Bos Dan Aku

Bos Dan Aku
Sadar


__ADS_3

Kini Adriana sedang terbaring di salah satu kamar rumah sakit, dia belum sadar kan diri.


Anthoni bersama Ralin menunggu di luar ruangan dengan harap-harap cemas.


"Sekali lagi saya minta maaf mbak, tadi saya lagi buru-buru soalnya pengasuh anak saya telepon kalau anak saya Ken ngamuk lagi." ucap Anthoni.


"Kita jangan saling menyalahkan pak, ini sebuah kecelakaan, mungkin bapak lagi buru-buru, dan sahabat saya juga tidak melihat ada nya mobil." jawab Ralin bijak.


Ponsel Anthoni pun kembali berdering, dan lagi-lagi dari pengasuh nya.


"Iya bi, saya sebentar lagi sampai." ucap Anthoni sambil melirik ke arah Ralin.


"Kalau bapak harus pulang, pulang saja pak, ngga apa-apa, biar Adriana saya yang jaga." ucap Ralin.


"Iya ni mbak, anak saya ngamuk lagi, semenjak di tinggal ibu nya, emosi dia sulit untuk di kontrol, sampai saat ini saya sudah beberapa kali ganti pengasuh untuk anak saya." ucap Anthoni.


"Mungkin anak bapak butuh perhatian yang ekstra dari bapak, jadi dia bikin ulah, ya sudah bapak pulang aja, terima kasih bapak sudah antar sahabat saya kesini." ucap Ralin.


"Maaf ya mbak, tapi nanti saya balik lagi kesini kalau anak saya sudah tenang, dan satu lagi mbak ngga usah khawatir masalah biaya rumah sakit, semua sudah saya bayar." ucap Anthoni lalu pergi meninggalkan Ralin.


Anthoni pun pergi dengan perasaan kacau, di satu sisi dia harus menenangkan anak nya yang selalu ngamuk, di satu sisi dia merasa bersalah kepada Adriana.


"Aku harus balik lagi kesini dan memastikan kalau perempuan itu ngga kenapa-kenapa." gumam Anthoni.


Anthoni pun melajukan mobil nya dengan sedikit kencang hingga tidak membutuhkan waktu lama dia akhirnya sampai di rumah besar nya.


Terdengar suara Ken yang masih ngamuk sampai keluar rumah, Antoni pun berlari masuk ke dalam rumah nya.


"Ken, ada apa? kenapa lagi hah?" tanya Anthoni yang baru masuk.


"Maaf tuan, Den Ken tidak mau makan dan tidak mau mandi, terus ngamuk sampai barang-barang di banting nya." ucap pengasuh Ken sambil menunduk.


"Ken, kenapa kamu ngga mau makan dan mandi? kalau Ken ngga makan nanti Ken sakit." ucap Anthoni sambil meraih Ken ke dalam pelukan nya.


"Ken hanya mau makan dan mandi sama mamah saja, Ken kangen mamah pah." teriak Ken sambil menangis.


"Ken, dengarkan papah, mamah sudah ngga ada sayang, jadi papah harap Ken mengerti dengan semua ini, sekarang begini saja, Ken mau ikut papah ngga ke rumah sakit, papah akan kenalkan sama teman papah." ucap Anthoni sambil membelai lembut puncak kepala Ken.


"Mau pah, tapi beli jajanan yang banyak ya?" ucap Ken dalam isak tangis nya.

__ADS_1


"Ya sudah kalau Ken mau ikut sama papah, Ken harus mandi dan makan dulu." ucap Anthoni.


"Ken mau mandi, kalau makan Ken mau KFC aja." jawab Ken.


"Ya sudah kalau gitu sekarang Ken mandi, papah juga mau mandi, habis mandi kita berangkat." ucap Anthoni.


Akhir nya Ken pun pergi ke kamar nya dan melakukan ritual mandi nya, Ken yang sudah berumur sepuluh tahun sudah ngga mau di mandikan sama siapa pun,


Sekitar lima belas menit akhir nya anak dan ayah itu sudah tampan dan sudah segar dan siap untuk pergi.


