
"Bisa kamu jelaskan dengan semua ini LIn?" tanya bu Adriana sambil menatap tajam kepada Ralin.
"Nanti aku jelasin, sekarang kita makan dulu." jawab Ralin sambil menyuruh bu Adriana untuk duduk.
"Apa kabar mas, kemana saja selama ini?" tanya bu Adriana dengan sedikit masih kesal, dirinya kesal sama Baron karena mengingatkan dirinya akan kejadian puluhan tahun lalu yang menimpa sahabat nya.
Adriana memang baru satu kali bertemu dengan Baron, tapi dirinya masih mengingat wajah Baron.
Adriana juga kesal karena ternyata Sandra yang sedang dia cari bersama Ken ternyata ada di rumah Ralin sedang bercanda dengan sahabat nya itu, tanpa memberitahukan dirinya.
"Kabar saya baik, bagaimana kabar kamu dan suami kamu? ini anak kamu ya? tapi bukan nya anak kamu perempuan? atau kamu punya anak lagi?" ucap Baron sambil balik bertanya.
Sungguh pertanyaan Baron ini membuat luka yang sudah dia kubur dalam-dalam kembali muncul ke permukaan hingga membuat Adriana menahan emosi nya.
Semua yang ada di ruangan tersebut hanya diam ketika melihat wajah Adriana yang seperti lagi menahan emosi itu.
Suasana ruang makan seketika terasa mencekam semenjak kehadiran Adriana dan Ken, ditambah lagi roman wajah dari Adriana setelah mendengar beberapa pertanyaan dari Baron.
"Mas, bisa bertanya nya nanti saja setelah makan?" tanya Ralin yang merasakan aura mencekam dari sahabat nya.
"Ya sudah maaf kan aku." ucap Baron yang memang belum mengetahui yang sebenar nya.
"Siapa sih om ini?" gumam bathin Ken sambil menatap Baron.
"Apa kabar bu?" tanya Sandra sambil mengulurkan tangan nya.
"Kabar ibu lagi buruk." jawab Adriana sambil menerima uluran tangan dari Sandra.
"Sudah lah sekarang kita makan saja dulu, nanti setelah selesai makan kita bicarakan." ucap Ralin.
Ralin tahu makna dari ucapan Adriana sahabat nya itu, sedangkan Sandra hanya bisa diam dan melirik Ralin yang sedang memberi kode pada dirinya.
Mereka pun akhir nya makan dalam diam, tidak ada seoarang pun yang berani mengeluarkan kata-kata nya.
__ADS_1
"Sebenar nya mereka ini ada masalah apa sih, suasana nya jadi horor begini, padahal tadi kita tertawa dan pada bahagia." gumam bathin Lisna sambil menyantap makanan nya.
"Seperti nya diantara mereka lagi ada masalah, aku ngga boleh ikut campur, karena ini urusan mamah dan ayah." gumam bathin Jev.
"Kenapa aku merasa ada aura permusuhan ya, apa mungkin bu Adriana ini pernah ada hubungan dengan ayah." gumam bathin Sandra.
"Seperti nya Adriana masih menyimpan dendam sama mas Baron." gumam bathin Ralin.
"Ada apa sebenar nya dengan Adriana? apa pertanyaan aku tadi salah? perasaan pertanyaan aku ngga ada yang salah." gumam bathin Baron.
"Ada hubungan apa mamah sama om ini? apa om ini mantan mamah? aku ngga akan biarkan mamah di rebut orang lain." gumam bathin Ken.
"Kamu jahat Lin, kenapa kamu ngga bilang kalau sudah menemukan Sandra dan sudah bertemu dengan Baron, sebenar nya aku bahagia Baron sudah kembali sama kamu, tapi melihat Baron rasa sakit hati ku dan bayangan kamu yang lagi kesakitan kini muncul kembali." gumam bathin Adriana.
Mereka pun menghabiskan makanan nya dengan pemikiran masing-masing.
"Sayang kamu udah selesai makan nya?" tanya Jev sambil menatap ke arah Lisna.
