Bos Dan Aku

Bos Dan Aku
Menemani


__ADS_3

"Ekhem." suara Ralin pun mengagetkan mereka berdua.


"Ibu, maaf bu, saya permisi mau beres-beres." ucap Lisna sambil berdiri dan pergi dari hadapan Ralin.


"Ya ampun ada apa dengan aku ini, untung saja ciuman itu belum terjadi, andaikan sudah terjadi dan bu Ralin melihat nya, mau di taro dimana muka ku ini." gumam bathin Lisna.


"Bu Ralin, maaf atas kelancangan saya tadi." ucap Jev sambil berdiri.


"Duduk saja pak Jev." ucap Ralin sambil duduk dihadapan Jev.


""Kelihatan nya ibu mau pergi? Oh ini waktunya pulang ya? Maaf bu, saya terlalu asik dan betah duduk di butik ibu sampai-sampai saya lupa waktu." ucap Jev.


"Gimana ngga lupa waktu kalau di sini ada perempuan yang bapak taksir." ucap Ralin sambil tersenyum.


"Bu, boleh ngga kalau di luar kerjaan jangan panggil saya bapak, soalnya saya berasa udah tua." protes Jev.


"Tapi saya merasa ngga enak kalau cuma panggil nama saja." ucap Ralin.


"Jangan merasa ngga enak, anggap saja saya ini anak nya ibu," ucap Jev sambil tersenyum.


"Baiklah nak, tapi kalau di depan pegawai kamu ibu panggil bapak ya?" ucap Ralin.


"Boleh bu, oh iya bu, apa saya boleh bertanya?" tanya Jev.


"Boleh nak ada apa?" Ralin pun balik bertanya.


"Pekerja yang bernama Lisna itu sudah punya kekasih apa belum?" tanya Jev sambil melirik ke arah Lisna yang lagi membersihkan ruangan.


"Sebelum saya menjawab pertanyaan bapak, eh pertanyaan kamu, saya mau bertanya dulu, apa kamu sudah punya kekasih atau istri?" tanya Ralin dengan serius.


"Saya belum punya kekasih apalagi istri." jawab Jev dengan jujur.


"Beneran? Masa sih ngga ada seorang wanita pun yang mau jadi kekasih kamu?" tanya Ralin.


"Jujur yang mau banyak bu, dan adik saya juga menyuruh saya untuk berumah tangga, tapi saya ngga mau berumah tangga dulu sebelum adik saya punya suami yang akan menjaga nya."


"Oh kamu punya adik? Kamu pasti sangat menyayangi adik kamu itu?"

__ADS_1


"Ya saya sangat menyayangi adik saya itu walaupun adik saya itu bukan adik kan." ucap Jev yang tidak meneruskan kalimat nya karena terdengar ponsel Ralin yang berdering.


"Maaf sebentar ya nak, saya angkat telepon dulu." ucap Ralin.


"Silahkan bu." jawab Jev.


Sambil menunggu Ralin yang sedang menerima telepon, Jev pun terus menatap Lisna tanpa kedip hingga membuat Lisna salah tingkah.


"Kamu sungguh wanita idaman, sudah cantik, rajin lagi." gumam bathin Jev sambil terus memandang Lisna.


"Apa sih kak Jev dari tadi lihatin aku terus." gumam bathin Lisna sambil curi-curi lirikan.


"Lis, seperti nya bos dari Barlin Textile itu menyukai kamu deh." bisik Reni.


"Apa sih kamu Ren, gimana kalau kedengaran sama kekasih atau istri nya, bisa-bisa aku di labrak nya." jawab Lisna pelan.


"Aku yakin kok kalau bos Barlin itu masih single, udah jangan mengulur-ngulur gas saja Lis aku mendukung kamu." ucap Reni.


"Kamu ini, sudah ah ayo kita siap-siap untuk pulang." ucap Lisna, Reni hanya tersenyum dan siap-siap untuk pulang.


"Maaf nak, sudah lama menunggu." ucap Ralin sambil kembali duduk di depan Jev.


"Pertanyaan yang mana ya nak?" tanya Ralin yang pura-pura lupa.


