
"Abang! Abang juga di sini." teriak Sandra sambil menatap Jev kakak nya.
"Iya dek, tempat nya indah ya dek, bikin kita betah." ucap Jev yang kini sedang duduk di sebuah taman yang indah.
"Bener banget bang, seperti nya adek betah tinggal di sini."
Mereka berdua berada di suatu tempat yang sangat indah, hingga mereka berdua betah dan ngga mau kembali lagi.
"Memang nya adek ngga kangen sama mamah dan ayah?" tanya Jev.
"Sebenar nya adek kangen mereka bang, tapi adek juga ngga mau meninggalkan tempat ini, tempat ini terlalu sayang kalau di tinggalkan, tempat ini indah dan membuat adek nyaman."
"Tapi di sini takut dek, coba adek lihat, ngga ada penghuni lain selain kita berdua."
"Iya juga sih ya bang, tapi adek ngga akan takut karena ada abang di sini yanga akan menemani adek."
"Abang akan menemani adek, sampai adek bosan dan ingin kembali pulang."
"Bang, dengar deh seperti nya itu suara kak Lisna, ternyata kak Lisna sudah berani panggil abang dengan panggilan sayang ya."
"Iya dek, jarang-jarang lo dia mau manggil abang dengan panggilan sayang, biasa nya juga panggil kak Jev."
"Sudah bang samperin aja sana."
"Ngga ah dek, abang masih ingin menemani adek."
Jev pun terus bercengkerama dan bercanda dengan Sandra tanpa menghiraukan Lisna yang terus-terusan memanggil nya.
"Bang dengar deh, seperti nya kak Lisna lagi berantem dengan mamah." ucap Sandra sambil menajamkan pendengaran nya.
Jev pun menajamkan kedua telinga nya, Jev bingung entah harus bagaimana, di satu sisi dia ingin menemani Sandra adik nya, di satu sisi dia ingin menemui kekasih nya.
"Sudahlah bang, abang temui kak Lisna sana." ucap Sandra.
"Tapi kamu dek." Jev benar-benar bingung di buat nya.
"Sudahlah bang, jangan ada tapi-tapian, abang dengar, kak Lisna mau nikah sama mantan nya karena abang tidak mau menghampiri nya, apa abang rela kak Lisna menikah dengan pria lain?"
Sandra pun menatap Jev, terlihat wajah bingung Jev di depan mata nya.
"Bang, dengarkan adek, sekarang abang temui kak Lisna dan mamah, adek masih betah di sini, adek janji kalau sudah waktu nya adek akan pulang dan menemui kalian semua nya.
"Dek."
__ADS_1
"Bang, percaya sama adek, ayo sekarang abang temui mereka."
Dengan berat hati Jev pun meninggalkan Sandra di taman itu sendirian, sebelum Jev benar-benar pergi, Jev sempat melirik ke arah Sandra, terlihat Sandra tersenyum sambil mengangguk kan kepala nya.
"Sa_yang." ucap Jev sambilmenggerak kan jari-jari nya.
"Mah, kak Jev sadar mah." teriak Lisna sambil menatap wajah Jev dengan linangan air mata nya.
"Abang."
"Jev.
Teriak Ralin dan Baron, Ralin langsung menghampiri Jev, sedangkan Baron langsung menekan bel untuk memanggil suster dan dokter.
"Nak, kamu sudah sadar sayang." ucap Ralin sambil menyentuh kedua pipi Jev.
"Aw, sakit mah." ucap Jev dengan nada yang masih lemah.
"Maafkan mamah sayang, mamah terlalu bahagia melihat kamu sudah sadar."
"Kak, terima kasih sudah mau bangkit dan sadar untuk ku." ucap Lisna sambil menangis.
Jev hanya tersenyum sambil menatap wajah sedih Lisna, ingin rasanya Jev langsung memeluk dan mencium nya, tapi tubuh nya masih lemah dan pada sakit akibat dari pukulan Bobi.
"Iya mah, aku hanya berbohong agar kak Jev cepat sadar."
