
"Kalau menurut alamat yang di berikan Sandra waktu itu rumah nya ini deh." gumam Jev sambil menatap rumah besar milik pak Anthoni.
"Maaf tuan ada yang bisa kami bantu?" tanya kedua satpam yang lagi berjaga.
"Maaf pak, apa benar ini rumah nya saudara Kendrick?" tanya Jev dengan sopan.
"Oh iya benar tuan, ada keperluan apa tuan? dan anda apa nya tuan Ken?" tanya pak Dasep.
"Saya kakak nya Sandra, mau tanya kalau Sandra nya ada ngga ya pak?" tanya Jev.
"Oh non Sandra, dia udah ngambil cuti selama satu minggu, kalau ngga salah kemarin apa tadi pagi ya mulai nya, saya lupa." jawab pak Dasep.
"Sandra ngambil cuti?" teriak Jev sedikit kaget.
"Iya pak, tapi kalau bapak ingin bertemu dengan tuan Ken bisa saya antar kan tuan." ucap pak Dasep.
"Ngga perlu pak, terimakasih informasi nya, kalau begitu saya permisi." ucap Jev.
"Ya sama-sama tuan." jawab pak Dasep.
Jev pun pergi meninggalkan rumah besar pak Anthoni dengan hati yang tidak tenang, Jev melangkah dengan langkah gontai dengan pikiran yang benar-benar kosong.
"Kamu dimana dek? jangan buat kakak khawatir seperti ini." gumam bathin Jev sambil terus melangkah.
"Bu, maafkan Jev, Jev belum bisa menjaga adek dengan benar." Jev terus melangkah sambil bergumam, pikiran nya terus melayang ke sosok Sandra yang selalu dia jaga semenjak bayi.
*
*
Ngga jauh beda dengan Jev, Ken pun sedang melamun di kamar nya, dari semenjak siang tadi Ken kepikiran terus dengan Sandra.
"Ada apa dengan ku ini, kenapa dari siang aku teringat dengan Sandra, apa aku harus menerima tawaran dari mamah, kalau aku harus menikah dengan Sandra." gumam Ken sambil menatap pekat nya malam yang hanya di sinari oleh bulan dan bintang serta lampu-lampu yang menyala dari balkon.
"Baru juga sehari Sandra ngga masuk, aku sudah merindukan nya, tidak! kenapa aku jadi merindukan nya? ada apa dengan aku ini." Ken terus bergumam.
Ken mengambil ponsel nya dia buka lagi galeri poto yang ada di ponsel nya.
"Cantik." gumam Ken sambil menatap poto Sandra yang dia ambil secara diam-diam.
__ADS_1
"Apa benar kamu adalah jodoh yang sudah ditakdirkan Tuhan untuk ku." gumam Ken sambil mengusap layar pinsel nya seakan-akan dia sedang menyentuh wajah Sandra.
"****, ganggu saja, mau apa sih dia ini." gumam Ken sambil menerima panggilan dari Davin.
"Ada apa malam-malam hubungi gue?" tanya Ken.
"Kita tunggu di club, banyak barang baru masih pada seger." jawab Davin.
"Ngga, gue mau istirahat dan lo jangan pernah ngajak gue ke club lagi." ucap Ken dengan tegas.
"Ngga asik lo, semenjak lo dekat dengan Sandra lo sekarang susah untuk diajak minum." ucap Davin.
"Terserah lo, pokok nya gue udah ngga mau menginjak kan kaki gue lagi di club malam." ucap Ken lalu memutuskan panggilan nya.
"Yang aku butuh kan saat ini bukan kalian atau kesenangan, tapi yang aku butuh kan sekarang hanya Sandra." gumam Ken sambil melangkah masuk ke dalam kamar nya.
*
*
"Nama kamu siapa nak?" tanya Baron.
Sebenar nya Sandra senang banget bisa memanggil seseorang dengan panggilan ayah, dia berharap dari dulu bisa memanggil seorang pria paruh baya dengan panggilan ayah.
