Bos Dan Aku

Bos Dan Aku
Mengizinkan


__ADS_3

"Kamu jangan marah sama adik kamu, saya yang meminta dia memanggil ayah dan saya meminta nya untuk tinggal di sini, termasuk anggota keluarga kalian semua nya, saya tinggal di sini di rumah besar ini hanya seorang diri, saya memimpikan bisa kumpul kembali dengan istri dan anak saya." ucap Baron.


Saat ini Jev sedang berada di ruang keluarga dan baru kali ini ruangan itu terisi oleh orang lain selain dirinya.


"Bagaimana pun aku ngga tega melihat kebahagiaan di mata nya, apa aku jahat jika aku melarang nya." gumam bathin Jev sambil  menatap ke arah Sandra.


"Saya akan merasa bahagia bila kalian tinggal di sini semua nya, termasuk orang tua kalian, saya ingin menjaga Sandra karena Sandra telah mengingat kan saya pada anak kandung saya sendiri." ucap Baron kembali.


Sedangkan Jay hanya jadi pendengar setia saja, dia tahu kerapuhan hati bos nya itu.


"Saya tidak mau kejadian kemarin terulang lagi, kalau Sandra sama saya, saya yakin akan aman untuk diri nya, dan saya ngga akan merasa tenang kalau Sandra pergi dari rumah ini, karena menurut dari pengalaman saya, orang yang sudah menghajar Sandra kemarin pasti akan kembali lagi, entah dia pribadi yang mempunyai masalah dengan kalian, entah dia itu suruhan orang lain, tapi saya yakin mereka ngga bakal membiarkan Sandra lolos." ucap Baron lalu menghela nafas nya dengan kasar.


"Tapi kalau abang tidak mengizinkan nya, ngga apa-apa adek pulang sekarang bang." ucap Sandra dengan wajah sendu nya.


Sandra bukan sedih dan takut sama Bobi tapi dia sedih karena panggilan ayah yang dia impikan dari kecil akan kembali hilang, Sandra ngga tahu akan bisa bertemu lagi dengan Baron apa tidak.


"Semua yang di ucap kan om ini benar ada nya, bagaimana kalau Bobi dan anak buah nya kembali menyerang Sandra, sengga nya kalau di sini dia aman, kata Jay juga dulu nya om ini adalah seorang mafia, pasti dia bisa memperhitungkan semua nya." gumam bathin Jev.


"Ayah maaf kan aku sudah membuat ayah repot, dan terima kasih sudah menolong aku, maaf aku ngga bisa tinggal sama ayah, ayo bang kita pulang." ucap Sandra sambil berdiri.


"Dek, maafkan abang yang ngga bisa menjaga kamu dengan baik, abang sudah merasa bersalah pada almarhum ibu karena membiarkan kamu terluka seperti ini dan abang ngga mau sampai hati kamu pun ikut terluka, jadi abang izinkan kamu tinggal di sini." ucap Jev sambil mengusap lembut pundak Sandra.

__ADS_1


Sungguh bagaikan mendapatkan lotre bagi Baron setelah mendengar ucapan dari Jev.


"Beneran bang?" tanya Sandra dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Iya sayang, abang hanya ingin melihat kamu bahagia." jawab Jevrack.


"Makasih abang, hanya abang lah yang selalu ada buat adek, hanya abang lah yang mengerti adek." ucap Sandra sambil memeluk erat Jev.


Baron dan Jay yang melihat kedua saudara yang saling menyayangi itu pun menitikkan air mata nya.


"Andai saja aku bisa menolong kalian waktu itu, mungkin sekarang aku bisa seperti Jev dan adik nya." gumam bathin Jay sambil menghapus air mata nya, dia teringat dengan adik nya yg sudah tiada.


"Mereka saja saling menyayangi, kenapa aku dulu ngga bisa menerima anakku, aku memang sangat bersalah pada anakku terutama Ralin, aku terlalu egois dan terlalu ambisi ingin anak laki-laki dan menjadikan nya seperti aku nanti nya, tapi ternyata apa yang selalu ku inginkan dan yang selalu ku pikirkan semua nya salah dan menghancurkan hidup ku sendiri, kini aku hanya bisa menyesali nya, ya Tuhan sebelum aku kau ambil kembali, permintaan ku hanya dua saja, pertemukan aku dengan istri ku dan ke dua pertemukan aku dengan anakku, apapun nanti yang akan terjadi, mereka mau menerima aku atau pun tidak yang penting aku sudah bertemu dan meminta maaf sama mereka berdua." gumam bathin Baron.


"Ayah bahagia kalian mau tinggal di sini." jawab Baron sambil menghapus air mata nya dengan tisu.


"Makasih ayah sudah mau anggap aku sebagai anak ayah." ucap Sandra sambil memeluk Baron.


"Ayah yang mesti nya berterima kasih sama kalian terutama kamu nak, kamu sudah mau menganggap ayah sebagai ayah kamu, dan ini sungguh mengobati rasa rindu ayah pada anak ayah." ucap Baron sambil memeluk erat Sandra.


"Orang tua kalian juga bisa kalian bawa kesini." ucap Baron sambil melepaskan pelukan nya.

__ADS_1


"Maaf ayah orang tua kita sudah tidak ada, kita hidup berdua dari kecil." jawab Sandra sambil menunduk.


"Maaf kan ayah nak, kalau begitu kalian berdua tinggal di sini saja, ayah akan menjaga kalian berdua, dan buat kamu Jev, mulai sekarang panggil om dengan panggilan ayah, kalian berdua mulai sekarang anak ayah." ucap Baron sambil merentangkan ke dua tangan nya.


Jev pun menitikkan air mata nya, Jev sungguh terharu dengan keadaan sekarang, dimana mimpi Jev sejak kecil adalah bisa memeluk dan bermain bersama ayah nya seperti teman-teman nya, dan saat ini Jev serasa lagi di alam mimpi dan Jev tidak ingin bangun dari mimpi itu.


"Nak kemari lah, peluk ayah mu ini." panggil Baron dan membuyarkan lamunan Jev.


Dengan sedikit ragu Jev pun menghampiri Baron lalu masuk kedalam pelukan Baron.


Sandra dan Jev kini berada di dalam pelukan hangat Baron, mereka bertiga menumpahkan semua rasa yang ada di hati mereka diiringi deraian air mata.


Sandra dan Jev yang memang mengharapkan sosok seorang ayah hadir dalam kehidupan mereka, dan Baron yang sedang rindu terhadap anak nya, kini mereka ada dalam satu dekapan dan tanpa di sadari Baron atau pun Sandra kalau mereka adalah ayah dan anak kandung.


Jay yang melihat mereka sedang berpelukan sangat ingin sekali bergabung dengan mereka memeluk satu sama lain nya, tapi Jay tahu diri siapa diri nya untuk mereka terutama untuk Baron.


"Jay kenapa kamu nangis di situ sendirian? kamu ngga mau gabung sama kita?" tanya Baron sambil memeluk Jev dan Sandra.


"Apa saya boleh gabung bos?" Jay bukan nya menjawab pertanyaan dari Baron, dia malah balik bertanya dengan harapan apa yang dia dengar barusan bukan sebuah ilusi.


"Sini om gabung sama kita." ajak Sandra sambil tersenyum.

__ADS_1


Jay pun dengan senang hati berdiri dan bergabung memeluk mereka, tumpahlah air mata Jay dalam pelukan mereka.


Sungguh ini suatu kebahagiaan yang ngga di sangka-sangka oleh mereka berempat, kini rumah besar milik Baron pun di huni sama empat orang.


__ADS_2