
"Ayah kok lama ya bu? sudah hampir dua jam masa belum ketemu tukang sate nya?" tanya Sandra.
"Mungkin ada kerjaan dulu nak." jawab bu Murni.
"Mana kakak juga belum pulang, pada kemana sih mereka ini, ya sudah lah bu aku mending tidur saja." ucap Sandra dengan wajah cemberut nya.
"Ya sudah kalau begitu nak Sandra istirahat saja, perut nya masih sakit ya nak?" tanya bu Murni.
"Sudah tahu sakit masih nanya." gumam Sandra, karena kesal dengan ayah nya yang belum datang juga membawa sate pesanan nya bu Murni kena amarah Sandra.
"Maaf nak, kalau begitu ibu ke kamar dulu." ucap bu Murni.
"Ya." jawab Sandra singkat sambil memeluk guling nya.
Bu Murni tidak marah dengan sikap Sandra, karena dia seorang perempuan dan mengerti dengan keadaan Sandra yang memang kalau lagi datang bulan emosi suka tinggi.
"Kok pada sepi, udah pada tidur ya om?" tanya Jev yang baru masuk ke dalam rumah.
"Kamu dari mana saja? pasti habis dari rumah perempuan." ucap Jay.
"Wah om Jay ternyata pintar menebak nya, apa om Jay bisa meramal?" tanya Jev sambil duduk di samping Jay.
"Bukan om yang bisa meramal, tapi kelihatan muka nya fresh tidak seperti tadi pagi yang sedikit kusut, dan juga sejak kapan kamu pakai lipstik?" tanya Jay sambil menatap Jev.
Jev sepontan mengusap bibir nya, dan ternyata ada sisa lipstik Lisna yang nempel di bibir nya.
"Ya gitu deh om, sama seperti om aku malam ini lagi bahagia, orang yang aku suka ternyata dia juga menyukai aku." ucap Jev dengan bibir tersungging senyuman.
"Sekali-kali bawa kesini kenalkan sama kita semua." ucap Jay.
"Iya nanti aku bawa kesini dan aku kenalkan pada semua ya." jawab Jev.
"Eh nak Jev sudah pulang, dari tadi nak Sandra nungguin nak Jev pulang sampai-sampai dia marah." ucap bu Murni.
__ADS_1
"Kenapa marah bu? kan biasa nya juga aku kalau pulang malam ngga ditungguin." jawab Jev.
"Mungkin lagi kesal sama pak Baron di tambah lagi datang bulan, jadi emosi nya tinggi." jawab bu Murni.
"Memang nya apa yang sudah ayah lakukan hingga membuat adek marah?" tanya Jev.
"Tadi nak Sandra menginginkan sate, tapi sudah hampir dua jam pak Baron belum pulang juga." jawab bu Murni.
"Sudah di telepon belum bu?" tanya Jev.
"Belum nak, soalnya takut lagi bawa mobil jadi kita ngga ada yang menghubungi nya." jawab bu Murni.
"Ya sudah kalau gitu aku samperin adek dulu." ucap Jev sambil berdiri.
"Kalau bicara sama nak Sandra pelan-pelan dan hati-hati ya nak, soal nya dia lagi sensi." ucap bu Murni.
"Siap bu." jawab Jev lalu pergi meninggalkan Jay dan bu Murni.
"Mur, bagaimana kalau kita menikah? kita kan sama-sama sendiri, terus kita juga sama-sama saling mencintai, lebih baik kan kita menghalalkan hubungan kita dari pada seperti ini, kita kan bukan ABG lagi." ucap Jay.
"Beneran? baiklah kalau begitu minggu depan kita menikah." ucap Jay dengan penuh rasa bahagia.
"Lebih baik mas Jay bicarakan dulu sama pak Baron, bagaimanapun kita kan tinggal sama pak Baron, takut nya pak Baron lagi pas banyak kerjaan." ucap bu Murni.
"Ya nanti mas yang bilang ke bos." jawab Jay sambil meraih tangan Murni dan mencium nya.
"Mas malu ih, udah tua harus seperti ini." ucap Murni.
"Kita tua kalau di bandingkan jev dan Sandra, tapi kan kalau di bandingkan bos kita lebih muda dua tahun." jawab Jay sambil tersenyum.
*
*
__ADS_1
"Mas." panggil Ralin dengan suara yang tercekat karena menahan tangisan nya.
Baron yang sedang melangkah menuju mobil nya menghentikan langkah nya karena sepintas dia mendengar kalau Ralin memanggil nya.
Ralin yang sudah tidak tahan menahan rasa rindu yang menggebu kepada Baron pun melupakan sejenak wanita yang bersama Baron, dia berlari menghampiri Baron lalu memeluk nya.
"Mas, maafkan aku, apa semua yang mas ucapkan tadi benar?" ucap Ralin sambil memeluk tubuh Baron dari belakang.
Baron yang merasakan ada seseorang yang memeluk nya dari belakang dan dugaan nya adalah Ralin istri nya yang di rindukan pun langsung membalik kan tubuh nya dan memeluk erat balik Ralin dengan deraian air mata.
"Iya sayang, semua yang mas ucapkan semua nya benar, selama ini mas mencari kamu dan anak kita, maafkan kelakuan mas yang dulu sayang, mas terlalu terobsesi dengan anak laki-laki, tapi setelah kepergian kamu mas sangat menyesal, mas benar-benar menyesal." ucap Baron sambil menangis dalam pelukan Ralin.
"Kamu bawa kemana malam itu anak kita mas?" tanya Ralin sambil melepaskan pelukan nya dan di iringi deraian air mata yang terus mengalir di pipi nya.
Baron pun ikut melepasakan pelukan nya lalu bersimpuh dan bersujud di kaki Ralin.
"Maafkan mas sayang, mas sudah membuang anak kita, tapi begitu mas kembali ke tempat dimana mas membuang nya dan ingin membawa nya kembali dia sudah tidak ada." ucap Baron sambil bersujud dan memegang erat kaki nya Ralin.
"Kamu jahat mas, kamu tega memisahkan aku dengan anak ku, dimana hati nurani kamu mas." teriak Ralin sambil terus memukul pundak Baron dengan keras.
"Pukul aku sayang pukul sampai kamu puas, kamu bunuh mas pun mas rela, asal kamu memaafkan mas." ucap Baron yang masih bersujud.
Setelah puas memukuli Baron, Ralin pun berjongkok dan duduk diatas jalan sambil terus memukuli Baron.
"Kamu jahat mas, kamu jahat." ucap Ralin dengan deraian air mata nya.
Baron mengangkat wajah nya lalu kembali memeluk Ralin dengan erat.
"Selama puluhan tahun mas mencari kalian berdua, tapi mas ngga bisa menemukan kalian, dan saat ini mas bersyukur karena mas sudah di pertemukan dengan kamu sayang, meskipun kamu sudah mempunyai keluarga baru, tapi setidak nya sekarang mas sudah lega sudah bisa mengungkapkan permintaan maaf mas sama kamu." ucap Baron sambil meluk erat Ralin.
"Untuk apa mas mencari aku? apa hanya untuk meminta maaf saja dengan apa yang telah mas lakukan dulu sama aku dan anak ku? apa aku masih ada di hati kamu mas?" tanya Ralin.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu sayang, mas kan sudah bilang dari dulu kalau kamu adalah orang yang pertama dan terakhir yang ada di hati dan pikiran mas, kamu tidak akan tergantikan oleh wanita mana pun." jawab Baron sambil melepaskan pelukan nya.
__ADS_1
"Pembohong." ucap Ralin sambil berusaha berdiri.