
"Apa benar ayah sudah bertemu dengan istri nya." gumam bathin Sandra sambil tersenyum.
"Dek kenapa kamu senyum-senyum sendiri? Memang nya ayah barusan bilang apa?"tanya Jev yang penasaran, karena setelah mematikan ponsel nya Sandra malah senyum-senyum sendiri.
"Ternyata ayah terlambat pulang karena ayah bertemu dengan istri nya yang selama ini ayah cari bang." jawab Sandra.
"Serius dek?" ucap Jev yang merasa ikut bahagia.
"Iya bang, barusan ayah bilang dia akan berusaha ajak istri nya kesini." jawab Sandra sambil tersenyum.
"Pasti ayah sangat bahagia sekali bertemu dengan istri nya." ucap Jev.
"Orang yang sudah lama ngga bertemu dengan keluarga nya pasti akan sangat bahagia sekali nya bertemu, apa adek ada harapan untuk bertemu keluarga adek ya bang?" tanya Sandra dengan wajah sedih nya.
"Kakak yakin suatu saat kamu pasti akan di pertemukan dengan ibu dan ayah kamu dek." jawab Jev.
"Adek ngga yakin bang bisa bertemu dengan mereka, bagaimana abang bisa yakin kalau adek bisa bertemu dengan mereka sedangkan ngga ada petunjuk satu pun mengenai wajah dan ciri kedua orang tua adek." ucap Sandra dengan wajah sendu nya.
"Dek, dengarkan abang ya, Allah jika sudah berkehendak tidak ada yang tidak mungkin, adek akan bertemu dan berkumpul dengan keluarga adek, adek harus yakin, entah itu jalan nya dari mana, entah itu lewat siapa, tapi kalau sudah waktu nya pasti adek akan tahu dan bertemu dengan kedua orang tua adek." jawab Jev.
"Iya bang, tapi andai nanti adek bertemu dengan ayah dan ibu, adek seperti nya bingung bang, entah adek harus membenci mereka atau adek harus menerima mereka." ucap Sandra.
"Saran abang, adek harus mendengarkan penjelasan dari mereka dulu, mungkin mereka ada alasan membuang adek, atau bisa saja kan adek di culik terus di buang sama penculik nya." ucap Jev.
"Iya juga ya bang." ucap Sandra.
"Jadi cerita nya mau nunggu ayah pulang atau mau tidur?" tanya Jev.
"Mau nunggu ayah saja ah, adek ingin orang pertama yang menerima pelukan dari istri nya ayah." jawab Sandra sambil tersenyum.
__ADS_1
"Yakin sekali adik abang akan di peluk sama istri nya ayah." ucap Jev sambil mengacak-ngacak ramgut Sandra.
"Biarin berharap kan boleh bang, siapa tahu jadi kenyataan." jawab Sandra.
"Iya aja deh dari pada ngamuk, ya sudah kalau gitu abang mau mandi dulu ya dek" ucap Jev lalu pergi meninggalkan Sandra setelah mendapat sebuah anggukan dari Sandra..
*
"
"Bisa kita bicara di luar? aku ingin menyelesaikan masalah ini, rupanya kamu sudah salah paham." ucap Baron sambil berdiri di samping Ralin yang sedang duduk di dalam mobil.
"Salah paham yang mana? semua nya sudah jelas mas, jadi pergilah." jawab Ralin yang tetap dengan pendirian nya.
"Ayolah Sayang, please, beri aku kesempatan untuk bisa kita kembali seperti dulu lagi." ucap Baron sambil mensejajarkan pandangan nya dengan tatapan memohon nya
"Kembali? jelas-jelas kita ngga bisa kembali seperti dulu lagi mas, kamu ngga boleh menyia-nyiakan istri kamu di rumah, bagaimana pun aku juga seorang wanita yang akan merasa sakit jika suami sendiri ada yang mengambil nya, pasti yang akan di rasakan oleh istri mas sama seperti yang aku rasakan, jadi stop, kita sampai di sini dan ngga usah bertemu la, emm." ucapan Ralin terhenti karena Baron membungkam nya dengan sebuah ciuman, ciuman kerinduan.