"Tidak apa-apa, pelan-pelan saja, nanti juga biasa kok, kamu jangan sungkan anggap saja ini rumah kamu ya nak." ucap Baron sambil tersenyum.
"Iya ayah, memang nya keluarga ayah pada kemana?" tanya Sandra yang memang tidak melihat istri dan anak Baron.
"Nanti juga kamu bakalan tahu, tapi untuk sekarang kita fokus pada kesehatan kamu saja, kenapa kamu bisa berantem dengan pria kemarin?" Baron pun mengalihkan pembicaraan nya, karena saat ini belum waktu nya orang lain tahu tentang kehidupan nya kecuali Jay.
"Saya juga ngga tahu dan ngga kenal mereka, tiba-tiba mereka berdua datang dan langsung menyerang saya." jawab Sandra.
"Jay kamu cari tahu orang yang kemarin memukul Sandra." perintah Baron pada Jay.
"Baik bos, kalau gitu saya permisi." ucap Jay dan langsung pergi meninggalkan Baron dan Sandra.
"Ya sudah kamu istirahat dulu, ayah mau ke toko sebentar, kamu jangan pergi kemana-mana." ucap Baron sambil menyelimuti tubuh Sandra.
"Ayah, apa aku boleh minta tolong?" tanya Sandra.
__ADS_1
"Boleh banget sayang, kamu mau di belikan apa nak?" tanya Baron.
"Aku minta tolong ayah benerin ponsel Sandra, soalnya Sandra mau kasih kabar sama abang Sandra." ucap Sandra sambil memberikan ponsel yang sudah mati dan retak akibat kena tendangan keras dari Bobi.
"Baiklah nak, nanti ayah kembali dengan membawa ponsel nya yang sudah bisa di gunakan kembali." jawab Baron sambil mengambil ponsel Sandra.
"Ya sudah ayah pergi dulu ya." ucap Baron sambil mencium kening Sandra lalu pergi meninggalkan Sandra sendirian.
"Ya Allah perasaan apa yang aku rasakan ini, kenapa aku merasa kalau dia adalah ayah kandung ku." gumam bathin Sandra sambil menatap punggung Baron yang mulai menghilang dari pintu kamar.
"Kenapa aku merasa kalau dia itu adalah anakku, dan aku merasa sangat bersalah kepadanya." gumam bathin Baron.
Baron pun terus melangkah keluar sambil menggenggam ponsel Sandra di tangan nya.
"Baiklah kalau begitu ayah akan belikan ponsel keluaran terbaru buat kamu." gumam Ken sambil mengemudi, karena Jay sedang melaksanakan tugas yang di berikan Baron untuk mencari tahu tentang Bobi.
Ken pun langsung menuju toko nya dan mengecek semua nya.
"Yang dari Lins fashioan itu ada datang ngga kemarin?" tanya Baron.
"Datang bos, mereka datang ngga lama bos pergi, dan mereka berharap suatu saat bisa bicara langsung sama bos, soalnya mereka ingin kerja sama dengan kita." jawab Sani.
"Oke kamu cari jadwal kosong saya untuk ketemu dengan mereka, hari ini saya cuma sebentar di sini, jadi laporan keuangan dan lain nya besok saja." ucap Baron.
"Baik bos." jawab Sani.
Baron pun langsung meninggalkan textile nya dan menuju ke sebuah mall untuk membeli ponsel keluaran terbaru buat Sandra.
Begitu sampai di mall, Baron langsung menuju sebuah counter yang sudah menjadi langganan diri nya.
"Siang bos, perlu ponsel baru?" tanya pelayan counter yang sudah kenal dengan Baron.
"Saya mau ponsel keluaran terbaru warna nya yang cocok buat unruk seorang gadis." jawab Baron.
"Baik bos, tunggu sebentar." jawab pelayan counter tersebut lalu mengambil ponsel yang di inginkan Baron.
Selagi menunggu pelayan counter mengambil ponsel nya, Baron melihat ke sekeliling mall dan dia melihat orang yang selama ia cari selama ini.
"Ralin." gumam Baron.
__ADS_1