Bos Dan Aku

Bos Dan Aku
Khawatir


__ADS_3

"Kenapa tiba-tiba aku ingat sama Sandra ya? apa karena aku kangen sama Sandra karena semenjak itu aku belum bertemu dengan nya lagi, apa aku hubungi Ken ya?" gumam Ralin sambil mencari kontak Ken yang ada di ponsel nya.


Ken yang baru saja selesai meeting terpaku di ruangan nya, dia tiba-tba sangat mengkhawatirkan Sandra.


"Kenapa aku mengkhawatirkan Sandra, mudah-mudah han ngga terjadi apa-apa pada Sandra." gumam Ken sambil mencari kontak Sandra lalu menghubungi nya.


"Ah, kenapa kamu matikan ponsel mu San? mana aku ngga tahu lagi rumah nya dimana? ah, ****." ucap Ken sambil memukul meja kerja nya.


Ken pun berdiri menatap jendela kaca yang ada di ruangan nya, dia menatap bangunan tinggi yang ada di luar sana, tiba-tiba ponsel nya berdering.


Ken pun dengan gerakan cepat membalikan tubuh nya lalu meraih ponsel yang ia taro di atas meja kerja nya, dia pikir yang menghubungi nya adalah Sandra.


"Ya San, kamu dimana? kamu ngga apa-apa kan?" tanya Ken tanpa melihat siapa yang menghubungi nya.


"Ken ini tante Ralin." ucap tante Ralin menyadarkan Ken.


"Oh tante, saya kira Sandra." jawab Ken dengan sedikit lemas.


"Lo, memang nya Sandra ngga sama kamu Ken?" tanya tante Ralin.


"Ngga tante, soalnya Sandra lagi cuti satu minggu." jawab Ken.


Tante Ralin pun terdiam, dia sedikit kecewa dengan jawaban yang Ken berikan kepada dirinya.


"Halo tante, apa masih di situ? ada apa tante menghubungi Ken?" tanya Ken menyadarkan tante Ralin dari lamunan nya.


"Ah iya Ken, ngga kok ngga ada apa-apa, tante hanya kangen saja sama kalian, tante hanya mau tanya siapa tahu Ken bisa main lagi ke butik tante, soal nya ada baju keluaran terbaru buat Sandra, seperti nya cocok kalau dia yang pakai." tante Ralin pun memberikan alasan.


"Oh gitu ya tan, ya sudah nanti kalau Sandra nya sudah masuk kerja kembali Ken akan ajak ke butik tante lagi." jawab Ken.


"Oke Ken, makasih ya." jawab tante Ralin lalu menutup panggilan nya.


"Ya Tuhan semoga tidak terjadi apa-apa sama Sandra." gumam bathin tante Ralin sambil menatap poto Sandra yang waktu itu Lisna poto pakai ponsel nya.


Perasaan khawatir yang di rasakan oleh tante Ralin dan Ken pun sama dengan yang di rasakan oleh bu Adiriana.


"Kenapa aku merasa khawatir dengan Sandra ya? kenapa juga ponsel nya ngga bisa di hubungi."gumam bu Adriana.

__ADS_1


"Ada apa dengan kamu nak, ya Tuhan tolong jaga Sandra." gumam bu Adriana.


"Nak kamu dimana?" tanya bu Adriana yang langsung menghubungi Ken karena rasa khawatir nya kepada Sandra.


"Ken lagi di jalan pulang mah, kenapa?"tanya Ken.


"Ngga apa-apa nak, cuma mamah mau tanya ponsel Sandra kenapa ngga bisa di hubungi ya? apa dia ganti nomer?" tanya bu Adriana.


"Ngga mah, ngga ganti kok, mungkin dia lagi istirahat dan ngga mau di ganggu." jawab Ken.


"Mungkin juga ya, ya sudah kalau gitu kamu hati-hati ya nak." ucap bu Adriana.


"Iya mah." jawab Ken lalu mematikan ponsel nya.


*


*


Malam ini Jev dibuat kalang kabut karena tidak menemukan Sandra di kamar nya, terus ponsel nya ngga bisa dihubungi.