Ralin yang awal nya terus berontak lama-lama menikmati nya, karena ngga bisa di pungkiri kalau Ralin juga sangat merindukan setiap sentuhan dari Baron.
Mereka pun terus bercumbu menghilangkan rasa kerinduan yang begitu mendalam, kedua nya terlena dengan kehangatan bibir mereka sampai-sampai kepala Baron kejedot pintu mobil bagian atas.
"Aduh." ucap Baron sambil melepaskan ciuman nya.
Ralin pun tersenyum melhat kepala Baron kejedot pintu.
Setelah ciuman nya terlepas muka Ralin berubah menjadi merah, ada rasa bahagia dan kesal pada diri nya, dia sangat bahagia karena bisa merasakan bibir Baron lagi, tapi dia juga kesal kenapa malah ikut menikmati nya.
"Bodoh kamu Ralin, kenapa kamu malah menikmati nya, ingat Ralin dia bukan milik kamu lagi sekarang." gumam bathin Ralin merutuki diri nya sendiri.
__ADS_1
"Masih sama seperti dulu, bibir kamu memang candu buat mas." ucap Baron sambil sedikit tersenyum, karena Baron merasakan masih ada cinta di hati Ralin untuk dirinya.
"Anggap saja itu ciuman kita yang terakhir." jawab Ralin sambil mengendalikan perasaan nya.
"Mas tidak akan membuat ini yang terakhir, tapi mas akan membuat ini adalah yang pertama dan tidak akan pernah berakhir kecuali mas sudah menghembuskan nafas terakhir." jawab Baron.
"Mas jangan egois, mas harus memikirkan istri mas juga." ucap Ralin.
"Mas yang harus memikirkan istri mas, atau kamu yang tidak bisa lepas dari suami kamu sekarang?" tanya Baron dengan wajah cemburu nya.
"Suami yang mana? suami yang sudah membuang anak nya hanya karena anak itu tidak diharapkan? suami yang selama ini tidak pernah mencari istri nya? egois kamu mas." jawab Ralin dengan penuh emosi, karena menurut Ralin Baron sudah menuduh nya tidak setia.
"Jadi, kamu tidak punya suami lagi?" tanya Baron dengan hati yang bahagia.
"Aku bukan mas yang sangat mudah melupakan janji suci yang pernah kita ucapkan dulu, aku bukan mas yang sudah melupakan aku dan menikah dengan wanita lain, aku akui kita berpisah sangatlah lama, mas seorang pria normal jadi mas sah-sah saja untuk menikah lagi, karena mas juga butuh seseorang yang berada di samping mas." ucap Ralin.
Baru saja mereka menyalurkan kerinduan mereka lewat sebuah ciuman, sekarang kembali berdebat dan bersitegang.
"Kamu salah sayang, semenjak mas kehilangan kamu, mas terus mencari kamu di setiap tempat yang pernah kita singgahi, mas mencari kamu tanpa lelah, bahkan mas selalu bolak balik ke rumah kita yang dulu dengan harapan mas bisa menemukan kamu, selama itu juga mas tidak berpikir untuk mencari wanita lain, karena di setiap langkah kaki mas hanya wajah cantik kamu yang selalu terbayang." ucap Baron sambil menatap wajah Ralin.
"Kalau memang hanya aku yang selalu ada di hati mas, terus wanita yang kemarin mas simpan di hati yang mana?" tanya Ralin.
"Wanita yang kemarin kamu lihat di mall memang sudah masuk ke dalam hati mas juga, entah kenapa mas sangat menyayangi dia, padahal mas baru bertemu dengan nya." jawab Baron.
"Kalau gitu nikahi saja wanita itu, hapus nama dan wajahku dalam hati mas." ucap Ralin sambil menahan sesak di dada nya.
"Tidak, kamu akan selalu ada di hati, jantung dan pikiran mas." ucap Baron.
"Tapi wanita itu?" ucap Ralin.
__ADS_1
"Wanita itu adalah anak angkat mas." jawab Baron yang membuat Ralin kaget dan hampir tidak percaya.