik ini?" Sandra pun merasa kagum dengan hasil dekoran Lisna dan Reni.
"Lumayan lah, daripada polos seperti tadi, kalau kayak begini kan berasa banget acara nikah nya."
"Aku kasih tahu mamah ah." ucap Sandra sambil membalikan tubuh nya.
"Jangan." teriak Lisna dan Reni secara bersamaan.
"Ini akan menjadi surprise buat ibu." ucap Reni.
"Oh baiklah, aku akan diam, oh iya sampai lupa, kata mamah kak Lisna mulai saja merias wajah mamah nya, soalnya tinggal beberapa jam lagi ijab kobul nya di mulai, dan kak Reni tolong terima catring yang di pesan mamah ya? Aku mau mandi dulu." ucap Sandra.
"Oke."
Ralin memang tidak mengadakan pesta, karena menurut Ralin ini hanya menyatukan kembali sepasang suami istri yang sempat puluhan tahun terpisah, Ralin hanya menggunakan jasa Lisna dan Reni untuk merias wajah nya dan memesan makanan di sebuah restoran ternama untuk acara makan bersama.
*
*
Akhirnya yang di tunggu-tunggu Baron pun tiba saat nya, Baron sudah terlihat tampan dan bercahaya dengan memakai jas pemberian istri nya.
"Wah, papah sangat tampan sekali pakai jas itu, gimana pah deg-deg gan ngga?" tanya Jev yang sudah rapih juga dengan jas nya.
"Ngga bakalan deg-deg gan nak, ini kan pernikahan yang ke dua dengan wanita yang sama." ucap Jay yang sudah rapih juga dengan jas pemberian Ralin.
__ADS_1
"Ngga deg-deg gan gundul mu Jay, tetap saja aku deg-deg gan." ucap Baron.
Jay dan Jev pun tertawa mendengar ucapan Baron.
"Enak ya kalau nikah sama yang punya butik, ngga perlu ngeluarin buat baju, modal nya hanya bayar pak penghulu doang." ucap Jay.
"Apa kamu bilang Jay? Enak saja modalku hanya bayar penghulu, asal kamu tahu baju yang kita pakai ini, bahan nya dari saya semua." ucap Baron.
"Tapi bu Ralin kan sudah membayar nya bos."
"Ya memang benar sih sudah di bayar, tapi kan itu sewaktu aku belum tahu siapa dia yang sebenar nya, kalau sekarang dan ke depan nya, dia ngambil berapa banyak pun gratis ngga bayar."
"Sudah cukup perdebatan kalian, ngomong-ngomong buat mas kawin nya sudah di siapkan belum yah?" tanya Jev.
"Sudah dong, papah kemarin membeli seperangkat berlian yang hanya di pakai oleh lima orang saja di dunia ini." Baron pun memperlihatkan mas kawin nya.
"Gila, keren banget Yah, apa aku sanggup nanti untuk memberi Lisna mas kawin seperti itu?' baru kali ini Jev melihat perhiasan bagus seperti itu.
"Asal kamu terus mau bekerja keras, ayah yakin kamu bisa membeli nya dengan hasil jerih payah kamu."
"Berarti modal yang tuan keluarkan juga banyak ya?" gumam Jay.
"Ya iya lah, memang nya kamu nanti kalau menikah ngga kasih mas kawin?"
"Ya kasih lah bos, tapi aku mau kasih Murni semampu isi dompet saja."
"Memang nya bu Murni mau sama om Jay?' goda Jev.
""Mau kok nak Jev." teriak bu Murni yang sudah berdiri di belakang mereka.
Mereka pun membalikan tubuh nya dan menatap kagum kepada bu Murni yang terlihat cantik siang itu.
"Bu Murni cantik sekali," ucap Jev, sedangkan Jay hanya menatap Murni dalam diam, "Kamu masih cantik seperti dulu Mur." gumam bathin Jay.
"Makasih nak, kamu juga sangat tampan, apalagi bapak, tampan sekali."
"Sudah jangan saling memuji, sekarang kita berangkat, nanti terlambat lagi." ucap Jay dengan sedikit kesal, karena Murni tidak memuji nya.
"Wah, dia marah seperti nya." gumam bathin Murni sambil menatap Jay kekasih pertama nya.
__ADS_1