"Sudah kok kak, emang nya ada apa kak?" Lisna pun balik bertanya.
"Bisa kak, yah, mah, tante dan semua nya saya permisi ke depan dulu." ucap Lisna.
"Apa aku ngga salah dengar? kenapa Lisna manggil meeka ayah dan mamah? apa Lisna anak nya Ralin yang dulu Baron buang." gumam bathin Adriana sambil menatap Lisna dan Ralin.
"Lin, apa dia itu anak kalian? kenapa dia memanggil kalian ayah dan mamah?" tanya Adriana sambil menatap punggung Lisna yang sedang berjalan keluar.
"Bukan Na, ya sudah kita ke ruang depan aja, nanti aku ceritakan semua nya, Sandra kamu juga ikut ya nak?" ucap Ralin.
"Iya mah." jawab Sandra.
Adriana dan Ken semakin kaget di buat nya ketika medengar panggailan Sandra kepada Ralin.
"Kamu." ucap Adriana dan Ken bersamaan sambil menatap Sandra.
__ADS_1
"Sudah sekarang kita ke ruang depan saja dulu, nanti kalian berdua akan tahu kebenaran nya, ayo mas." ucap Ralin sambil berdiri.
Adriana dan Ken pun saling menatap tak mengerti, lalu mengikuti langkah Ralin yang sudah lebih dulu pergi ke ruang depan.
"Kak, seperti nya mereka lagi ada masalah di masa lalu ya? wajah bu Adriana juga kelihatan tidak bersahabat." ucap Lisna yang kini sudah duduk di kursi depan butik.
"Kakak juga ngga tahu ada masalah apa diantara mereka, yang jelas kita ngga boleh ikut campur karena semua itu bukan hak kita, tapi kalau mereka menyakiti Sandra, kakak ngga bisa diam saja." jawab Ken sambil melirik ke dalam.
"Sama Sandra yang adik angkat saja kak Jev sangat sayang, apalagi sama istri dan anak nya nanti ya." gumam bathin Lisna sambil menatap Jev dengan bibir tersenyum.
"Kenapa kamu menatap kakak seperti itu? kakak tampan ya?" tanya Jev sambil memainkan kedua alis nya.
"Yey kegeeran." jawab Lisna sambil mengalihkan pandangan nya.
"Bilang aja iya, biar hati kakak bahagia." ucap Jev sambil menatap wajah cantik Lisna.
"Iya deh kakak memang pria tertampan yang pernah aku temui dan yang selalu ada di hati dan pikiran aku." ucap Lisna sambil kembali menatap wajah tampan Jev.
"Nah gitu dong, kamu juga cantik bahkan lebih cantik dari pertama kita bertemu malam itu." ucap Jev sambil menyentuh kedua pipi Lisna.
"Apa kakak sudah yakin dengan hati kakak menjadikan aku pendamping hidup kakak untuk selamanya?" tanya Lisna.
"Kakak sangat yakin sekali, karena selama ini belum ada yang bisa meluluhkan hati kakak kecuali kamu dan Sandra, kakak ngga bisa marah sama Sandra, jadi apapun yang terjadi kakak akan selalu mempertahankan Sandra sebagai adik kakak." jawab Jev dengan serius.
"Kalau misalkan harus memilih, kakak akan milih aku atau Sandra?" tanya Lisna.
"Jangan suruh kakak memilih diantara kalian berdua, karena kalian berdua posisi nya sama di hati kakak." jawab Jev.
Betapa bahagia nya hati Lisna di cintai dan di sayangi oleh Jev, lelaki tampan yang terlihat sedikit garang tapi penyayang.
"I Love U Hunny." ucap Lisna lalu mencium pipi Jev dengan lembut dan penuh cinta.
"I Love U to." jawab Jev lalu mencium seluruh wajah Lisna dan terakhir singgah di bibir merah milik Lisna.
__ADS_1
Mereka pun terus mencurahkan rasa cinta kasih dan sayang mereka lewat cumbuan mereka, hingga mereka lupa tempat dan lupa segalanya.