"Terima kasih sayang, maafkan mamah tadi yang sempat emosi karena ucapan kamu." ucap Ralin lalu mencium kedua pipi Lisna.
"Ngga apa-apa mah, Lisna juga sengaja biar mamah dan semua nya terpancing emosi sehingga kak Jev berjuang untuk sadar dan kembali kepada kita."
"Maafkan tante juga ya Lis."
"Iya tante, ayah." Lisna pun memeluk satu persatu himgga dirinya kembali mendekat ke arah Jev.
"Terima kasih sayang." bisik Lisna lalu mencium telapak tangan Jev dan kening Jev.
""Permisi, bisa menjauh sebentar, saya akan memeriksa nya." ucap Dokter dan tiga perawat yang akan membantu memeriksa Jev.
Mereka pun duduk di sofa untuk memberikan ruang kepada dokter dan ketiga perawat untuk memeriksa Jev.
Dokter dan perawat itu pun memeriksa Jev dengan sangat serius.
Terlihat dokter menghampiri mereka setelah selesai memeriksa kondisi Jev.
__ADS_1
"Bagaimana dok?" tanya Ralin yang sudah ngga sabar dengan hasil pemeriksaan nya.
"Sampai saat ini kondisi nya baik, dan Alhamdulilah dia sudah melewati masa kritis nya dan kembali pada kita, tapi ke depan nya biarkan dia istirahat full, jangan di sibuk kan dulu dengan kerjaan, karena kondisi pasien yang masih lemah dan masih membutuhkan banyak amunisi dan vitamin."
"Baik dok, terus bagaimana dengan Sandra?" tanya Baron.
"Saya sudah melihat hasil semua pemeriksaan pasien yang bernama Sandra, Alhamdulilah tidak ada yang Fatal."
"Terus kalau tidak ada yang Fatal, kenapa sampai sekarang anak saya belum sadar juga dok?" tanya Ralin.
"Itu efek dari benturan dan mungkin fisik dia yang lagi lemah jadi membuat dia tidak sadarkan diri, kita pasrahkan sama yang maha kuasa, dan terus lah berdo*a agar dia di beri kesadaran secepat nya, dan kami akan berusaha memberikan pelayanan yang terbaik buat pasien."
"Baik dok, terima kasih atas penjelasan nya." ucap Baron.
"Baik, kalau begitu saya permisi, ingat berikan makanan yang sehat dan bergizi buat pasien agar cepat pulih."
"Baik dok."
Dokter pun keluar kembali bersama ketiga perawat nya meninggalkan ruangan.
"Kakak tunggu dulu ya? Aku akan beli makanan ke kantin." ucap Lisna.
"Permisi bos, saya mengantarkan Murni membawa makan siang buat kalian semua nya." ucap Jay sambil membuka pintu ruangan.
"Nak Jev? Kamu sudah sadar." teriak Jay lalu menghampiri Jev.
"Makasih bu, sudah mengantarkan makanan buat kami." ucap Ralin sambil membantu bu Murni menata makanan di atas meja.
"Sama-sama bu, maaf saya baru sempat kesini." ucap bu Murni.
"Ngga apa-apa bu."
"Nak, ini ibu bawakan makanan kesukaan kamu lo, bangun ya nak? Nanti ibu buatkan puding kesukaan nak Sandra." ucap bu Murni sambil mengusap air mata nya.
Dia sangat sedih melihat keadaan Sandra seperti itu, dia sudah terlanjur sayang dan sudah menganggap Sandra sebagai anak kandung nya.
"Do*a kan Sandra cepat sadar ya bu." ucap Ralin.
"Tentu bu, ayo semua nya pada makan dulu, saya yakin semua nya belum pada makan." ucap bu Murni.
"Kalau begitu saya permisi kembali ke tekstile, ayo Mur kita kembali, soalnya saya mau ada meeting setelah jam makan siang." ajak Jay.
Bu Murni sama Jay pun kembali pulang setelah sedikit berbincang dan menata makanan nya.
__ADS_1