"Gimana nak, udah siap belum?" tanya Anthoni sambil membuka pintu kamar Kendrick.


"Sudah pah, ayo kita berangkat." ajak Ken dengan semangat.


Anthoni pun tersenyum melihat anak nya yang sangat bersemangat sekali untuk pergi.


*


*


Setelah Anthoni pergi, Ralin pun masuk ke dalam ruangan, lalu dia mendekati sahabat nya yang lagi terbaring tak sadar kan diri.


Suidah hampir dua jam dari kepergian Anthoni, Ralin terus berdo*a agar Adriana secepat nya sadar.


Perlahan tangan Adriana pun bergerak lalu pelan-pelan mata nya terbuka.


Yang pertama Adriana lihat adalah langit-langit yang putih, lalu melirik ke arah tangan nya yang sedang di genggam oleh Ralin sahabat nya.


"Lin, aku dimana?"tanya Adriana dengan suara lemah nya.


"Na, kamu sadar, ya Allah terimakasih engkau telah mengabul kan do*a ku." teriak Ralin sambil mencet bel untuk memanggil suster jaga.


"Ada yang bisa saya bantu bu?" tanya seorang suster yang baru masuk.


"Suster, sahabat saya sadar sus." teriak Ralin dengan wajah bahagia nya.


Suster pun langsung memeriksa Adriana dan memanggil dokter untuk memastikan nya.


"Alhamdulilah akhirnya ibu sudah sadar, sekarang apa yang ibu rasakan?" tanya dokter sambil memeriksa Adriana.

__ADS_1


Sedikit pusing dan sakit di bagian perut." jawab Adriana sambil meringis.


"Ibu masih harus di rawat beberapa hari di sini, sampai kondisi ibu benar-benar sembuh total." ucap dokter pada Adriana.


"Tapi ngga ada yang fatal kan dok?" tanya Ralin.


"Nah itu yang akan saya bicarakan sama ibu, jadi begini bu, karena benturan yang sangat keras pada perut bu Adriana, dan ternyata kena dinding trahim nya ibu Adriana, dan menyebabkan rahim nya harus diangkat," ucap dokter.


"Apa dok! jadi rahim Adriana di angkat? berarti Adriana." ucap Ralin sambil menitik kan air mata nya dan dia tidak melanjutkan lagi kata-kata nya.


Adriana pun menangis begitu mendengar penuturan dari dokter.


"Jadi dia ngga bakalan punya anak lagi." gumam bathin Anthoni yang tidak sengaja mendengar perbincangan antara dokter dan Adriana.


"Seandainya kamu mau, aku akan mendampingi hidup kamu untuk selama nya." gumam bathin Anthoni.


"Pah, kok malah melamun, katanya mau ngenalin Ken sama teman nya papah itu." ucap Ken sambil menggoyangkan tangan Anthoni.


"Ah, iya nak, ayo kita masuk." ucap Anthoni sambil mengetuk pintu.


Ralin pun membuka kan pintu dan melihat siapa yang mengetuk pintu.


"Oh pak Anthoni, ayo pak silahkan masuk." ucap Ralin sambil membuka lebar-lebar pintu ruangan.


"Makasih, ayo nak masuk." Anthoni pun masuk sambil menarik tangan nya Ken.


Adriana yang mendengar ada suara seorang pria pun melirik ke arah pintu masuk.


"Siapa laki-laki ini." gumam bathin Adriana sambil menatap kearah Anthoni.


"Na, ini pak Anthoni, yang tadi nabrak kamu sekaligus yang membawa kamu kesini." ucap Ralin.


"Maaf kan saya mbak, saya ngga sengaja, tadi saya lagi buru--buru dan ngga melihat kearah depan." ucap Anthoni.


"Ngga apa-apa pak, ini juga kesalahan saya kok, saya memang ingin mengakhiri hidup saya." ucap Adriana.


"Mamah, jangan tinggalin Ken lagi ya? Ken kangen mamah." teriak Ken sambil memeluk Adriana.


Adriana kaget karena ada seorang anak yang menangis dalam pelukan nya dan memanggil dirinya dengan panggilan mamah.

__ADS_1


__ADS_2