
Pagi ini Sandra bangun dengan tubuh yang lebih segar dari kemarin, lebam-lebam di wajah nya pun kini tinggal sedikit lagi, Sandra tersenyum ketika dirinya membuka mata, ternyata dia berada di pelukan Ralin.
"Mah, maafkan aku yang belum bisa menerima ayah, aku merasa kecewa dengan kelakuan ayah kepada aku dulu, semoga mamah mengerti dengan posisi aku, mah ini lah yang selalu aku impikan dari dulu, bangun yang pertama kali di lihat adalah wajah cantik mamah, aku ingin selalu berada dalam pelukan mamah, pantas saja pertama kali kita bertemu di butik waktu itu aku merasakan perasaan yang berbeda, aku selalu nyaman dekat dengan mamah, walaupun mamah hanya menggenggam tangan aku saja,aku sayang mamah." ucap Sandra sambil membelai lembut pipi Ralin.
"Mamah juga sayang banget sama kamu sayang." ucap Ralin sambil memeluk erat tubuh Sandra.
Sebenar nya Ralin sudah bangun dari tadi, cuma Ralin masih merasa nyaman memeluk Sandra.
"Mamah sudah bangun?" tanya Sandra.
"Mamah sudah bangun dari tadi, bahkan dari sebelum kamu bangun." jawab Ralin sambil menatap wajah cantik anak nya yang selama ini dia cari.
"Jadi mamah mendengar semua ucapanku tadi dong?"
"Dengar sayang, mamah sih terserah kamu mau bersikap bagaimana sama ayah kamu, tapi kamu juga harus ingat juga sama semua kebaikan ayah sama kamu. selama puluhan tahun ayah hidup dengan penyesalan nya, dia juga sama menderita seperti kita" ucap Ralin sambil membelai rambut Sandra.
"Tapi kan penyesalan yang ayah lakukan itu karena kelakuan ayah sendiri, karena perbuatan ayah sendiri, jadi wajar ayah merasakan penderitaan nya, aku juga dari bayi hidup menderita, dan hanya ada abang yang selalu menjaga aku, dia sampai berkelahi hanya untuk melindungi aku, pernah waktu kecil aku di ejek sama teman-teman karena aku ngga punya ayah, aku sampai nangis karena aku sakit hati, siapa yang menolong aku? cuma abang yang selalu ada buat aku, seandainya saja waktu itu abang sama ibu ngga menemukan aku, mungkin aku sudah tiada." Sandra langsung terdiam ketika telunjuk Ralin menempel di bibir nya.
"Stop, jangan bicara seperti itu, sekarang kita sudah berkumpul kembali, kita akan selalu bersama-sama dan bahu membahu menjalani kehidupan ke depan nya."
"Tapi aku belum siap untuk bertemu ayah mah, aku masih merasakan kecewa dan sakit hati."
"Ya sudah kalau kamu memang belum siap, mudah-mudahan secepat nya kamu bisa menerima ayah ya sayang." ucap Sandra lalu mencium kening Sandra, Sandra hanya terdiam sambil memeluk Ralin.
"Sudah ayo kita bangun, kamu mau mandi sendiri atau mamah mandiin?"
"Sebenar nya ingin sekali di mandiin mamah, tapi kan aku sudah besar mah, malu lah."
__ADS_1
"Ngga usah malu, kan mamah ini mamah kandung kamu sayang."
"Ngga ah, aku mau mandi sendiri saja." Sandra pun turun dari tempat tidur, lalu pergi ke kamar mandi.
*
*
Pagi ini Baron sama sekali ngga mau keluar kamar, dia masih betah dengan lamunan-lamunan nya, sesekali dia mengusap air mata nya yang masih keluar.
"Mas, pak Baron kok ngga keluar-keluar dari kamar ya? Ini kan jam sarapan." ucap bu Murni.
"Mash tidur kali Mur, ya sudah nanti kamu kasih dia sarapan ke kamar nya saja, aku mau ke textile."
"Hati-hati ya mas."
"Pak, ini sarapan nya saya bawakan." ucap bu Murni sambil terus mengetuk pintu kamar Baron.
"Nanti saja bu, biar saya ambil sendiri." jawab Baron dari dalam kamar.
Bu Murni pun kembali ke dapur membawa lagi makanan nya, "Kasihan pak Baron, tapi ya mau bagaimana lagi, itu juga karena kesalahan nya sendiri nak Sandra jadi seperti sekarang.
*
*
"Mah, tahu tidak kabar nya Sandra?" tanya Ken sambil duduk di kursi makan nya.
__ADS_1
"Sandra sudah sadar kan? Sudah tahu lah." jawab Adriana sambil tersenyum.
"Jadi mamah juga sudah tahu? Kenapa mamah ngga bilang sama Ken?"
"Karena Sandra yang meminta mamah untuk tidak memberitahukan kamu sayang, bahkan mamah sudah tahu kalau Sandra itu sebenar nya anak kandung Ralin dan mas Baron.
"Jadi mamah sudah tahu semuanya? Sungguh tega nya mamah tidak memberitahu aku."
"Sudah lah yang penting kan sekarang kamu juga sudah tahu, sekarang fokus sama kerjaan kamu, biar kamu punya modal buat ngelamar Sandra, secara kamu tahu Sandra siapa sekarang, masa kamu ngga bawa apa-apa untuk melamar anak pengusaha textile." ucap pak Anthoni.
"Kalau cuma untuk melamar sudah ada dong pah."
"Tapi setelah melamar kan ada pesta pernikahan, setelh pesta pernikahan ada seorang istri yang kamu ambil dari kedua orang tua nya yang harus kamu kasih segala kebutuhan nya, setelah punya anak kamu harus membiayai sekolah dan memenuhi segala kebutuhan nya, perjalanan hidup masih panjang nak, jadi selagi muda kamu harus semangat bekerja agar tua nanti kita tidak kekurangan."
"Benar apa yang di bilang papah nak, mulai sekarang kamu ngga boleh main-main lagi, kamu harus fokus sama diri kamu dan masa depan kamu."
"Iya pah, mah, mulai sekarang Ken akan bersungguh-sungguh dalam bekerja dan Ken akan mengembangkan lagi perusahaan papah." ucap Ken dengan sungguh-sungguh.
Betapa bahagia nya hati pak Antoni dan bu Adriana, semenjak kehadiran Sandra, sedikit demi sedikit sikap dan perilaku Ken berubah.
Mereka pun menyantap sarapan nya dengan penuh kebahagiaan, Ken pergi dengan wajah ceria dan segar serta senyuman yang mengembang di bibir nya.
"Senang ya pah, melihat Ken bahagia seperti itu, mamah jadi ngga sabar ingin segera menikahkan mereka." ucap bu Adriana sambil menatap punggung Ken yang mulai menghilang di balik pintu.
"Sabar mah, Sandra nya juga baru sadar masa kita langsung melamar nya."
"Mamah sudah ngga sabar pah, ingin cepat punya cucu, ngga kebayang rumah kita nanti nya akan ramai sama anak-anak." ucap bu Adriana sambil tersenyum.
__ADS_1
Pak Anthoni hanya tersenyum mendengar keinginan istri nya, sebenar nya dalam hati pak Antoni juga menginginkan hal yang sama dengan istrnya, tapi dia hanya pendam di dalam hati nya.