"Saya bertanya apa pekerja ibu sudah punya kekasih?" tanya Jev sekali lagi.


"Pekerja saya yang mana? Soalnya saya punya dua orang pekerja." jawab Ralin yang sengaja mengerjai Jev.


"Yang tadi bersama ibu." ucap Jev yang sedikit kesal dengan Ralin.


"Oh Lisna, dia itu anak sebatang kara dan ikut kerja dengan saya dari pertama saya mendirikan butik ini, dulu butik ini kecil, tapi lama kelamaan berkembang menjadi seperti sekarang, dan setahu saya Lisna memang belum punya pasangan." jawab Ralin.


"Bagus kalau begitu." gumam Jev yang masih bisa di dengar oleh Ralin.


"Bagus kenapa?" tanya Ralin sambil mengerutkan kening nya.


"Apa boleh saya mendekati nya? apa boleh saya lebih jauh untuk mengenal nya?" pinta Jev.

__ADS_1


"Kalau ibu sih boleh-boleh saja nak, tapi semua kembali pada diri Lisna, mau apa ngga nya di deketin nak Jev." ucap Ralin sambil tersenyum.


"Terimakasih bu, yang terpenting bagi saya restu dari ibu dulu, untuk ke depan nya biar itu jadi urusan saya." ucap Jev dengan bibir tersenyum lebar.


"Maaf mengganggu, bu kita berdua pulang dulu ya." pamit Lisna.


"Iya, hati-hati di jalan ya? Eh kamu bisa duduk dulu sebentar Lis?" tanya Ralin.


"Iya bu, ada apa?"tanya Lisna sambil duduk di antara Jev dan Ralin, sedangkan Reni pulang duluan.


"Saya ada janji malam ini dengan sahabat lama saya, sedangkan pak Jev masih betah di sini, apa kamu bersedia menemani pak Jev?" ucap Ralin sambil melirik kearah Jev.


"Pintar dan mengerti ternyata bu Ralin ini, makasih bu, sudah memberi waktu buat saya dan Lisna." gumam bathin Jev.


"Tapi kan ngga enak bu kalau nunggu di sini, ibu nya juga mau pergi keluar." ucap Lisna.


"Ya sudah kalau gitu gimana kalau kita pergi ke taman saja, kamu temenin saya dulu ya?" ucap Jev sambil tersenyum.


"Ya sudah kalau gitu kalian berdua jalan-jalan saja, sekalian nanti makan malam di luar, siapa tahu kalian ke depan nya lebih dekat lagi dan bisa bersama sama." ucap Ralin.


"Makasih banyak lo bu, atas izin nya." ucap Jev.


"Sama-sama nak, tapi ingat hanya satu pesan ibu, jaga harkat dan martabat Lisna sebagai perempuan." ucap Ralin.


"Baik bu, Insya Allah saya bisa menjaga nya, itu yang selalu mendiang ibu ucapkan pada saya dari kecil." jawab Jev.


"Jadi ibu kamu sudah tidak ada?" tanya Ralin.


"Iya bu semenjak saya dan adik saya masih kecil, makanya saya hanya tinggal berdua saja dengan adik saya, tapi sekarang kita tinggal bersama ayah angkat kita." jawab Jev.


"Ternyata kak Jev juga sama dengan aku, bedanya kak Jev punya seorang adik sedangkan aku ngga punya siapa-siapa." gumam bathin Lisna.


"Yang sabar ya nak, anggap ibu ini adalah ibu kamu sendiri." ucap Ralin.


"Iya bu, terima kasih." ucap Jev.


"Kalau begitu, ibu permisi karena takut telat nanti sahabat ibu ngomel lagi, Lis nanti kunci nya kamu ambil saja, ibu ada kok serep nya," ucap Ralin sambil berdiri dan meraih tas dan kunci mobil nya lalu pergi meninggalkan Jev dan Lisna.

__ADS_1


"Iya bu, kalau begitu mari kak kita juga diluar saja , soalnya ngga enak bu Ralin nya sedang keluar." ajak Lisna.


__ADS_2