"Kamu dimana Dek? jangan buat kakak khawatir seperti ini." gumam Jev sambil terus menghubungi no Sandra.


Jev teringat dengan alamat Ken, karena waktu itu Sandra pernah memberitahu nya.


Jev pun pergi ke rumah Ken dengan harapan adik nya ada di sana.


Sepanjang perjalanan Jev terus mencari Sandra, barang kali Sandra ada di pinggir jalan sedang nongkrong dengan yang lain nya.


Sementara di kediaman Baron, Sandra sudah mulai mengerjapkan kedua mata nya.


"Saya dimana?" gumam Sandra sambil mengerjap-ngerjapkan mata nya lalu melihat ke sekeliling kamar.


"Kamu sudah sadar nak?" teriak Baron sambil menghampiri tempat tidur yang di tempati oleh Sandra.


"Saya dimana? tuan siapa?" Sandra pun mengulangi pertanyaan nya.


"Kamu ada di rumah saya nak, kemarin sore kamu pingsan setelah  mendapat pukulan dari seseorang." jawab Baron sambil menghampiri dan duduk di samping nya.

__ADS_1


Sandra mengingat yang terjadi lalu dia menyentuh bibir nya yang dirasa sakit.


"Aw." teriak Sandra sambil menyentuh bibir nya yang bengkak.


"Jangan banyak bicara dulu nak, sini saya kompres." ucap Baron sambil menempelkan kain hangat ke bibir dan pipi Sandra.


"Kenapa aku merasa pernah dekat dengan om ini ya? tapi dimana dan kapan ya?" gumam bathin Sandra.


"Kenapa aku merasa bersalah sama anak perempuan ini ya? padahal kan aku ngga pernah berbuat kesalahan pada nya dan juga ini kan pertemuan pertama aku dengan nya." gumam bathin Baron sambil mengompres luka Sandra.


"Bos ini sarapan nya sudah saya belikan." ucap Jay sambil memberikan kantung yang berisikan makanan.


"Anda sudah sadar nona?" tanya Jay sambil menatap ke arah Sandra.


Sandra hanya menganggukan kepalanya sedikit sambil menahan rasa sakit.


"Kita sarapan dulu, Jay sudah membelikan bubur terenak di sekitaran sini." ucap Baron sambil membuka bubur ayam yang di beli Jay.


"Biar saya makan sendiri saja tuan." ucap Sandra sambil  berusaha meraih bubur yang sedang di pegang oleh Baron.


Entah kenapa Baron merasa hati nya agak sedikit sakit ketika Sandra memanggil diri nya dengan panggilan tuan.


"Nak, bisa ngga kamu panggil saya dengan sebutan ayah." pinta Baron dengan wajah sendu.


"Ayah?" gumam Sandra sambil menatap wajah Baron, Sandra merasa ngga asing dengan wajah seorang pria paruh baya yang masih kelihatan tampan ini.


Baron merasa bahagia sekali ketika panggilan ayah keluar dari bibir nya Sandra.


"Tolong panggil sedikit keras nak." ucap Baron dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Sandra pun heran dengan keinginan Baron, Sandra melirik ke arah Jay, Jay yang selalu peka dengan keadaan pun langsung mengangguk kan kepala nya sambil tersenyum.


"Ayo nak panggil aku dengan panggilan ayah tapi yang sedikit keras." kembali Baron meminta di panggil ayah oleh Sandra dengan penuh harap.


"A, Ayah." ucap Sandra dengan terbata tapi sangat jelas di dengar oleh Baron dan Jay.


"Terimakasih nak, terimakasih banyak, ayah senang sekali mendengarnya." teriak Baron penuh dengan kebahagiaan.

__ADS_1


"Jay mulai sekarang aku ada yang manggil ayah, aku serasa hidup kembali, terimakasih Tuhan walaupun yang manggil ayah bukan lah anak kandung ku tapi aku sangat bahagia sekali." teriak Baron sambil menitikan air mata nya.


__ADS_2